Simpul-Simpul Keimanan Terhadap Al-Quran (Tafsir Surat Al-Baqarah[2] 44-46) Bag 2

sujud

MELANJUTKAN tulisan bagian pertama tentang penjabaran ayat ke-45 surat Al-Baqarah, Allah SWT telah memberikan solusi yaitu  menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong.

Memohonlah dengan shalat karena dalam shalat terdapat kekuatan untuk mencegah dari pebuatan fahsya dan munkar. Dengan shalat, kesempatan menyampaikan keluh dan asa sangat terbuka. Imam Ahmad meriwayatkan salah satu hadits yang menyebutkan bahwasannya Nabi Muhammad Saw. senantiasa menjadikan shalat sebagai bagian penting dalam mencari solusi atas problem yang dihadapinya.

alquran muasir

Namun demikian, kedua media permohonan pertolongan (sabar dan shalat) tersebut amatlah berat. Setiap orang dengan sangat mudah mampu mengucapkan dan menyampaikan nasehat tentang sabar tapi tidak dengan mempraktekannya. Menjadikan shalat sebagai media memohon pertolongan, jauh lebih berat lagi. Secara spesifik, ayat ini menunjukkan hal itu. Satu-satunya syarat agar shalat dikatakan sukses adalah dengan kekhusuan. Dengan kekhusyuan, berbagai perkara penyebab ketidaksuksesan shalat dapat disingkirkan.

Pertanda kekhusyuan adalah tenggelamnya jiwa di kedalaman munajat terhadap Rabbnya sehingga tidak lagi merasakan keletihan dan kesulitan menjalankannya. Karena itu, Rasulullah mengatakan dalam haditsnya, “Sejuknya mataku ada dalam shalatku” dan “Kuistirahatkan jiwaku dengan shalat”.

Khusyu adalah perbuatan hati yang sulit distandarisasi dan diilmiahkan. Khusyu adalah rasa yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata. Shalatlah dengan khusyu dimulai dengan mendirikan shalat sesuai dengan yang dicontohkan Nabi serta menghindarkan diri dari perkara-perkara yang dapat mengganggu kekhusuan. Jadikanlah shalat sebagai sebuah kebutuhan, bukan beban.

kalender

Sediakan waktu seluas-luasnya untuk shalat, bukannya menjadikan shalat sebagai pengisi waktu luang. Lakukan dan dirikanlah shalat dengan usaha keras untuk selalu meningkatkan kualitas. Dirikanlah shalat demi lebih mendekatkan diri kepada Allah. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Q.S. Thaha: 14)

“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”(Q.S Al-Baqarah [2] 46)

Ditinjau dari subjeknya, kekhusyuan diidentifikasi sebagai keyakinan penuh akan pertemuan dengan Allah kelak di yaumul akhir. Namun demikian, pertemuan dengan Allah tersebut bukanlah pemberian cuma-cuma atau peristiwa kebetulan semata. Pertemuan dengan Allah adalah hasil dari sebuah proses panjang berliku yang penuh dengan perjuangan. Kesuksesan menggapainya adalah keistimewaan tertinggi dan puncak dari segala nikmat serta keindahan dan kenikmatan tiada hingga.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang dapat merasakan nikmat tersebut kelak di akhirat. Amiin.  (DR. Aam Amiruddin)

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment