Meretas Nikmat Menabur Syukur : Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 47-48 (Bag 3)

hari akhir, kiamat

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang empat gambaran umum kondisi hari akhir berdasarkan ayat ke-48 surat Al-Baqarah, yang ketiga adalah tidak diterimanya tebusan. Bila kita berkaca pada sistem peradilan di dunia, maka kita akan menyaksikan betapa hukum bisa diperjualbelikan, bahkan dipermainkan. Hukum yang berat dapat menjadi ringan karena ada jaminan atau tebusan.

Sebaliknya, hukum yang seharusnya ringan menjadi berat karena tidak adanya jaminan materi. Di akhirat nanti, keadaan yang menyesakkan dada seperti itu sama sekali tidak akan terjadi. Selain memang tidak ada yang bisa dijadikan tebusan, kekuatan peradilan hari akhir yang maha adil tidak akan memberikan peluang pembelaan hukum di luar ketentuan.

Keempat, tidak ada katagori saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya. Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa di akhirat (sebelum berlaku kehidupan surga atau neraka) manusia tidak saling mengenal. Alasannya sederhana, saat itu semua manusia hanya sibuk memikirkan nasib masing-masing dan sibuk mempersiapkan diri menghadapi dakwaan atas yang telah dilakukannya di dunia.

Wajar kalau kemudian banyak kalangan frustasi dan mengangankan dirinya bukan manusia atau merengek-rengek ingin dikembalikan ke dunia barang sehari saja untuk memperbaiki yang dulu pernah diperbuatnya seperti digambarkan dalam ayat berikut ini.

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.’” (Q.S. An-Naba [78]: 40)

promooktober1

“Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: ‘Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?’ Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.” (Q.S. Al-Araaf [7]: 53)

Begitulah hari akhir. Pada hari itu semua ikatan yang merekatkan hubungan manusia terputus. Pada hari itu pula dinamika kehidupan dunia tidak lagi berlaku. Tidak ada perkara jamin menjamin, tebus menebus, dan tolong menolong. Masing-masing hanya bisa bersandar pada kekuatan iman dan keikhlasan amalnya.

Oleh karena itu, keyakinan akan adanya proses penjaminan dari seseorang terhadap dosa yang dilakukan banyak orang atau mekanisme penebusan dosa dengan menyerahkan sejumlah uang adalah kesesatan yang nyata. Karenanya, marilah kita berusaha dan berikhtiar semaksimal mungkin meraih rido Allah dengan iman, ilmu, dan amal. Itulah tiga pilar utama untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

(TAMAT)

(Visited 35 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment