Watak Pembangkang Bani Israil (Tafsir Surat Al-Baqarah [2] 49-52)

yahudi, bani israil

Oleh :  Dr. Aam Amiruddin, M.Si

 

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.(Q.S. Al-Baqarah [2] 49)

alquran muasir

Ayat ini merupakan lanjutan dari beberapa ayat sebelumnya yang mengungkap sederet nikmat yang diberikan Allah kepada Bani Israil yang seharusnya menjadi bahan tadabbur bagi mereka. Nikmat-nikmat yang diungkapkan tersebut sebenarnya dilimpahkan Allah kepada leluhur mereka, tapi dengan sengaja Allah menyebutkannya kembali kepada generasi Bani Israil di zaman Rasulullah agar mereka sadar akan kekeliruan menolak Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah. Pada dasarnya, nikmat yang dilimpahkan kepada para leluhur adalah juga nikmat bagi keturunannya.

Nikmat yang sedemikian banyak tersebut seyogianya dijadikan bahan evaluasi. Selain itu, nikmat dapat pula berfungsi sebagai ujian untuk mengukur rasa syukur kepada Allah. Ketika berbicara ujian, janganlah kita hanya membayangkan musibah, kemiskinan, dan kesusahan saja. Ingatlah bahwa kesenangan, kekayaan, kemudahan, kebebasan, dan kemerdekaan juga merupakan ujian yang harus dihadapi dengan hati-hati dan teliti. Allah Swt. berfirman,

Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shaleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 168)

kalender

[irp posts=”9549" name=”Membedah Kecerdasan Kaum Yahudi”]

Sebagian ahli mengungkapkan sejarah perjalanan Bani Israil berkaitan dengan ayat tersebut di atas. Menurut mereka, sejarah keberadaan Bani Israil di Mesir dimulai sejak zaman Nabi Yusuf a.s. beserta saudara-saudaranya. Dalam jangka waktu kurang lebih empat abad, keturunan Nabi Yusuf dan suadara-saudaranya tersebut berkembang pesat dan berjumlah sangat besar. Namun, watak sombong dan rasis (yang sejak awal sudah melekat pada diri mereka) turut mewarnai kehidupan mereka meski berada di negeri orang yaitu Mesir.

Melihat kenyataan itu, Fir’aun sebagai penguasa Mesir memprediksi bahwa banyaknya Bani Israil (dengan sifat dan watak yang tidak juga disukainya) lambat laun akan menggeser peranan penduduk asli Mesir dalam segala bidang. Fir’aun tahu betul akan kelebihan dan keunggulan Bani Israil dalam beberapa hal seperti dijelaskan Allah dalam ayat-ayat Al-Baqarah sebelumnya. Fir’aun merasa perlu mengambil kebijakan untuk menekan pesatnya perkembangan Bani Israil di wilayahnya yang dianggap dapat mengancam stabilitas negara.

Akhirnya, lahirlah undang-undang yang sangat merugikan Bani Israil yaitu peraturan untuk membunuh setiap anak laki-laki Bani Israil (teutama yang baru lahir) dan membiarkan anak-anak perempuan untuk tetap hidup. Pada saat kerajaan mulai berlaku kejam dan Bani Israil dalam keadaan sangat tertekan itulah Nabi Musa dan Nabi Harun diutus oleh Allah Swt. (disarikan dari tafsir Al-Maraghy dan lainnya).

Lika-liku perjalanan Bani Israil di tengah kerajaan yang sangat kejam berakhir dengan sebuah peristiwa yang menunjukkan nikmat yang sangat luar biasa. Adalah ketidak-patutan jika nikmat yang sedemikian besar itu disikapi dengan santai-santai saja, apalagi bila dibalas dengan penyelewengan dan kesesatan. Bukankah kita sangat membenci air susu yang dibalas dengan air tuba? Tapi itulah yang dilakukan Bani Israil dulu, sesaat setelah mereka selamat. Dan ternyata, seperti itu pulalah keadaan Bani Israil saat ini. Bani Israil tetaplah Bani Israil dengan watak terlaknatnya.

Sebagai catatan, umat Islam (khususnya di Indonesia) memiliki kemiripan pengalaman dengan Bani Israil. Jika Bani Israil mendapat perlakuan kejam dari penguasa otoriter (Fir’aun), maka kita juga mengalami hal yang sama ketika dijajah oleh Belanda dan sekutunya. Jika kemudian Bani Israil selamat dari kekejaman Fir’aun atas pertolongan Allah, maka kita pun ditolong oleh Allah Swt. saat mendapat kemerdekaan tanpa syarat. Sekarang tinggal kita berusaha dan berupaya agar perilaku buruk Bani Israil tidak melekat pada diri umat Islam. Jangan sampai segala nikmat yang telah Allah berikan kita balas dengan perilaku dan kebiasaan yang sangat dibenci-Nya sebagaimana yang dilakukan Bani Israil. Ingatlah bahwa Allah Swt. dapat sewaktu-waktu menimpakan murkanya kepada kita apabila kita berperilaku seperti Bani Israil. Mudah-mudahan, beruntunnya bencana yang menimpa Indonesia beberapa waktu yang lalu bukanlah murka Allah. Amin.

“Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.”(Q.S. Al-Baqarah [2[2]0)

Ayat ini masih menunjukkan…..

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment