Ramadhan, Stasiun Kita Menuju Surga (Bag.2)

surga

Oleh: Tate Qomarudin*
Sangat bagus ilustrasi yang digunakan Dr. Ahmad Qadiry Al-Ahdal tentang Ramadhan: Ramadhan Mahaththatus-safari ilal-jannah (Ramadhan adalah stasiun perjalanan menuju surga). Dari berbagai keterangan, baik Al-Quran maupun sunah, dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin seseorang dapat mereguk nikmat surga tanpa singgah di stasiun yang bernama Ramadhan. Mari kita cermati beberapa penjelasan Allah dalam Al-Quran berikut ini.

Pertama, surga diperuntukkan bagi orang yang bertakwa. Firman-Nya,

alquran muasir

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Ali Imran [3]: 133)

Sedangkan, takwa tidak mungkin terwujud dalam diri seseorang kecuali dengan melaksanakan berbagai ketaatan dan ibadah yang diperintahkan-Nya, di antaranya adalah ibadah shaum, sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut ini.

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183)

kalender

Memang ibadah shaum bukan satu-satunya ibadah pembentuk ketakwaan. Sesungguhnya, ibadah-ibadah lain pun bertujuan membentuk ketakwaan pada diri orang yang melaksanakannya. Hal itu dijelaskan dalam firman-Nya, “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah Menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 21).

Namun, ibadah shaum memang memiliki posisi yang khusus dalam pembentukan ketakwaan pada diri seseorang. Oleh karena itu, dalam hadits qudsi, Allah Swt. menjelaskan,

Seluruh amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum. Sesungguhnya shaum itu untuk-Ku. Dan shaum adalah tameng…” (Muttafaq ‘alaih).

Tentang makna hadits itu, Al-Qurthubi menguraikan, “Seluruh amal dapat disusupi riya sedangkan shaum tidak ada yang mengetahuinya dengan semata-mata melakukannya selain Allah, maka Dia menisbatkan shaum pada Dirinya. Oleh karena itu disebutkan dalam hadits, ‘Dia meninggalkan syahwatnya karena-Ku.’”

Sedangkan Ibnul-Jauzi mengatakan, “Seluruh ibadah akan tampak dengan melakukannya dan amat sedikit yang selamat dari debu (riya) berbeda halnya dengan shaum.”

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani setelah memaparkan beberapa pendapat ulama tentang kalimat itu, kemudian mengulas dan mengatakan, “Seluruh amal anak Adam, ketika berpeluang disusupi riya maka dinisbatkan pada diri mereka. Berbeda halnya dengan shaum, orang yang menahan diri (dari makan-minum) karena kenyang sama belaka dengan orang yang menahan diri dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dalah hal tampilan lahiriah.” Keikhlasan model itulah yang akan menjadi tonggak ketakwaan sejati. Dan, itu hanya diwujudkan dengan shaum pada bulan Ramadhan.

Kedua, surga diperuntukkan bagi orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Firman-Nya,

Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia Kehendaki. Dan Allah Mempunyai karunia yang besar” (Q.S. Al-Hadiid [57]: 21).

Yang akan mampu melaksanakan shaum dengan sepenuh hati dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. dalam hal rukun dan syaratnya hanyalah orang yang beriman. Yakni, orang yang sepenuhnya pasrah kepada segala titah Allah dan Rasul-Nya; orang yang yakin bahwa segala perintah Allah mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi manusia; serta orang yang tidak ragu-ragu akan kebenaran syariat-Nya. Dan, perintah shaum memang hanya ditujukan kepada orang-orang beriman.

Ketiga, tidak ada orang yang luput dari dosa. Ayat-ayat Al-Quran menegaskan bahwa orang yang akan dimasukkan ke surga terlebih dahulu harus mendapat pengampunan dan penghapusan dosa oleh Allah Swt. Kita dapat menangkap hal itu dari ayat-ayat berikut.

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Ali Imran [3]: 133)

Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.” (Q.S. Ash-Shaff [61]: 12)

Kedua ayat itu menyebutkan urutan yang konsisten antara pengampunan Allah dan masuk surga. Dari ayat itu, dengan jelas dapat kita ambil arahan yang jelas bahwa seseorang tidak akan masuk surga sebelum seluruh dosanya diampuni oleh Allah Swt. Dan, siapakah manusia yang tidak pernah melakukan dosa sehingga tidak memerlukan pengampunan dari Allah Swt.?

Ramadhan dengan segala ibadah yang ada di dalamnya sangat efektif menghapus dosa-dosa. Rasulullah Saw. bersabda, “Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat dan dari Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa, jika meninggalkan dosa besar” (H.R. Muslim).

Sabda Rasulullah Saw. yang lain, “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ridho Allah, diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa berdiri (shalat) pada malam qadar karena iman dan mengharap ridho-Nya, diampunilah segala dosanya yang telah lalu” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Nah, bulan Ramadhan dengan segala aktivitas di dalamnya (yakni, shaum di siang hari, tarawih di malam hari, membaca Al-Quran, itikaf pada sepuluh hari terakhir, dan tentu saja ibadah-ibadah lainnya yang berlaku juga di luar Ramadhan) adalah paket bekalan bagi orang yang hendak melakukan perjalanan dalam kehidupan agar mencapai tujuan ke surga.

Jika demikian, semakin kita menyadari bahwa perjalanan kita panjang dan tidak mudah, maka kita seharusnya semakin memperbanyak perbekalan yang dibawa. Bukan hanya harus banyak, tetapi juga harus berkualitas. Pantaslah Rasulullah Saw. bersabda,

Orang yang shaum mendapat dua kebahagiaan. Jika dia berbuka, dia bahagia dengan bukanya. Dan jika dia berjumpa dengan Tuhannya dia berbahagia dengan shaumnya” (Muttafaq ‘alaih dan hadits ini lafazh Bukhari).

Jadi, kalau Ramadhan bagaikan stasiun pengisian bahan bakar, anggaplah kita tidak akan bertemu lagi dengan stasiun lain sehingga kita memaksimalkan diri dalam mengumpulkan bekal pada Ramadhan tahun ini sehingga terwujudlah cita-cita kita: surga! Wallahu a’lam.

*Penulis adalah pegiat dan penulis buku-buku dakwah

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment