Memuliakan Wanita Dalam Bingkai Rumah Tangga

175

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

Meski aturannya sudah tertera dengan jelas, masih banyak sahabat kita yang terjebak bujuk rayu laki-laki nonmuslim. Sebagai parameter, semakin banyak media menampilkan pasangan selebriti beda keyakinan sebagai model keluarga harmonis. Pendapat yang marak beredar di masyarakat yaitu pernikahan beda agama adalah urusan privacy dan hak asasi yang bersangkutan. Padahal Allah Swt telah mengharamkannya:

 “Mereka (wanita-wanita beriman) tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka…” (Q.S. Al Mumtahanah 60: 10).

Firman Allah swt. di atas dengan tegas melarang pernikahan berbeda keyakinan. Pasal 44 Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan, seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang bukan muslim.  Bahkan demi memuluskan nikah beda agama, sebuah yayasan Islam di Jakarta menyatakan bisa melegalkan pernikahan ini di dalam negeri. Memang, alternatif yang diambil banyak pasangan beda agama ialah menikah di catatan sipil luar negeri.

Alasan umum yang dikemukakan para wanita ini ialah anggapan bahwa semua agama baik; masing-masing toleran pada agama pasangan; sampai mendapatkan contoh tradisi lingkungan keluarga yang berbeda agama. murtad dari Islam. Tambahan pula, cinta pada ketampanannya, status, mapan, cerdas, perilaku memikat, pengertian, perhatian, sabar, setia, dan romantis. Sadarilah sebagus apa pun dia, Allah swt. telah menyatakan,

promo oktober

“…Dan janganlah kamu menikahkan laki-laki musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Dan sesungguhnya hamba sahaya mukmin itu lebih baik daripada laki-laki  musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Q.S. Al Baqarah 2: 221).

Waspadalah! Rasa simpati, akrab dengan lawan jenis nonmuslim sangat beresiko, dikhawatirkan hubungan tersebut berujung ketertarikan. Alhamdulillah, beruntung  bila ia sungguh-sungguh muallaf yang ikhlas masuk Islam, mencintai agama Islam, dan Anda.

Bila tidak? Walaupun pria bersedia akad secara Islam, dalam praktiknya selalu ada yang kembali pada keyakinan semula. Otomatis hubungan nikah di antara mereka tidak sah. Dalam KHI Bab Putusnya Perkawinan pasal 116, “Perceraian dapat terjadi karena alasan peralihan agama atau murtad.” Rawan, bukan?

 

Memuliakan itu dengan menafkahi

Allah swt. memerintahkan suami menafkahi istrinya baik lahir maupun batin. “…Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf…” (Q.S. Al Baqarah 2: 233). Pihak pria proaktif mencari nafkah lahir meliputi sandang, pangan, papan sesuai dengan kemampuannya, tidak ada yang ditutup-tutupi. Karena kelak kebaikan suami akan dilipatgandakan.

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (Q.S. Al Haqah 69: 7).

Rasulullah saw. bersabda, “Jika seseorang di antara kamu berhubungan intim dengan istrinya, hendaklah ia bersungguh-sungguh. Bila ia sedang menyelesaikan kebutuhannya, maka janganlah ia bergesa-gesa (untuk mengakhirinya) sebelum kebutuhan istrinya diselesaikan pula.”

Selain hubungan intim, termasuk urusan batin adalah perlakuan suami secara mu’asyarah bil ma’ruf , berperilaku lembut, perhatian, cinta kasih, romantis, membantu tugas istri, menjaga kerahasiaan hubungan suami istri, musyawarah, memaklumi kekurangan dan melihat kelebihan istri (Q.S. An-Nisa 4: 19).

Tolok ukur sukesnya seorang pria dalam menafkahi istri tergambar dalam pernyataan hadis, “Orang mukmin yang paling baik imannya yaitu orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara kamu yaitu orang yang sangat baik kepada istrinya.”

Betapa beruntungnya suami yang mencukupi kebutuhan nafkah istri,  menghantarkannya ke derajat mukmin dan akhlak mulia!. Sementara ukuran nafkah sendiri tidak ada yang baku harus seberapa besar atau sama dengan orang lain. Keridoan istri dalam menerima pemberian nafkah suami akan menjadi salah satu pintu kebahagian dunia akhirat. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisan  ke email: [email protected] atau: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

(Visited 211 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment