Pria Usia 40-an Alami Puber Kedua, Mitos atau Fakta?

pria, senyum, puber

Ada mitos yang berkembang di masyarakat bawah saat lelaki memasuki usia 40 tahunan, maka ia akan kembali mengalami puber. Bagi ibu-ibu yang mempercayainya apalagi memiliki suami yang usianya mendekati 40 tentu mitos ini akan menimbulkan perasaan was-was. Sebagian istri akan bersikap protektif kepada suaminya. Segala sikap dan perilaku suami akan mendapat perhatian lebih dari biasanya. Apalagi, jika sang suami kerjanya atau tengah mendapat tugas di luar kota, perasaan khawatir serta curiga akan semakin besar.

Konon katanya, ketika seorang suami yang tengah mengalami masa puber kedua ini akan ditandai dengan beberapa sikap layaknya seorang anak baru gede (ABG) yang memasuki masa puber. Perilaku tersebut seperti jadi rajin dandan, menyisir rambut, bercermin lama, berkata dengan genit dan beberapa perilaku ABG lainnya. Konon juga perilaku tersebut dibarengi emosi yang labil dan mudah tersinggung serta ingin dipuji layaknya ABG yang tengah mencari perhatian lawan jenisnya. Benarkah demikian dan benarkah puber kedua hanya dialami kaum laki-laki saja?.

alquran muasir

Menurut tinjauan psikologis, masa puber pada seseorang khususnya masa kanak-kanak atau remaja datang seiring dengan perkembangan hormon-hormon seksualnya. Pengaruh hormonal ini bukan membuat organ reproduksi menjadi matang dan siap berfungsi, melainkan juga pada sisi emosi dan kejiwaan yang berubah.

Perubahan tersebut dalam rangka menuju proses kematangan sikap, pikir dan bertindak menjadi lebih dewasa secara bertahap. Karena masih dalam tahap pertumbuhan, maka tak heran jika pada masa puber anak-anak sering berubah-ubah baik sikap,perilaku,emosi juga perasaan yang ditandai dengan kebingungan mau berbuat apa atau mau bagaimana.

Ciri menonjol lainnya masa pubertas pada anak-anak adanya perasaan ketertarikan pada lawan jenis. Tak mengherankan jika masa puber membuat mereka tertarik atau sering membicarakan tentang seseorang yang tengah disukai atau teman-temannya yang dianggap ‘spesial” baginya. Pembicaraan tersebut akan semakin terbuka jika mereka berkumpul dengan teman-teman yang satu kelompok. Ia akan segera tersipu malu atau berlagak marah tatkala temannya menyebut nama seseorang yang tengah disukai.

kalender

Kapan tepatnya anak akan mulai mengalami puber dan kapan akhir masa tersebut?. Para ilmuwan belum dapat menentukan secara pasti dan awal dan akhir masa puber seorang anak. Sebab, pada kenyataannya seorang anak akan mengalami masa puber yang berbeda termasuk dengan teman seusianya. Ada yang mengalami pada usia 9 tahun namun ada juga terlambat dengan mengalami masa puber menjelang usia 14 tahun bahkan 15 tahun.  Demikian juga dengan akhir masa puber. Rata-rata puber berakhir seiring masuknya masa menuju dewasa yakni sekira usia 18 tahun atau ketika masuk usia 20 tahun. Namun para psikolog  memastikan masa puber ini hanya datang satu kali dalam hidup seseorang.

Lalu bagaimana dengan mitos puber kedua pada lelaki? Bukankah terkadang saat usia 40 tahunan khususnya seorang laki-laki memiliki perilaku dan sifat yang mirip dengan anak usia puber? Jawabannya masa puber kedua itu hanyalah mitos belaka. Secara ilmiah, masa puber hanya datang sekali, baik pada laki-laki maupun perempuan ketika akan memasuki masa (usia) akil baligh.

Fenomene “kembali puber” yang tampak dialami oleh orang dewasa khususnya kaum pria sejatinya dikarenakan problem-problem tertentu yang tengah dialaminya sebagai latar belakang adanya masalah semata. Dengan demikian, ciri atau gejala “aneh” pada “abg dewasa” tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai tanda puber.

Justru sikap dan gejala “puber” pada orang dewasa tersebut bisa dianggap sebagai sikap yang kurang percaya diri, atau juga karena kurang perhatian khususnya dari pasangan hidupnya bagi yang sudah berkeluarga.

Dalam khazanah Islam, yang sering dikaji berdasarkan sejarah, usia 40 tahunan justru dianggap sebagai masa penting bagi seorang laki-laki sebagai fase kematangan jiwa, emosi dan spiritual. Sebagai bukti, beberapa ulama kemudian mengaitkan usia ini dengan diangkatnya para Nabi dan Rasul sebagai pembawa risalah Allah untuk seluruh manusia dimuka bumi.

Bahkan beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa Musa,Isa, Ibrahim dan Nuh bahkan Muhammad sendiri diangkat sebagai Nabi dan Rasul pada usia paruh baya atau antara 40 tahun hingga 55 tahun. Hal ini bisa kita rujuk pada Al-Qur’an dimana Allah berfirman :

Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandung dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Masa mengandung sampai menyapihnya selama 30 bulan. Sehingga, apabila anak itu telah dewasa dan umurnya mencapai 40 tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhoi. Berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai anak cucuku. Sesung¬guhnya, aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang Muslim.” (QS.Al-Ahqaf : 15)

Dengan bertambahnya usia, khususnya menginjak 40 tahun, seseorang harusnya semakin bertambah matang. Usia ini boleh dikata “usia emas” dimana ia pada fase dewasa menuju tua. Pada usia ini, tentu saja seorang manusia sudah banyak belajar dari asam garam kehidupan. Banyak ilmu serta pengalaman baik yang dialami sendiri maupun belajar dari perjalanan orang lain, sehingga bekal menuju hari tua semakin mantap. Bahkan ada sebagian orang usia 40 atau 45 tahun sudah ada yang mempunyai menantu atau cucu sehingga sudah dipanggil kakek atau nenek.

Bagi seorang muslim, usia 40 tahun bisa dimaknai sebagai masa pertengahan hidup, karena menurut para ahli angka harapan hidup di Indonesia berkisar antara 60 tahun hingga 75 tahun saja. Bahkan usia Rasulullah Saw sendiri hanya sampai 63 tahun saja.

Berangkat dari surat Al-Ahqaf ayat 15 tersebut, seharusnya usia ini seharusnya diisi dengan ragam ibadah dan rasa syukur, tambah sayang dan cinta pada pasangan serta keluarga sehingga semakin dekat dengan Allah. Akan aneh dan “menyimpang” jika pada usia ini malah diisi dengan sikap dan amalan yang jauh dari usianya seperti amalan anak remaja.

Dengan demikian, tidak perlu khawatir ketika memasuki usia 40 tahun, khususnya kaum ibu yang mungkin ada perasaan suaminya akan pindah ke lain hati. Tentu saja yang tidak boleh dilupakan atau ditinggalkan adalah senantiasa berdoa untuk ditetapkan dalam kebaikan,karena Allah Maha membolakbalikan hati manusia. Berdoa agar Allah meneguhkan dan melindungi dari ragam godaan yang mungkin dapat membalikkan sikap kita. [  Iman, Berbagai sumber ]

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment