Esensi Syukur dan Kufur Nikmat (Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 53-57) Bag 2

alquran
FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerSilakan Share

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; Maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 54)

Itulah watak sebagian Bani Israil yang keterlaluan dan tak tahu diri. Sederet nikmat yang diberikan Allah disikapi dengan perilaku kufur. Pemberian Allah yang demikian tak terhingga dibalas dengan kekejian. Atas dasar kebodohan, mereka menjadikan anak sapi sebagai sembahan. Padahal yang namanya sapi, bagaimanapun adalah tetap seekor hewan yang tak ada bedanya dengan hewan lain yang tidak memiliki kemuliaan seperti manusia. Sungguh perbuatan yang telah menghinakan diri sendiri karena diri yang mulia menghamba-hamba pada benda yang rendah. Jika menyembah patung sapi yang sapi itu asalnya benda hidup sudah sedemikian hinanya, apalah namanya ketika kita mempunyai perilaku menghamba-hamba pada benda mati seperti kuburan, batu, dan lain sebagainya.

Atas perintah Allah, Nabi Musa menyampaikan instruksi pada umatnya yang menyimpang tersebut agar segera bertaubat. Proses pertaubatan yang diperintahkan Allah dalam ayat tersebut adalah dengan “membunuh dirimu sendiri”. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengungkap sejumlah riwayat yang menjelaskan maksud “membunuh dirimu sendiri”. Saya coba gabungkan pendapat sejumlah ahli tafsir tersebut sebagai berikut.

“Setelah Nabi Musa dan Nabi Harun mengetahui secara nyata bahwa sebagian umatnya telah berbuat nista dengan menjadikan anak sapi sesembahan, atas petunjuk dari Allah, Nabi Musa memerintahkan mereka untuk bertaubat dengan saling membunuh sesama diri mereka. Ribuan dari mereka berkumpul di suatu tempat dengan memegang senjata masing-masing. Setelah mereka berkumpul, tiba-tiba keadaan menjadi gelap gulita. Di saat itu, mereka saling membunuh tanpa mengetahui siapa yang mereka bunuh. Setelah sekian lama terjadi, datanglah kembali cahaya atas permintaan Nabi Musa. Setelah cahaya datang, suasana kembali tenang dan terang, saling bunuh pun terhenti, dan akhirnya terlihatlah mereka yang telah menjadi mayat bergelimpangan meski di antaranya masih ada yang tetap dalam keadaan hidup. Mereka yang mati mencapai puluhan ribu orang dan disebutkan dalam sejumlah riwayat sebagai kebaikan yang Allah berikan kepada mereka, sedangkan sisanya yang hidup merupakan kesempatan yang Allah berikan pada mereka untuk memperbaiki kesalahan dan penerimaan Allah atas taubat mereka.”

Jika yang saya paparkan di atas menunjukkan bahwa “membunuh dirimu sendiri” adalah saling bunuh di antara mereka yang sama-sama menyembah patung anak sapi, sebagian ahli tafsir yang lain berpendapat bahwa yang membunuh adalah orang-orang yang tidak menyembah anak lembu dan yang dibunuh adalah orang yang menyembahnya. Ada juga yang berpendapat bahwa mereka diperintah untuk membunuh diri mereka masing-masing untuk bertaubat.

Lepas dari itu semua, ayat di atas menunjukkan bahwa, bagaimanapun, perbuatan musyrik adalah perbuatan nista yang akan berakibat hina, baik di dunia apalagi nanti di akhirat. Upaya pertaubatan dengan membunuh diri sendiri pada masa Nabi Musa barangkali sebagai gambaran betapa perbuatan syirik yang termasuk najis itu harus dikikis dan dikuras habis tanpa tersisa. Karena itu Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana (Q.S. At-Taubah [9]: 28)

(bersambung)

Leave a Comment