Hukuman Kebiri tak Pernah Dianjurkan dalam Islam

hukuman

Wacana penerapan hukum kebiri bagi pelaku kejahatan seksual akhir-akhir ini ramai diperbincangkan. Banyak pihak mengusulkan hukuman ini, meski tak sedikit yang mempertanyakan efektivitasnya.

Lalu, bagaimana sebenarnya dalam kacamata Islam mengenai hukuman yang satu ini.  Beberapa tokoh Islam pun angkat bicara menyatakan pandangannya tentang hukum kebiri.  Ada yang membuka kemungkinan namun ada pula yang tidak menyarankannya karena hukuman yang satu ini memang tidak pernah diajarkan oleh Islam.

alquran muasir

Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), Aceng Zakaria, misalnya menegaskan bahwa hukum kebiri tidak pernah dianjurkan untuk diterapkan, baik dalam Al Qur’an maupun hadis. Menurut Aceng, tindak kejahatan seksual dalam Islam terbagi dua, perzinaan dan pemerkosaan, namun tidak ada hukuman kebiri.

“Hukum kebiri tidak ada dalam Islam,” kata Aceng seperti dilansir Republika.co.id.

Ia menjelaskan, kasus perzinaan dalam Islam untuk perempuan dan laki-laki yang belum menikah, akan dijatuhi hukuman cambuk sebanyak 100 kali. Sedangkan untuk perempuan dan laki-laki yang sudah berstatus pernikahan, dalam Islam para pelaku akan dijatuhi hukuman rajam.

kalender

Aceng menambahkan, untuk kasus kejahatan seksual dengan unsur pemaksaan seperti pemerkosaan, Islam menerapkan hukuman tambahan bagi pelaku saja. Terkait hukuman tambahan tersebut, ia menekankan keputusan akan diambil melalui pertimbangan-pertimbangan penguasa.

Aceng berpendapat, hukum-hukum yang ada dalam Islam sesungguhnya sudah cukup bisa membuat jera para pelaku. Pasalnya, hukuman rajam biasanya berakhir dengan kematian, apalagi kalau terdapat hukuman tambahan bagi pelaku yang ditetapkan penguasa.

Sementara itu Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menilai penerapan hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual pada anak mungkin saja diterapkan dalam kondisi sangat khusus.

“Ya kalau memang korbannya sangat banyak, maka jalan terakhir hukumannya adalah kebiri maka hal itu layak diberikan,” katanya di sela-sela acara Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin, 23 Mei 2016.

Menurut Din, pemberian hukuman kebiri memiliki dimensi manusia dan agama. Dalam dimensi manusia, ketika dilahirkan setiap orang memiliki hasrat biologis. Namun hal itu harus disalurkan dengan cara yang benar. Dalam dimensi agama, maka orang membunuh adalah qisas, namun ketika melakukan pemerkosaan tidak disebutkan hukumannya kebiri.

“Makanya dalam hal ini sebelum memberlakukan hukuman kebiri maka harus dibahas lebih dahulu dengan melibatkan para pemuka agama. Jangan pemerintah asal mengeluarkan aturan yang terburu-buru melegalkan hukuman kebiri,” ujarnya menjelaskan.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini juga menyatakan, maraknya kekerasan seksual yang menimpa anak harus menjadi instrospeksi bagi masyarakat Indonesia. Introspeksi ini meliputi cukup tidaknya pelajaran agama dan pendidikan di dalam keluarga.

“Namun yang jelas jika ingin memberi efek jera bagi pelaku kejahatan seksual kepada anak-anak, maka hukumlah seberat-beratnya kepada pelaku yang terbukti, berdasarkan aturan yang ada di negara ini,” Kata Din.

Dia menilai, akan menjadi ironis, jika pelaku sudah terbukti melakukan pemerkosaan dengan jumlah korban banyak, tapi hukuman yang diberikan hanya beberapa tahun di penjara.

“Kalau seperti itu dilakukan maka orang lain akan melakukan hal yang sama.”

Sumber : Republika, Vivanews

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Komentar Artikel “Hukuman Kebiri tak Pernah Dianjurkan dalam Islam

  1. Terimakasih atas informasinya min..

Leave a Comment