Lupa Belum Bayar Puasa, Bagaimana Ya ?

puasa

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

Teteh, saya belum mengqadha shaum dua tahun yang lalu. Saya jadi ragu, mesti bagimana karena saya pun lupa berapa hari saya tidak puasa.  Masuk  bulan Sya’ban, masih bisakah mengqadha shaum? Sebenarnya, kapan batas akhir kita boleh qadha?

alquran muasir

Kewajiban Shaum Ramadhan

“Hai, orang-orang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183)

Seorang muslim, ketika shaum, wajib menjauhi amalan yang merusak kualitas shaumnya agar dengan shaumnya itu tercapai derjat ketakwaan. Jadi, shaum bukan sekadar tidak makan dan minum atau tidak menunaikan syahwat semata. Intinya, shaum-kanlah seluruh anggota badan dari dosa. Sebagaimana halnya makan dan minum membatalkan shaum, perbuatan dosa dapat merusak pahala dan kualitas shaum sehingga menjadikan orang yang bersangkutan seperti orang yang tidak shaum.

kalender

Setiap muslim harus membangun ibadah puasanya di atas iman kepada Allah Swt. dalam rangka mengharapkan rida-Nya, bukan karena ingin dipuji atau sekadar ikut-ikutan keluarga atau masyarakat sekitar yang sedang berpuasa. Rasulullah Saw. Bersabda, “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R. Muttafaqun ‘alaih)

Menjaga anggota badan dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt. contohnya adalah menjaga lisannya dari dusta, ghibah, dan lain-lain atau menjaga mata dari melihat orang lain yang bukan mahramnya baik secara langsung atau tidak langsung seperti melalui gambar-gambar, film-film, dan sebagainya.

Rasulullah Saw. Bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah Swt. tidak peduli dia meninggalkan makan dan minumnya.” (H.R. Bukhari)

Bagaimana Muslimah Bisa Terkena Kewajiban Qadha Shaum?

“…Jika di antaramu ada yang tidak berpuasa karena sakit atau dalam perjalanan, wajib menggantinya pada hari-hari yang lain sebanyak hari kamu tidak berpuasa…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 184)

Orang tua (jompo) dan orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, maka tidak ada kewajiban shaum baginya. Namun dalam hal ini mereka berkewajiban memberikan makan setiap hari kepada seorang fakir miskin (fidyah). Adapun, wanita yang haidh dan nifas, maka haram shaum. Namun, dia terkena kewajiban meng-qadha setelah suci, sejumlah hari yang dia tinggalkan. Jika haidh atau nifas itu terjadi di siang hari, maka batal shaumnya. Dan, wajib baginya untuk mengganti di hari yang lain sejumlah hari yang dia tidak shaum karena haidh/nifas.

Sementara itu, bagi musafir diberi pilihan, boleh shaum dan boleh juga tidak. Apabila shaum itu memberatkan baginya, maka sesungguhnya yang lebih baik baginya adalah berbuka. Dan dimakruhkan baginya untuk shaum karena perbuatan itu dapat memalingkan dan meremehkan rukhshah (keringanan) yang telah diberikan oleh Allah Swt. Tetapi, jika shaum tidak memberatkan baginya dan kebutuhannya tetap terpenuhi, maka bershaum lebih utama baginya. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadis Abu Darda’ yang terdapat di dalam Ash Shahihain, dia berkata,“Kami keluar bersama Rasulullah pada bulan Ramadhan dalam keadaan cuaca yang sangat panas sampai salah seorang di antara kami meletakkan tangannya di atas kepalanya karena panas yang sangat, dan tidak ada di antara kami yang berpuasa, kecuali Rasulullah Saw. dan Abdullah bin Rawahah.”

Bersegeralah Mengqadha Shaum Ramadhan

 Aisyah r.a. berkata, “Kami mengalami haidh pada zaman Rasulullah, maka kami diperintah untuk mengqadha shaum dan tidak diperintah untuk mengqadha shalat”. (H.R.Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain, Aisyah r.a. menyatakan bahwa kita tidak boleh menundanya hingga Ramadhan berikutnya tanpa adanya udzur.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

Leave a Comment