Ramadhan Momen Pendobrak Kejenuhan

masjid

Oleh: Ir. H. Bambang Pranggono, MBA*

Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta sebagai pembeda antara yang benar dan yang batil..” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 185)

alquran muasir

Dalam ayat tersebut dinyatakan kaitan antara Ramadhan dan Al-Quran. Ada apa di antara Ramadhan dan Al-Quran? Para ulama ada yang menafsirkan bahwa keduanya sama-sama mulia. Al-Quranul Karim yang mulia diturunkan di bulan Ramadhan Karim yang mulia. Namun, penulis menilai ada kesamaan lain, yaitu keduanya sama-sama berfungsi sebagai pendobrak kemapanan. Mari kita coba bahas.

Keistimewaan dan manfaat shaum bagi manusia sudah banyak dibahas dalam tulisan-tulisan ilmiah, terutama bagi kesehatan tubuh. Menurut berbagai penelitian, shaum tidaklah memengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat, dan protein. Meskipun ada peningkatan serum uria dan asam urat, saat shaum sering terjadi dehidrasi ringan. Saat shaum terjadi pula peningkatan HDL dan penurunan LDL yang sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Shaum terbukti berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari tubuh, hormon kortisol, melatonin, dan glisemia. Berbagai perubahan ringan tersebut berperan bagi peningkatan kesehatan manusia.

Jumlah sel yang mati dalam tubuh mencapai 125 juta per detik. Akan tetapi, yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi. Saat shaum, terjadi perubahan dan konversi yang massif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan. Sebelum didistribusikan dalam tubuh, terjadi proses format ulang sehingga memberikan kesempatan bagi tunas baru sel untuk memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerjanya. Pola makan saat shaum dapat mensuplai asam lemak dan asam amino saat makan sahur dan berbuka sehingga terbentuk tunas-tunas protein, lemak, fosfat, kolesterol, dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati.

kalender

Penghentian konsumsi air selama shaum sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1.000 sampai 12.000 ml osmosis per kilogram air. Dalam keadaan tertentu, hal ini akan memberi perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air saat shaum ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.

Shaum juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Penelitian menunjukkan, saat shaum terjadi peningkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Terjadi penurunan kadar apobetta dan kenaikan kadar apoalfa1 dibandingkan sebelum shaum. Kondisi tersebut dapat menjauhkan serangan penyakit jantung dan pembuluh darah. Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat shaum bersifat rotatif dan menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.

Sebuah studi di Cornell University oleh Dr. Clive McCay menunjukkan bahwa tikus yang setengah makanannya dikurangi akan hidup dua kali lebih lama. Penelitian lain di University of Texas memakai tiga grup tikus. Grup pertama dibiarkan makan normal, grup kedua dibatasi hanya separuh, dan grup ketiga dibiarkan makan normal dan hanya dikurangi separuh kandungan proteinnya. Setelah dua tahun, hasilnya ialah hanya 13 persen tikus grup pertama yang masih hidup, grup kedua sebanyak 97 persen tetap hidup, dan grup terakhir tinggal 50 persen.

Manfaat lain ditunjukkan pada kesuburan laki-laki. Penelitian yang mengamati kadar hormon kejantanan (testosteron), perangsang kantung (FSH), dan lemotin (LH) menunjukkan bahwa terjadi perubahan kadar berbagai hormon tersebut dalam tiap minggu. Dalam tahap awal, didapatkan penurunan hormon testosteron yang berakibat pada penurunan nafsu seksual, tetapi tidak mengganggu jaringan kesuburan. Namun, hal tersebut hanya bersifat sementara karena beberapa hari setelah shaum, hormon testosteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya. Shaum juga bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituatari testicular dan pengaruh pada dua testis.

Shaum juga berpengaruh pada membaiknya radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Parameter yang diteliti adalah fungsi sel penetral (netrofil) dan progresivitas klinis penderita. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.

Dari berbagai fenomena ilmu kesehatan itu, kita bisa menyimpulkan bahwa shaum bisa menyembuhkan dan menyehatkan karena mendobrak rutinitas. Artinya, shaum terbukti mengguncang status-quo kebiasaan. Suatu kebiasaan buruk yang dibiarkan berlangsung terus menerus akan menimbulkan penumpukan dampak negatif. Dan, hanya dengan mendobraknyalah bisa terjadi penyegaran.

Adanya kehidupan ditandai dengan adanya guncangan yang dalam skala kecil disebut denyutan. Manusia dinyatakan meninggal ketika jantungnya tidak lagi berdenyut. Maka, guncangan adalah suatu keniscayaan yang harus dibiasakan dalam hidup manusia. Nah, ritus shaum di bulan Ramadhan memenuhi kriteria itu. Ia mengguncang semua kebiasaan sehari-hari.

Selama hidup, kita rutin makan-minum secara kenyang setiap pagi, siang, dan malam, yang diselingi dengan berbagai camilan, junk-food, atau jajanan pasar lainnya. Tiba-tiba, Ramadhan menyentak rutinitas perut kenyang kita dengan rasa lapar dan dahaga. Setelah terbiasa tidur nyenyak sampai pagi, Ramadhan mengguncangnya dengan harus bangun sahur pada saat tidur sedang nikmat-nikmatnya. Kita pun dipaksa harus makan sahur pada saat tidak ada selera. Sebulan shalat Tarawih berjamaah pun mengubah kebiasaan shalat sendirian di rumah. Lantas, itikaf di masjid pada 10 hari terakhir memperkenalkan kita pada suasana mendekatkan diri habis-habisan kepada Allah, yang tidak dialami dalam kesibukan di luar Ramadhan.

Ramadhan mengguncang irama tubuh kita sehingga menjadi sehat dan kebal. Sejak kecil, kita dicekoki dengan slogan umum, “Makan yang banyak, Nak, biar sehat.” Ternyata, konsep baru mengatakan sebaliknya. Dr. Ray Walford, peneliti University of California Los Angeles mengatakan bahwa mengurangi nutrisi (undernutrition) justru merupakan satu-satunya metode untuk membalikkan proses penuaan. Dalam keadaan sakit, makan banyak justru menyedot energi tubuh yang digunakan untuk mencerna. Padahal, energi dibutuhkan untuk proses penyembuhan. Secara alamiah, bayi dan binatanglah yang melakukannya dengan tepat. Ya, saat sakit, bayi dan binatang tidak doyan makan. Slogan baru justru berkata, “Eat Less, Life Longer”. Dan, shaum Ramadhan mengingatkan manusia tentang kearifan asal itu.

Secara kolektif, Ramadhan juga mengguncang denyut kegiatan masyarakat luas. Seharusnya latihan ini akan membentuk masyarakat yang tahan menghadapi musibah atau penderitaan. Masyarakat jadi terbiasa menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi secara mendadak. Memang, hanya umat yang terampil dan tidak panik menghadapi perubahanlah yang akan unggul dalam persaingan akhir zaman.

Sunnatullah ini juga berlaku di bidang lain, dari ilmu geologi sampai politik. Rutinitas berlarut-larut pasti menimbulkan ekses kejenuhan dan perlu guncangan untuk penyegaran. Ledakan gunung berapi, gempa bumi tektonik, dan berbagai bencana pada dasarnya adalah mekanisme alam dalam mengguncang kemapanan. Proses ini berjangka panjang sampai terwujud sebuah keseimbangan baru yang pada gilirannya harus diguncang lagi.

Demikian juga dalam sejarah manusia. Beberapa peristiwa sejarah yang bersifat revolusioner ternyata terjadi di bulan Ramadhan. Peristiwa yang paling penting yang merupakan revolusi besar kemanusiaan ialah turunnya Al-Quran ke Bumi. Diawali dengan ayat-ayat pertama surat Al-‘Alaq yang turun di Gua Hira, kemudian dilanjutkan berturut-turut selama 23 tahun sampai lengkap seluruh Al-Quran diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. Al-Quran pun dipandang sebagai sebuah Kitab Suci yang telah mengguncang dunia melalui ayat-ayatnya yang revolusioner dan telah memberantas status-quo kemusyrikan, ketidak-adilan, dan kejahilan.

Kemudian, ada perang Badar ketika Rasulullah Saw. bersama 313 tentara Islam memenangkan pertempuran yang tidak seimbang melawan 1.000 tentara kafir Quraisy bersenjata lengkap. Kemenangan di perang ini telah mendongkrak rasa percaya diri kaum muslimin yang sebelumnya terus menerus dalam keadaan tertindas. Sejak saat itu, perimbangan situasi berubah menuju menangnya Islam.

Lantas, ada penaklukan Andalusia yang diawali ketika tentara Islam dipimpin Panglima Thariq bin Ziyad yang menyeberangi lautan, dari Afrika Utara ke Spanyol, dan berlangsung di bulan Ramadhan juga. Peristiwa ini adalah guncangan awal yang membawa pencerahan bagi bangsa Eropa yang kala itu berada dalam zaman kegelapan (The Dark Age). Selama 800 tahun selanjutnya, semenanjung Iberia sampai Prancis selatan diterangi oleh tingginya budaya ilmu pengetahuan Islam.

Pada 17 Agustus 1945, terjadi suatu peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia, yakni proklamasi kemerdekaan. Ternyata, hari itu juga terjadi di bulan Ramadhan. Proklamasi tersebut merupakan klimaks dari ratusan tahun perjuangan berdarah mengusir penjajah. Sebuah negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia dengan alam yang kaya raya telah lahir di bulan suci Ramadhan. Indonesia mungkin satu-satunya negeri muslim yang lahir di bulan Ramadhan. Apa pun yang diawali di bulan Ramadhan, berpotensi menjadi pendobrak kejenuhan.

Apabila rakyatnya tidak bersantai-santai dan larut dalam rutinitas kesia-siaan hidup serta berlatih terus dengan jiwa Ramadhan sang pendobrak, tidak mustahil negeri ini pada gilirannya akan memimpin peradaban dunia Islam dan mengguncang satus-quo dunia di masa depan. Insya Allah! Wallahu a’lam.

*Penulis adalah pegiat dakwah

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment