Meretas Nikmat Menabur Syukur : Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 47-48 (Bag 2)

jembatan

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran [3]: 110 )

Apapun namanya, ayat di atas sebenarnya ditujukan kepada kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw. Keutamaan yang diberikan kepada kita sebagai umat akhir zaman tidak kalah banyaknya dengan keutamaan yang diberikan kepada Bani Israil. Jika tidak menjaga diri dari sikap dan perilaku seperti Bani Israil, apa bedanya kita dengan mereka? Apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan diri dari adzab Allah?

alquran muasir

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”(Q.S. Ibrahim [14]: 7)

Sudah saatnya kita menyadari betul bahwa keutamaan suatu kaum adalah pemberian Allah Swt. semata. Kehadirannya adalah wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Nikmat itu ada yang bersifat personal dan ada pula yang bersifat kolektif. Secara personal (kalau kita coba hitung nikmat yang diterima), kita tidak akan pernah mampu menghitungnya dengan alat secanggih apapun. Apalagi kalau kita mencoba melihat dan menghitung nikmat tersebut secara kolektif. Kita hidup di negara tercinta yang aman, damai, dan subur. Itu merupakan nikmat kolektif yang amat besar yang kita terima saat ini.

Kita patut mensyukuri setiap nikmat yang diterima karena kelak kita akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Karena itu, pada ayat berikutnya Allah mengingatkan kita agar senantiasa takut terhadap hari pembalasan. Pada hari itu, setiap orang akan mempertanggungjawakan perbuatannya masing-masing tanpa sedikitpun ada campur tangan orang lain.

kalender

****

Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.”  (QS. Al-Baqarah [2]: 48)

Mari kita sadari bahwa setiap detik di sepanjang hidup di dunia tidak dapat lepas dari curahan nikmat yang diberikan Allah Swt. Dari setiap nikmat per detik itu, suatu hari Allah akan mempertanyakannya dari yang terkecil sampai yang terbesar. Tidak ada satu pun dari makhluk-Nya yang diberi kesempatan (barang sedikit) untuk mempengaruhi kebijakan-Nya dalam menetapkan sesuatu. Itulah hari akhir yang merupakan hari perhitungan dan hari pembalasan bagi segenap manusia dan jin dengan sistem hukum dan peradilan yang seadil-adilnya. Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman.

(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Q.S. Al-Najm [53]: 38-39)

Berdasarkan ayat ke-48 surat Al-Baqarah di atas, sekurang-kurangnya ada empat gambaran umum kondisi hari akhir. Pertama, setiap manusia tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk melakukan pembelaan satu sama lain meskipun di dunia sempat terjadi hubungan yang sangat erat secara kekerabatan, jawatan, persahabatan, dan lain sebagainya. Pada hari itu, setiap orangtua lari dari anaknya (dan begitu pula sebaliknya), suami lari dari istrinya (dan begitu pula sebaliknya), kakak lari dari adiknya (dan begitu pula sebaliknya), dan demikian seterusnya. Allah Swt. berfirman.

Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (Q.S. ‘Abasa [80]: 34-37)

Kedua, tidak berlaku syafaat dari siapa pun sehingga tidak ada kebijakan yang diberikan pada seorang hamba yang keluar dari ketentuan (yang seharusnya). Pada hari itu, mustahil ada tindakan seseorang (dengan alasan apa pun) yang dapat menjadi jaminan hukum. Perlu diketahui bahwa proses syafaat hanya berlaku sebelum hari akhir, itupun ketentuan diterima dan tidaknya tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah Swt. Ketika hari akhir tiba, syafaat hanya berupa keputusan akhir atas izin Allah. Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman.

Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?” (Q.S. Al-Muddatsir [74]: 48-49)

Peristilahan syafa’at seringkali diartikan sebagai doa atau permohonan untuk menolong seseorang kelak di akhirat agar diringankan atau dihapuskan dari beban dosa yang dipikulnya. Dengan demikian, syafaat dalam hal ini berfungsi sebagai upaya pengurangan atau penghentian status hukum seseorang karena adanya permohonan dari orang lain. Namun demikian, hal tersebut tidak berarti bahwa keputusan Allah bisa dipengaruhi tindakan makhluk-Nya karena syafaat berlaku justru atas izin-Nya.

Perkara syafaat ini cukup hangat diperbincangkan di kalangan ulama. Sebagian tidak menerima atau meniadakan perkara syafaat ini dengan merujuk pada beberapa ayat yang menafikkan syafaat. Sebagian yang lain tetap menerima dan meyakini adanya syafaat kelak di hari kiamat dalam batasan tertentu. Sebagian ulama yang lain menerima dan meyakini syafaat secara sangat longgar.

Tentunya sikap kedua (menerima dan meyakini adanya syafaat kelak di hari kiamat dalam batasan tertentu) lebih proporsional dalam menyikapi syafaat karena peniadaan syafaat dalam sejumlah ayat lebih dimaknai sebagai pengkhususan bagi sebagain kelompok manusia yang kelak (di hari akhir) tidak akan mendapat syafaat. Mereka adalah kaum kufar beserta kroni-kroninya. Memaknai syafaat secara sangat longgar pastinya sangat tidak tepat. Pemahaman ini tidak secara ketat membedakan siapa saja yang berhak memberi syafaat serta mengesampingkan rasionalitas dalam memahami syafaat. Hal ini memberi peluang pada keyakinan mudahnya dosa terampuni tanpa usaha sebagaimana keharusannya.

Bersambung…

[irp posts=”1043" name=”Meretas Nikmat Menabur Syukur : Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 47-48 (Bag I)”]

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment