Cara Terbaik dan Paling Aman dalam Menafsirkan Al-Qur’an

alquran

Ustadz, bagaimanakan cara yang paling baik untuk menafsirkan Al-Qur’an agar tidak terjebak pada pemikiran yang sesat?

 

 

Ustadz Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ada dua cara yang baik dan paling aman dalam menafsirkan Al-Qur’an,

alquran muasir

Pertama, Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Sesungguhnya antara satu ayat dengan ayat lainnya kadang saling menjelaskan, apa yang tidak jelas pada salah satu bagiannya akan dijelaskan pada bagian lainnya. Yang kita lakukan di sini adalah merujuk kepada Pemilik Al-Qur’an dalam menafsirkan maksud dan kehendak-Nya yang tertera dalam fi rman-Nya. Sebab Dialah yang lebih tahu apa yang Ia sampaikan dan apa yang Ia inginkan.

Kedua, jika penjelasan itu tidak dapat kita temukan dalam Al-Qur’an, langkah selanjutnya adalah Menafsirkan Al-Qur’an dengan Sunah Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. adalah utusan Allah yang bertugas menyampaikan wahyu kepada umat manusia. Karena itulah ia lebih mengerti maksud dan kehendak-Nya. Allah Swt. telah menjamin bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah mengucapkan sesuatu dari hawa nafsunya tapi selalu dengan bimbingan wahyu. Karena itu, merujuk pada tafsirnya tentu lebih utama dan lebih layak daripada yang lain.

Sebagai penguat apa yang dikatakan di atas, silakan perhatikan firman-firman berikut,

kalender

…Agar kamu terangkan kepada ma nusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka berpikir.” ( Q.S. An-Naĥl [16]: 44)

Allah yang mengutus seorang Ra sul kepada kaum buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang memba cakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajar kan Kitab dan Hikmah (Sunnah) kepada mereka meskipun sebelumnya mereka dalam kesesatan nyata.” ( Q.S. Al-Jumu‘ah [62]: 2).

Yang dimaksud dengan mengajarkan ayat-ayatnya kepada mereka adalah menjelaskan makna-makna dan hukum-hukumnya.

Ketiga, jika kita tidak menemukan penjelasan itu dalam sunah Rasulullah Saw., langkah selanjutnya adalah Menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapat para sahabat. Sahabat adalah umat Islam yang pernah bertemu dengan Rasulullah Saw. para sahabat menyaksikan proses turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah Saw., mengetahui sebab-sebab, serta berbagai situasi dan peristiwa saat Al-Qur’an diturunkan.

Di samping itu, merekalah generasi yang lebih memahami pelik-pelik bahasa Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka. Di atas semua itu, mereka telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, percaya pada seluruh kandungan dan makna Al-Qur’an, serius dalam memahami dan merenungi makna-maknanya, kemudian mengamalkannya secara konsisten, sepanjang hayat mereka.

Keempat, jika kita tidak menemukan penjelasan dari para sahabat Rasulullah Saw., langkah selanjutnya adalah mencari penjelasan dari para tabi’in (Menafsirkan Al-Qur’an dengan penjelasan para tabi’in). Tabi’in adalah murid para sahabat. Rasulullah Saw. sendiri telah menyatakan bahwa mereka adalah generasi terbaik setelah generasi sahabat.

Sabdanya, “Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman sesudahku, kemudian zaman sesudahya lagi.” ( H.R. Muslim dari Abdullah, Sahih Muslim, Fadhoilu al-Shahabat, vol.II, hal.503, Daar el-Fikr).

Itulah sebabnya, merujuk pada penjelasan dan tafsir mereka jauh lebih baik dan lebih layak dibandingkan tafsir yang lain.

Bertolak dari analisis di atas, bisa kita simpulkan bahwa cara yang paling baik dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah dengan merujuk pada ayat Al-Qur’an lagi, kalau kita tidak menemukan penjelasannya dalam ayat lain, kita merujuk pada sunah Rasul Saw. Kalau dalam sunah Rasul pun kita tidak menemukan penjelasannya, kita merujuk
pada pendapat para sahabat. Kalau kita tidak mendapatkan penjelasan dari mereka, kita merujuk pada para muridnya, yaitu para tabi’in.

Dan kalau kita tidak mendapatkan penafsiran para tabi’in, kita diperbolehkan berijtihad (mencurahkan segala potensi intelektual untuk memahaminya). Wallahu A’lam  (DR. H. Aam Amiruddin)

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah