Bacaan Sebelum Shalat, Bagaimana Menurut Al Qur’an dan Hadits?

shalat

Pak Ustadz yang saya hormati, di daerah saya banyak muslim yang ketika hendak shalat terlebih dahulu membaca bacaan-bacaan tertentu seperti taawwudz atau surat Al-Falaq dan An-Nas. Mereka beranggapan bahwa shalat itu diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam sehingga apa pun yang dilaksanakan sebelum shalat boleh dikerjakan karena tidak akan mengganggu makna shalat tersebut. Bagaimanakah sebetulnya yang harus dilakukan (atau dibaca) sebelum menunaikan shalat menurut Al-Quran dan hadits? Terima kasih.

Saudari yang dirahmati Allah, acuan yang semestinya digunakan dalam memahami tata cara shalat secara keseluruhan adalah Al-Quran dan hadits yang shahih. Artinya, pemecahan permasalahan yang saudari tanyakan memang seharusnya dikembalikan pada contoh yang diberikan oleh Rasulullah Saw. Saya yakin, semua umat Islam sadar betul akan kewajibannya meneladani Rasulullah Saw. secara total sebagaimana diamanatkan dalam ayat Al-Quran berikut ini.

alquran muasir

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang diterimanya dari Malik, Rasulullah Saw. bersabda:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

kalender

Mengenai adanya sebagian kalangan yang menganggap membaca bacaan-bacaan tertentu sebelum shalat adalah sesuatu yang diperbolehkan, hal tersebut perlu dikaji ulang. Memang betul bahwa ta’rif shalat yang dikemukakan para ulama adalah ucapan dan gerakan yang diawali takbir dan diakhiri salam dengan tata cara yang khusus diatur oleh syariat. Hal tersebut mengacu pada hadits berikut,

“Dari Ali r.a. dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya (dari segala ucapan dan gerakan di laur shalat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam.’” (H.R. Abu Daud)

Hadits ini boleh dikata cukup untuk menjawab kebingungan Saudari penanya. Jika aktivitas (bacaan) sebelum shalat merupakan sesuatu yang bebas sesuai kreativitas masing-masing, maka tentunya Rasul Saw. tidak akan menyebut wudu sebagai kunci (pembuka) shalat. Secara lebih rinci, mari kita cermati hadits berikut ini.

“Dari Abu Hurairah r.a. bahwa seorang laki-laki memasuki masjid, sementara Rasulullah Saw. tengah duduk di pojok masjid, kemudian laki-laki itu mengerjakan shalat. Seusai shalat, ia datang menemui beliau sambil mengucapkan salam, dan Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: ‘Wa’alikas salam. Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat!’ Lalu ia kembali lagi dan mengulangi shalatnya. Seusai shalat ia datang lagi sambil mengucapkan salam dan beliau bersabda: ‘Wa’alaikas-salam. Kembali dan ulangi lagi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat!’ Lalu orang tersebut berkata ketika disuruh mengulangi yang kedua kali atau setelahnya; ‘Ajarilah aku wahai Rasulullah!’ Selanjutnya beliau bersabda: ‘Jika kamu hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudu, lalu menghadap ke arah Kiblat, setelah itu bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Quran yang mudah bagimu…’” (H.R. Bukhari)

Logikanya cukup sederhana, jika Rasulullah Saw. memandang penting bacaan tertentu sebelum shalat, maka sudah barang tentu beliau tidak akan melewatkan (menempatkan bacaan tersebut di antara wudu, menghadap Kiblat, dan takbiratul ihram) begitu saja. Karena Rasulullah tidak menyebutkannya, maka sudah dapat dipastikan kalau dengan wudu dan menghadap Kiblat saja sudah cukup untuk memenuhi keharusan-keharusan sebelum shalat. Wallahu a’lam.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah