Menggali Hikmah Shaum Untuk Mendapatkan Kecerdasan Integratif

Ada orang yang memaknai shaum dari segi fisik, seperti shaum sebagai sarana untuk mengurangi makan, shaum sebagai kendali pola hidup lebih teratur, shaum sebagai latihan agar pola hidup lebih ritmis. Selain itu, kegiatan ibadah di bulan Ramadhan sangat membantu latihan gerak tubuh seperti ketika pergi berjalan kaki untuk melaksanakan shalat wajib atau shalat taraweh berjamaan lainnya di masjid. Apakah ini salah? Tidak juga karena orang tersebut hanya mengartikan shaum sebagai sarana peningkatan kecersasan fisik.

Namun demikian, ayat ke-9 surat As-Sajdah tersebut di atas tidak berhenti pada kesempurnaan fisik atau kecerdasan fisik semata. Di sana juga di sebutkan selain dikaruniai wujud yang sempurna, dalam diri manusia juga  dihembuskan ruh. Ruh di sini artinya ada sesuatu yang bersifat transendental atau ketuhanan.

Pada dasarnya, potensi ruh yang dimiliki setiap manusia adalah sama. Kalau boleh diibaratkan, ruh adalah ikan hias yang ditaruh di akuarium yang tidak lain adalah tubuh sempurna yang dimiliki manusia. Untuk bisa menampakkan keindahan ikan hias di dalamnya, maka akuarium tersebut harus dijaga agar senantiasa dalam keadaan bersih. Di sinilah fungsi ibadah yang tidak lain adalah sarana untuk membersihkan ‘akuarium’ manusia yang dari sononya sudah diciptakan secara sempurna. Kalau manusia hanya mengandalkan kesempurnaan fisiknya tanpa disertai pelaksanaan shalat, shaum, dan zakat; maka ‘akuarium’nya akan keruh sehingga keindahan qolbunya tidak dapat terlihat jelas. Jadi, meski shaum pada awalnya dipahami hanya dari segi fisik, hendaknya hal tersebut juga dapat diterjemahkan sebagai sarana untuk menjernihkan qolbu.

Pernahkah kita bertanya mengapa shaum diberlakukan selama 30 hari? Ternyata, perilaku manusia (menurut teori behavior) baru akan terlihat perubahannya (dan besifat permanen) setelah sebuah kebiasaan diulang-ulang hingga melewati masa 21 hari. Namun demikian, rentang waktu tersebut masih tergolong riskan (manusia kembali ke kebiasaan semula), sehingga tepat adanya bila pembiasaan tersebut digenapkan menjadi 30 hari. Dan ini adalah ambang batas aman yang ditetapkan oleh Islam berkenaan dengan shaum untuk mengubah perilaku penganutnya. Tentu saja, daya ubah tersebut sangat tergantung pada ke-kaffah-an shaum yang dilakukan masing-masing orang.

Selain ruh, manusia juga dikaruniai panca indra dalam hal ini mata dan telinga. Allah kemudian memberikan penegasan bahwa dengan penglihatan dan pendengaran (yang dimiliki manusia tersebut) hendaknya melahirkan pengetahuan yang kemudian akan bermuara pada daya nalar yang dimiliki otak. Dari pengetahuan yang diolah dalam otak tersebut, hendaknya manusia memiliki pemahaman atau persepsi (driving period from knowledge to perception). Karena itulah, ayat ke-9 surat As-Sajdah tersebut di atas ditutup dengan resume yang sangat indah mengenai manusia yang juga dikarunia hati atau qolbu.

Dari situ kita dapat melihat bahwa yang kecerdasan spiritual tentu harus diserta dengan kebersihan qolbu. Ketika kita lakukan eksplorasi pada qolbu, kita akan menemukan bahwa qolbu adalah akumulasi dari kecerdasan fisik dan kecerdasan kognitif. Di sini, kecerdasan kognitif tersebut akan saya bagi menjadi tiga cabang, yaitu: intellectual quotient, social quotient (yang salah satu contohnya adalah kemampuan untuk berkomunikasi), serta emotional quotient (beberapa ahli menambahkan bahwa intuisi termasuk kecerdasan emosional).

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 191 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment