Meretas Nikmat Menabur Syukur : Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 47-48 (Bag I)

Oleh : Dr. Aam Amiruddin

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 47)

Ayat ini merupakan peringatan kedua bagi Bani Israil terkait sederet nikmat yang telah dilimpahkan Allah pada mereka. Sebelumnya (pada ayat ke-40 surat Al-Baqarah), Allah mengingatkan agar mereka memenuhi janji-janji yang telah diucapkan. Peringatan berulang ini menunjukkan betapa buruknya sifat yang melekat kuat dalam diri Bani Israil. Sifat buruk tersebut adalah kelalaian akan kewajiban bersyukur atas nikmat yang mengalir deras kepada mereka.

Kenikmatan pertama adalah diberikannya keutamaan kepada Bani Israil di antara bangsa-bangsa lainnya di dunia saat itu. Para ahli tafsir memberi penjelasan beragam mengenai keutamaan yang diberikan kepada Bani Israil tersebut. Abu Qatadah memberi pengertian bahwa keutamaan yang dimaksud adalah kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (Bani Israil) dalam bidang keilmuan yang notabene menonjol bila dibandingkan dengan ilmuwan-ilmuwan lain di luar Bani Israil. Abu ‘Aliyah menjelaskan ayat ini dengan mengatakan bahwasannya Bani Israil diberi kelebihan dengan turunnya sejumlah nabi, kitab, dan raja yang berasal dari keturunan mereka. Ibnu Zaid menafsirkan keutamaan ayat tersebut dengan mengatakan bahwasannya Bani Israil memiliki kekuatan ilmu dibandingkan kaum yang lainnya sambil membacakan ayat berikut.

“Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa.” (Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 32)

promooktober

Ibnu Zaid kemudian menambahkan bahwasannya keutamaan ilmu Bani Israil hanya berlaku selama mereka mengikuti ajaran Rasul yang diturunkan kepada mereka. Karena membangkang, meski memiliki kecerdasan luar biasa, Bani Israil tidak dapat dikatakan memiliki keutamaan dalam bidang keilmuan dan bahkan dalam Al-Quran mereka divonis tak lebih dari seekor kera yang hina.

Al-Maraghi mengomentari ayat ke-47 surat Al-Baqarah tersebut di atas dengan mengatakan bahwasannya kelebihan itu lebih bersifat kolektif dan bukan masing-masing personal Bani Israil. Al-Maraghi menambahkan bahwa keutamaan itu hanya berlaku untuk Bani Israil sebelum datangnya Islam. Dengan datangnya Nabi Muhammad Saw., predikat keutamaan suatu bangsa beralih kepada umat Rasulullah Saw. sesuai dengan firman-Nya berikut ini.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran [3]: 110 )

Bersambung……….

 

 

(Visited 62 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment