Solusi Islami Hadapi Anak Tempramental

marah

Anak saya sudah berumur dua puluh. Jika diajak bicara, dia selalu menjawab dengan bentakan. Kadang saya bingung menghadapinya. Malah, saya sampai ribut dengan pasangan karena masalah anak yang tempramen itu. Bagaimana solusinya, ustadz?


Menyelesaikan masalah seperti itu cukup sulit dan butuh waktu panjang. Saya di sini hanya ingin memberikan nasihat kepada para orangtua yang anaknya masih kecil. Karena, bila sudah dewasa akan sulit diubah dan hanya hidayah yang mampu mengubah mereka.
Anak tempramen itu tidak terjadi begitu saja, prosesnya lama.

Bahkan, bisa jadi telah terbentuk sejak dalam kandungan. Ada sebuah buku berjudul Human Development karya Erick Jensen. Di situ dijelaskan bahwa bila istri sedang hamil, sebisa mungkin emosi istri tetap stabil. Kita harus mengkondisikan agar ibu-ibu yang sedang mengandung selalu dalam kondisi fit, baik jasmani, pikiran, dan rohani. Karena ketika dia marah, maka hormon adrenalin di darah meningkat dan bagi ibu hamil, hormon ini akan terbawa oleh plasenta ke bayinya. Melalui pencitraan 4 Dimensi, kita bisa melihat ketika seorang ibu hamil marah, maka bayi yang ada di rahimnnya pun ikut marah. Kalau hal tersebut sering terjadi, bisa gawat. Singkatnya, menurut buku tersebut, sifat tempramen itu ada juga yang bersifat genetik.

Jadi, mari kita evaluasi diri dan flashback, jangan-jangan dulu kita pemarah saat hamil juga saat membesarkan anak sehingga anak-anak meniru yang kita lakukan. Karena, jika anak dibesarkan dengan caci maki, dia belajar berkelahi. Jika anak yang dibesarkan dengan motivasi, dia akan berlajar percaya diri.

Jika mereka dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang, dia akan belajar menemukan cinta dalam hidupnya. Jadi, mari kita lihat kedua faktor ini (genetik dan lingkungan) yang kita berikan kepada anak. Bila tidak ada yang keliru, bisa jadi anak kita menjadi tempramen karena kekecewaan yang tersimpan. Kekecewaan yang dimaksud di sini bisa kepada siapapun, bisa jadi kepada ayah, ibu, guru, teman, atau siapa saja. Rasa kecewa ini berbuah kesal dan emosi menjadi tidak stabil.

Kalau boleh saya sarankan, Anda berkonsultasilah kepada psikolog spesialis anak agar perasaan kecewa anak tersebut tergali dan mudah dicarikan solusinya. Karena, solusi untuk anak-anak seperti itu tidak cukup didialogkan dengan ustadz, tetapi perlu pikiran dari para ahli di bidangnnya. Wallahu a’lam.

(Visited 106 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment