Mengendalikan Amarah dengan Cara Islami

marah

Ustadz yang saya hormati, saya memiliki empat orang anak. Terkadang, saya merasa kecewa dengan perilaku mereka. Tanpa disadari, saya selalu marah. Setelahnya, perasaan saya selalu tidak enak dan menyesal telah melakukannya. Yang ingin saya tanyakan, adakah dalam Islam cara untuk mengendalikan amarah?

 

Dalam kajian ilmu komunikasi, marah adalah salah satu bentuk dari komunikasi seseorang. Ketika seseorang sedang marah, berarti ia sedang berupaya menyampaikan pesan kepada lawan bicaranya. Bentuk penyampaiannya berbeda-beda, bergantung pada lingkungan dan kondisi sosial budaya yang membentuknya.

alquran muasir

Misalnya di Jepang, orang sering diam saat marah karena memang orang-orang Jepang tidak terbiasa mengekspresikan kemarahannya. Lain halnya dengan orang Amerika. Mereka lebih mudah mengekspresikan kemarahannya lewat tindakan atau perilaku. Sama halnya dengan Suku Batak di tanah air kita, mereka pun lebih mudah mengekspresikan kemarahannya. Sedangkan Suku Sunda, terbagi dua, sebagian ada yang terbiasa mengekspresikan kemarahannya, dan sebagian yang lain tidak terbiasa mengekspresikannya.

Menurut kacamata psikologi, marah adalah bagian dari emosi. Di antara sekian banyak emosi, marah dikategorikan sebagai emosi yang negatif. Oleh karena itu, marah harus dikendalikan jika kemarahan tersebut dapat merugikan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Namun, tidak selamanya amarah dapat merugikan orang lain karena ada saat-saat di mana kemarahan perlu diekspresikan lewat perilaku. Sebab, adakalanya seseorang yang kita ajak bicara baru mengerti maksud yang ingin kita sampaikan ketika kita marah. Tanpa marah, orang lain malah menganggap kita main-main atau tidak serius.

Begitu juga dengan Anda. Jika marah kepada anak bertujuan untuk menasihati, kemarahan tersebut diperbolehkan, dengan catatan tidak melukai fisik dan psikis mereka. Namun, jika kemarahan tersebut karena jengkel kepada mereka, apalagi sampai melukai fisik maupun psikis mereka, marah yang seperti ini yang dilarang dalam Islam, dan kita harus berusaha mengendalikannya.

kalender

Dalam hal ini, Islam telah memberikan arahan kepada kita untuk mampu mengendalikan amarah. Setidaknya ada 5 (lima) cara mengendalikan amarah berikut ini.

Pertama, membaca ta’awudz ketika marah. Rasulullah pernah mengajarkannya kepada dua orang sahabat yang saling mencaci dengan mengatakan, “Sesungguhnya aku akan ajarkan kalian suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilanglah kemarahan kalian, yaitu bacaan A’uudzubillaahi minasysyaithaanirrajiim.” (H.R. Bukhari)

Kedua, mengubah posisi ketika marah. Jika posisi kita saat kemaran itu datang adalah berdiri, dianjurkan untuk duduk. Namun, ketika posisi marah kita sedang duduk, dianjurkan untuk berbaring. Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian marah, sedangkan ia dalam posisi berdiri, hendaklah ia duduk. Kalau telah reda atau hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum reda, hendaklah ia berbaring” (H.R. Abu Daud).

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment