Inilah 5 Pintu Masuk Setan ke dalam Hati Manusia

diskotek, ceramah

Manusia diciptakan oleh Allah swt. tidak sendirian. Selain malaikat, Allah swt. juga menciptakan jin untuk bersama-sama dengan manusia beribadah kepada-Nya. Perbedaan alam seharusnya membuat mereka hidup tenang dalam dunianya masing-masing. Tapi  tidak, setan dari golongan jin telah lama memendam kesumat. Superioritas mengharuskannya menentang perintah Allah untuk tunduk bersujud pada Adam a.s. Konsekuensinya, ia dicap sebagai makhluk durhaka dan diusir dari surga. Sejak saat itulah, Iblis mendeklarasikan diri sebagai musuh umat manusia yang akan senantiasa menjerumuskan mereka ke neraka.

Allah swt. berfirman dalam salah satu ayatnya, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al Baqarah 2: 168). Waspada! Itulah harus kita lakukan agar tidak terjerumus ke dalam jebakan setan.

alquran muasir

Semudah itukah? Ternyata tidak. Dalam dirinya manusia memiliki pontensi hawa nafsu, muthmainah (kecenderungan pada kebaikan), lawwamah (kecenderungan untuk selalu mengingatkan pada kebaikan), serta amarah (kecenderungan pada keburukan). Yang terakhir inilah yang dijadikan peluang iblis untik menjerumuskan manusia. Sekuat tenaga, dengan berbagai cara, dari segala penjuru, serta di setiap kesempatan, iblis tidak akan pernah berhenti melancarkan aksinya.

Irfan bin Salim ad-Dimasyqi dalam bukunya yang berjudul “Kupas Tuntas Dunia Lain” menyatakan bahwa potensi kecenderungan pada keburukan (nafsu amarah) pada manusia masih didukung oleh indera yang dapat dijadikan pintu masuk setan dalam hati kita. Pintu-pintu tersebut adalah sebagai berikut.

1.    Al Fikr (Pikiran)
Setan tentu sangat bersyukur dengan beragam media massa –baik cetak maupun elektronik– yang sangat berberan besar dalam membentuk pola pikir manusia. Sedikit banyak, setan telah bertransformasi dalam bentuk media-media tersebut untuk menggiring kita pada penghalalan yang haram dan pengharaman yang halal. Dengan metode yang teramat sangat rapi, kita tidak mampu merasakan jika otak kita telah tercuci, kemudian diisi oleh pola pikir yang sesat dan menyesatkan.

kalender

2.    As Sama’u (Pendengaran)
Terkadang kita memang tidak ingin mendengar pembicaraan yang dilarang.  Namun setan akan berkata, “Sekadar mendengarkan tidak apa-apa. Asalkan tidak berkomentar.” Katanya lagi, “Akan terlihat tidak sopan kalau kita tidak mendengarkan yang dibicarakan teman kita, bukan?” Tidak sopan? Bukankah, akan lebih tidak sopan lagi kalau dosa-dosa itu ditumpukkan ke pundak kita, sedangkan kita tidak sedikit pun menginginkannya?

3.    Al Bashor (Pandangan)
Jika kita melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat, salah besar kalau kita mengatakan, “Ah, pandangan pertama kan tidak apa-apa. Tidak disengaja, kok.”  Memang tidak disengaja, tapi bukankah kita dapat memprediksi kapan dan di mana saja pemandangan tidak-layak-tonton itu muncul? Jangan sekali-kali kita mengatakan melihat hanya sekali sedangkan kita berada di antara jutaan kemaksiatan yang sangat jelas terlihat dengan mata kita.

4.    Al Lisan (Lidah)
Adalah benar bahwa lidah tidak bertulang. Bukan hanya secara denotasi, secara konotasinya pun lidah begitu lentur diajak berbicara mengenai apa pun. Bukan hanya kebaikan, tetapi juga kejelekan. Sebuah topik bisa dibahas secara panjang lebar tanpa bisa dibatasi. Bumbu-bumbu pembicaraan tidak saja berasal dari bahan-bahan yang positif, yang negatif pun terkadang terlalu sayang untuk dilewatkan. Kemudian, timbullah fitnah, gunjingan, juga bermacam kosa kata buruk lainnya.

5.    Al Hiss (Perasaan)
Sebuah ilustrasi ringan. Ketika salah seorang yang kita cintai meninggal dunia, maka secara manusiawi kita tidak dilarang untuk meneteskan air mata. Namun ketika air mata yang menetes itu sebagai sebuah perlambang ketidakrelaan atas kepergian orang yang kita cintai, maka jin berperan besar dalam hal ini. Bukan hanya sedih, segala jenis perasaan bisa berpeluang ditungganginya. Luapan kebahagiaan bisa membuat kita lupa bersyukur kepada Sang Pemberi kebahagiaan. Dan masih banyak lagi.

Berhati-hatilah menjaga indera kita karena itu adalah potensi bagi masuknya setan ke dalam jiwa.

Penulis : Muslik

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment