Ingin Khusyuk, Bolehkah Membayangkan Wujud Allah?

ilustrasi

Ustadz, ada yang mengatakan kalau kita ingin  khusyuk dalam beribadah, maka kita harus merasa seolah-olah melihat Allah. Bukankah kita dilarang membayangkan wujud Allah? Mohon penjelasan. Terima kasih.

 

Pertanyaan Ibu memang ada dalam riwayat Bukhari. Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang makna ihsan, Rasul Saw. menjawab : “Anta’ budallaha ka-annaka taraahu fa in lam takun taraahu fa innahu yaraaka” (Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat Allah. Kalau kamu tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa Allah melihatmu). Kalimat “seolah-olah kamu melihat Allah” dalam hadits tersebut bukan berarti harus membayangkan Allah karena sebenarnya kita tidak boleh membayangkan wujud Dzat Allah Swt.

alquran muasir

Ada keterangan yang mengatakan “tafakkaru fi kholkillah wala tatafakkaru fi dzatillah” artinya, “Tafakurlah (berpikirlah) tentang ciptaan Allah dan jangan membayangkan Dzat Allah”, karena Allah tidak bisa tersentuh dengan bayangan kita. Sesuatu yang kita bayangkan merupakan bagian dari cadangan pengetahuan yang pernah masuk dalam memori kita.

Dari cadangan pengetahuan itu, kita bisa membentuk pengetahuan baru. Padahal bentuk Allah tidak ada di dalam memori kita dan kalaupun ada, itu pasti buatan kita dari cadangan pengetahuan yang sudah tersimpan dalam memori. Oleh karena itu, Allah “laisa kamitslihi syaiun”, Allah itu tidak bisa diserupakan dengan apa pun juga. Lihat saja tanda-tanda kekuasaan, keagungan, dan kebesaran Allah yang ada di alam semesta bukan membayangkan Dzat-Nya Yang Maha-suci.

Bila kita mengerjakan satu pekerjaan sambil diawasi biasanya pekerjaan menjadi lebih rapi, lebih teliti, dan lebih bagus. Jadi, inti dari keterangan itu bukan berarti saat beribadah kita harus membayangkan Allah, melainkan harus bersungguh-sungguh sekalipun tidak ada yang melihat.

kalender

Sebagai contoh, saat Ibu shalat di kamar sendirian, maka mukena tetap harus bersih, jangan sampai membiarkan bagian kepalanya menghitam, tidak pernah diganti dengan alasan tidak pernah dipakai ke masjid dan tidak ada yang melihat. Memang, tak ada yang melihat kualitas mukena Ibu. Akan tetapi, tetap saja mukena harus bersih, rapi, dan harum. Ini yang dimaksud dengan ihsan dalam keterangan di atas.

Jadi, yang dimaksud “Beribadahlah kamu kepada Allah seolah-olah kamu melihat Allah” bukanlah membayangkan Dzat Allah Swt., melainkan bersungguh-sungguhlah dalam melakukan kewajiban-kewajiban kita karena Allah Maha Melihat apa pun yang kita kerjakan. Wallahu a’lam

***

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah