Esensi Syukur dan Kufur Nikmat (Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 53-57) Bag 3

bukit tursina

dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum Kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”  (Q.S. Al-Baqarah [2] : 55)

Jangan sampai kita sebagai umat Islam mengikuti jejak perilaku Bani Israil yang sulit untuk dimengerti. Baru saja mereka diberi pelajaran berharga dengan adanya peristiwa pertaubatan “dahsyat” bagi penyembah anak lembu, sekarang pembangkangan terhadap Allah terjadi lagi pada mereka yang diberi kesempatan bertaubat. Dalam sejumlah riwayat dikisahkan bahwa di antara mereka yang diberi kesempatan hidup setelah peristiwa saling membunuh dan sejumlah 70 orang (di antaranya diajak Nabi Musa) untuk datang ke bukit Tursina dan mempelajari kisah yang belum lama mereka alami.

promoawaltahun

Sesampainya di bukit tersebut, di antara mereka berkata, “Wahai Musa, kami tahu bahwa engkau Nabiyyallah, doamu terkabul, dan engkau mendapat banyak keistimewaan. Patutlah jika kami mendapat sebagian keistimewaan itu dengan melihat Allah secara jelas tanpa perantara dan penghalang sedikit pun. Kami tidak akan beriman dan mempercayai apa yang kamu ajarkan sebelum keinginan kami dikabulkan.”

Tak lama kemudian, Allah mendatangkan halilintar yang menyambar dan menyebabkan mereka yang mengatakan itu terkapar. Sementara sebagian yang lain menyaksikan yang terjadi. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang disambar tersebut adalah semua yang mengikuti Nabi Musa saat itu. Lantas Nabi Musa meminta kepada Allah agar mereka tidak dibinasakan mengingat merekalah di antara yang terbaik yang tersisa setelah adanya peristiwa pertaubatan dengan cara saling membunuh. Doa Nabi Musa dikabulkan dan diterangkan dalam ayat berikut.

Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 56)

Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang tetap memberikan nikmat tiada hingga pada hamba-Nya seberapa besarnya keburukan hamba-Nya jika di samping mereka ada kebaikan hamba-hamba-Nya yang shaleh. Kekeliruan yang dilakukan pengikut Nabi Musa saat itu bila diukur dengan pertimbangan akal manusia sudah tidak layak untuk diberi ampun. Namun, tidak demikian dengan Allah. Atas kasih sayang-Nya kepada Nabi Musa, Allah memberi kesempatan kedua pada Bani Israil dengan dihidupkannya kembali mereka setelah disambar halilintar yang dahsyat.

kalender

Para ulama tafsir berbeda pendapat yang dimaksud dengan “mati” dalam ayat tersebut. Menurut sebagian ulama tafsir, yang dimaksud “mati” dalam ayat tersebut adalah mati yang sebenarnya, yaitu berpisahnya ruh dengan jasad, sedangkan menurut sebagian yang lain, “mati” tersebut, berarti pingsan akibat sambaran halilintar.

Terlepas dari perbedaan tersebut, maka yang semestinya menjadi cerminan bagi kita adalah betapa Allah memiliki kasih sayang yang tanpa batas dan ampunan tiada akhir. Selama kita mengusahakan satu lubang kecil untuk masuknya cahaya kasih sayang dan ampunan Allah, maka segera cahaya itu pun datang menerangi dan membawa kebaikan pada kita. Sungguh sesuatu yang sepatutnya kita syukuri.

Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 57)

Lagi-lagi nikmat yang sungguh luar biasa Bani Israil dapatkan dari Sang Maha-kuasa. Sesaat setelah mereka terbebas dari kejaran Fir’aun dan tiba di daratan dengan selamat, mulailah mereka mengeluhkan kondisi cuaca panas menyengat pada daratan yang baru saja mereka injak. Untuk melindungi keadaan tersebut, Allah menurunkan awan agar mereka ternaungi dari panasnya terik matahari. Tidak sampai di situ, Allah kemudian menurunkan makanan yang tidak ditemui sebelum dan sesudahnya, yaitu manna dan salwa. Sungguh luar biasa!

Bagi kita umat Islam, khususnya di Indonesia saat ini, kenyataan bahwa Allah sangat memuliakan Bani Israil tidak perlu untuk dijadikan kecemburuan. Bila kita coba renungi secara saksama, banyak kemiripan antara deretan nikmat yang pernah Allah berikan kepada Bani Israil dengan deretan nikmat yang Allah berikan kepada Bangsa Indonesia yang berpenduduk mayoritas umat Islam. Pertanyaannya, akankah kita mengikuti jejak Bani Israil yang sungguh membuat Allah jengkel?

Dari serangkaian kisah yang saya kemukakan di atas, satu pelajaran di antaranya dapat kita ambil, bahwa apa pun nikmat yang diberikan Allah, akan dengan sendirinya menjadi seleksi atas keimanan kita. Toh pada kenyataannya banyak yang diberi nikmat lebih, malah menjadikannya semakin kufur kepada Allah. Padahal kufur akan nikmat Allah akan membawa kenistaan dan kemusnahan pada kita semua. Na’dzubillah min dzalik. 

Wallahu a’lam bish-shawab.

(DR Aam  Amiruddin)

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment