Ramadhan, Stasiun Kita Menuju Surga (Bag.1)

pintu surga

Oleh: Tate Qomarudin*

Ramadhan telah tiba. Segenap umat Islam menyambut kedatangannya dengan gegap gempita. Bagaimana tidak, Ramadhan menjanjikan pahala yang sungguh luar biasa. Rasulullah Saw. bahkan telah bersabda,

alquran muasir

Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang bernama Rayyan, melalui pintu itulah orang yang shaum masuk. Dan tidak ada yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Lalu dipanggil, ‘Siapakah yang shaum?’ maka mereka berdiri dan tidak ada yang memasukinya selain mereka. Ketika mereka sudah masuk maka dikuncilah pintu itu” (H.R. Bukhari).

Sungguh luar biasa keutamaan orang-orang yang menjalankan ibadah shaum. Mereka bukan hanya masuk surga, melainkan masuk surga dari pintu istimewa yang bernama Rayyan. Dan, hanya merekalah yang dapat memasukinya!

Tidak ada tempat yang lebih indah untuk dijadikan tujuan selain surga. Para sahabat Nabi telah mengaplikasikan mentalitas yang menunjukkan bahwa mereka sedemikian merindukan surga dan serius dalam menggapainya. Di antara mentalitas itu adalah sebagai berikut.

kalender

Pertama, kemauan yang kuat yang tidak pernah terjangkiti keloyoan. Tidak ada satu pun yang dapat menghadang keinginan mereka berbuat baik dan beramal saleh dalam rangka mendapat ridha Allah dan menempati surga-Nya. Bahkan, dalam keadaan sedang dilanda persoalan dan kesulitan sebesar apa pun.

Kedua, kesetiaan yang tangguh yang tidak ternodai dengan pengkhianatan. Berbagai macam godaan, hasutan, dan provokasi telah mereka alami. Namun, mereka setia di jalan surga dan pembelaan pada Islam dan Rasulullah Saw.

Ketiga, pengorbanan agung yang dapat mengenyahkan kekikiran dan ketamakan. Para sahabat (semoga Allah meridhoi mereka) tidak ragu-ragu dan tidak menunda-nunda untuk berkorban saat dihadapkan pada peluang untuk itu. Bahkan, di saat mereka tidak melihat peluang pun niscaya mereka akan mencarinya.

Keempat, keyakinan akan prinsip dan kesiapan untuk membelanya hingga tetes darah penghabisan dan embusan napas terakhir.

Wajar bila pertanyaan yang kerap keluar dari mulut mereka adalah, “Wahai Rasulullah, terangkanlah padaku amal yang memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.” Bahkan, kalau sudah berurusan dengan surga, ayah dan anak pun bisa berlomba untuk mendapatkannya. Dalam peristiwa perang Badar, dua orang sahabat Rasulullah Saw., yakni Khaitsamah dan anaknya, Sa’ad, diketahui oleh Rasulullah Saw. akan berangkat menuju Badar bersamaan. Rasulullah Saw. memerintahkan agar hanya satu dari mereka yang berangkat, tidak boleh berdua. Jalan keluarnya adalah dengan cara diundi untuk menentukan siapa yang diizinkan Rasulullah Saw. berangkat ke medan laga. Sebelum melakukan undian, sang Ayah mengatakan kepada anaknya, “Kata Rasulullah, hanya satu orang dari kita yang boleh berangkat. Kamulah yang tinggal di sini bersama istrimu dan akulah yang berangkat ke medan jihad.” Apa jawaban sang Anak? Sa’ad menjawab, “Wahai Ayah, seandainya bukan urusan surga, pasti saya sudah mendahulukan ayah untuk berangkat. Namun, aku pun ingin masuk surga.” Akhirnya, “kemelut” itu diselesaikan dengan undian. Ternyata, hasil undian itu menentukan sang Putra yang keluar untuk berangkat ke medan Badar.

Mentalitas model itulah yang dibutuhkan keberadaannya dalam diri umat Islam. Mentalitas seperti itu merupakan bekal bagi siapa pun yang berkeinginan menempuh perjalanan menuju surga. Karena mentalitas semacam itu bukan hanya mengantarkan mereka ke tempat yang mereka rindukan yakni surga, melainkan juga menabur kebahagiaan dan menebar kesejahteraan dalam kehidupan. Dengan demikian, mereka menghadirkan “surga” di dunia bagi orang lain.

Dengan cara apa mentalitas itu dibentuk? Dengan penataran atau training gaya bagaimanakah mentalitas itu ditanamkan dalam jiwa mereka?

Sesungguhnya, ketika menyediakan surga dan neraka, lalu memerintahkan agar kita berlomba-lomba menuju surga, Allah Swt. telah pula menyediakan berbagai fasilitas yang mempermudah kita menuju ke sana. Di antara fasilitas itu adalah Ramadhan dengan segala aktivitas ibadah di dalamnya. Seperti dituturkan oleh Abu Hurairah. Ketika datang Ramadhan, Rasulullah Saw. bersabda,

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan kepada kalian berpuasa pada bulan itu, dibukakan pada bulan itu pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka; dibelenggu pada bulan itu setan; pada bulan itu terdapat lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa ditutup dari mendapatkan kebaikan pada bulan itu maka sungguh dia telah tertutup (dari seluruh kebaikan)” (H.R. Imam Ahmad dan Nasa’i dengan sanad sahih).

Hadits itu menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh barokah. Barokah adalah kebaikan yang melahirkan atau memproduksi kebaikan lain yang lebih banyak. Allah mewajibkan kepada kita untuk mengerjakan shaum di bulan ini. Di antara bentuk barokah Ramadhan adalah pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Apa maknanya? Para ulama berdiskusi panjang sejak lama tentang ini.

Di antara makna yang dapat kita petik adalah bahwa pada bulan Ramadhan, kita yang melaksanakan shaum dengan memelihara segala rukun syaratnya didorong dan dipermudah untuk mendapatkan surga serta diberi pasokan kekuatan yang luar biasa untuk menapaki jalan menuju surga. Itu berarti pula bahwa kita didorong, dipermudah, dan diberi kekuatan untuk menjauhi neraka serta jalan ke neraka.

Lalu, adakah kebaikan yang lebih indah atau keindahan yang lebih baik dari kemudahan, dorongan, dan kekuatan untuk menapaki jalan menuju surga? Dan, adakah sukses yang lebih hebat dari dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari neraka? Sungguh, ini adalah sebuah keberuntungan bagi seorang mukmin sebagaimana difirmankan-Nya dalam ayat berikut.

Maka siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh dia telah beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 185)

[bersambung..]

 

*Penulis adalah pegiat dan penulis buku-buku dakwah

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment