Memahami Gelombang Otak untuk Terapi

gelombang otak

 Oleh: Gagan Pribadi*

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah akrab dengan istilah gelombang sebagai media komunikasi seperti gelombang radio, gelombang televisi atau dalam terapan lebih khusus ada gelombang radar, gelombang sonar, gelombang seismic serta gelombang lainnya. Begitu dalam dunia medis (kedokteran) sebagian besar dari kita pasti pernah sakit lalu diperiksa ‘heart rate’nya dengan menggunakan stetoskop yakni sebuah alat yang ditempel di telinga saat menggunakan tensimeter. Jika belum mengalami sakit dan diperiksa dengan stetoskop,bagi sebagian besar orangtua abad ini khususnya para ibu saat hamil pasti pernah memeriksakan kandungannya dengan visualisasi janin yang memanfaatkan ultrasonograpry (USG), yang merupakan terapan gelombang bunyi.  Atau kalau pun belum pernah dua hal tersebut  minimal pernah melihat di televisi dalam sebuah sinetron,dimana ada seseorang yang dalam keadaan kritis tengah dipasang alat detak jantung yang bernama Elektrocardiography (ECG) yang berbasiskan gelombang. Alat ini akan mengeluarkan sinyalnya dengan bunyi tiit berkali-kali.

Jika gelombang tersebut ada diluar tubuh kita,tahukah Sobat Mapi bahwa dalam diri kita juga terdapat gelombang? Kita akan tertegun,ternyata gelombang itu dalam otak yang setiap detik kita gunakan untuk berpikir. Jaringan otak manusia ini menghasilkan gelombang listrik yang berfluktuasi. Neuron-neuron di korteks otak mengeluarkan gelombang-gelombang listrik dengan voltase yang sangat kecil dengan ukuran mikro volt (mV). Dalam bahasa Inggis gelombang listrik dalam otak ini  disebut brainwave.

Bagi kita yang pernah belajar ilmu fisika, identifikasi gelombang umumnya dikaitkan dengan panjang gelombang atau frekwensi-nya. Sementara dalam gelombang otak ini yang akan kita pelajari adalah fekuensi-nya. Lalu apakah sih frekuensi itu? Secara singkat frekuensi dapat dijelaskan sebagai jumlah pulsa (impuls) perdetik dengan satuan hertz (Hz). Berdasarkan riset oleh para ahli selama bertahun-tahun di berbagai negara khususnya di Eropa dan Amerika, frekwensi otak manusia berbeda-beda untuk setiap fase sadar, rileks, tidur ringan, tidur nyenyak, trance, panik, terhipnotis, bermimpi, tidur berjalan dan sebagainya. Melalui penelitian yang panjang, akhirnya para ahli syaraf (otak) sependapat bawah gelombang otak  berkaitan dengan kondisi pikiran.

Dari hasil riset selama itu juga menunjukkan bahwa gelombang otak tidak hanya menunjukkan kondisi pikiran dan tubuh seseorang, tetapi dapat juga distimulasi untuk mengubah kondisi mental seseorang. Dengan mengkondisikan otak agar memproduksi atau mereduksi jenis frekuensi gelombang otak tertentu, maka dimungkinkan untuk menghasilkan beragam kondisi mental dan emosional sehingga bisa diterapkan dalam proses terapi atau penyembuhan khususnya dari penyakit gangguan kejiwaan sebagai akibat tekanan atau beban mental yang berlebihan sehingga ia tidak sanggup mengembalikan ke keadaan semula.

promo oktober

Berdasarkan penggolongan para ahli,secara garis besar, otak manusia menghasilkan empat jenis gelombang otak (brainwave) secara bersamaan, yakni Gamma, Beta, Alpha, Tetha serta Delta. Namun perlu dipahami bahwa  selalu ada jenis gelombang otak yang lebih dominan dibanding dengan yang lain. Gelombang otak yang dominan ini menandakan adanya aktivitas otak saat itu. Sebagai contoh jika kita tertidur, maka gelombang otak yang dominan adalah Delta sementara jika sedang marah maka yang dominan adalah Alfa.

Sobat Mapi,untuk lebih jelasnya berikut kita sajikan klasifikasi gelombang otak berdasarkan frekuensinya:

  1. Gamma (dengan frekuensi 20 hz -40 hz)

Gelombang Gamma cenderung merupakan yang terendah dalam amplitudo dan gelombang paling cepat. Ia adalah gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktivitas mental yang sangat tinggi, misalnya sedang berada di arena pertandingan, perebutan kejuaraan, tampil dimuka umum, sangat panik, ketakutan dan sebagainya. Seseorang mengalami kondisi ini dalam kesadaran penuh.

  1. Beta (frekuensinya dari 12 hz – 20 hz)

Gelombang Beta merupakan gelombang otak (Brainwave) yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktifitas mental yang terjaga penuh. Kita berada dalam kondisi ini ketika kita melakukan kegiatan sehari-hari dan berinteraksi dengan orang lain di sekitar lingkungan kita. Frekwensi Beta sendiri adalah keadaan pikiran kita sekaran ini, yakni ketika kita tengah duduk di depan komputer membaca tulisan ini. Para ahli syaraf masih membagi gelombang Beta ini menjadi 3 kelompok, yaitu high beta (lebih dari 19 Hz) yang merupakan transisi dengan getaran gamma , lalu getaran beta (15 hz -18 hz) yang juga merupakan transisi dengan getaran gamma, dan selanjutnya lowbeta (12 hz ~ 15 hz).Perlu kita ketahui gelombang Beta ini di perlukan otak saat kita berpikir, rasional, pemecahan masalah, dan keadaan pikiran di mana kita telah menghabiskan sebagian besar hidup kita.

  1. Alpha ( berada di frekuensi antara 8 hz – 12 hz )

Gelombang Alpha sendiri merupakan gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang tengah mengalami relaksaksi atau mulai istirahat dengan tanda-tanda mata mulai menutup atau mulai mengantuk. Otak kita akan menghasilkan gelombang alpha setiap akan tidur,atau tepatnya saat peralihan antara sadar dan tidak sadar (sebelum tidur lelap). Dalam prakteknya fenomena gelombang Alpha ini banyak dimanfaatkan oleh para pakar hypnosis untuk mulai memberikan sugesti kepada pasiennya. Orang yang memulai meditasi (meditasi ringan) juga menghasilkan gelombang alpha. Frekwensi alpha 8 -12 hz , merupakan frekwensi pengendali, penghubung pikiran sadar dan bawah sadar. Kita bisa mengingat mimpi selama tidur pada pagi harinya, karena kita memiliki gelombang Alpha. Sementara kabur atau jelasnya sebuah mimpi yang bisa kita ingat, tergantung kualitas dan kuantitas gelombang Alpha pada saat kita bermimpi. Pada saat terjadi gelombang Alpha ini adalah pikiran yang paling cocok untuk pemrograman bawah sadar kita.

  1. Theta ( frekuensinya 4 hz – 8 hz )

Gelombang Theta ini merupakan gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami tidur ringan, atau sangat mengantuk. Tanda-tandanya napas mulai melambat dan dalam. Selain orang yang sedang diambang tidur, beberapa orang juga menghasilkan gelombang Theta terhypnosis, sedang meditasi, dalam berdoa atau saat menjalani ritual agama dengan khusyu. Orang yang mampu mengalirkan energi prana atau tenaga dalam sebuah terapi, juga menghasilkan gelombang Theta pada saat mereka latihan atau menyalurkan energinya kepada orang lain.

Sebenarnya dengan latihan rutin dan teratur, kita dapat memanfaatkan gelombang Theta untuk tujuan yang lebih besar, yaitu memasuki kondisi meditasi yang sangat dalam, namun, biasanya begitu kita telah mencapai Theta, kita menjadi mudah tertidur. Disinilah alasan bahwa gelombang Theta adalah keadaan utama untuk pemrograman pikiran bawah sadar kita. Jika kita ingin bereksperimen dengan meditasi melalui gelombang Theta, maka cobalah duduk dengan tegak untuk tetap sadar dan mencegah dari tertidur.

Lalu mengapa bayi dan balita rata-rata bisa tidur lebih dari 12 jam dalam sehari?. Itulah rahasianya mengapa otak anak-anak selalu dalam fase gelombang Alpha dan Theta. Perlu kita ingat, gelombang Alpha dan Theta adalah gelombang pikiran bawah sadar. Oleh sebab itu, pada masa anak-anak cepat sekali dalam belajar dan mudah menerima perkataan dari orang lain apa adanya. Gelombang otak Theta ini juga menyebabkan daya imajinasi pada anak-anak menjadi luar biasa. Ketika mereka bermain mobil-mobilan misalnya, imajinasi mereka aktif dan permainan menjadi sangat seru.

Pernahkah kita mendengar atau membaca sebuh berita dimana telah terjadi kecelakaan hebat yang menewaskan banyak korban,akan tetapi ada keajaiban terjadi di situ?. Dimana diberitakan ada seorang anak bayi selamat dari kecelakaan maut tersebut. Gelombang Otak (Brainwave) Theta juga dikenal sebagai “gelombang ajaib”, karena berkaitan dengan kekuatan psikis. Berdasarkan penyelidikan para ahli, bahwa banyak terjadi kecelakaan pesawat udara, tabrakan, kebakaran, kecelakaan kapal laut yang menewaskan banyak orang. Namun ada keanehan, beberapa anak balita bisa selamat. Kemungkinan ini dikarenakan anak-anak hampir setiap saat dalam kondisi gelombang Theta. Dalam ajaran Islam perasaan dekat dengan Allah Swt pun akan terjadi apabila kita dapat memasuki fase gelombang Theta. Kita mungkin pernah sesekali mengalaminya saat berdoa, salat, atau melakukan ritual-ritual keagamaan,kita dapat rasakan Allah begitu dekatnya. Dengan dasar atau kondisi inilah maka muncul istilah yang disebut dengan  “God Spot” atau titik temu antara kita dengan Allah.

  1. Delta (dengan frekuensi antara 0.5 hz – 4 hz)

Gelombang Delta dalam otak kita ini merupakan gelombang tak yang memiliki amplitudo yang besar dan frekwensi yang rendah, yaitu dibawah 3 hz. Otak kita akan menghasilkan gelombang Delta ini ketika kita sedang tertidur lelap namun tanpa mimpi. Sementara fase Delta adalah fase istirahat bagi tubuh dan pikiran kita. Selama gelombang Delta ini berlangsung maka tubuh kita akan melakukan proses penyembuhan diri, memperbaiki kerusakan jaringan, dan aktif memproduksi sel-sel baru saat kita tertidur dengan lelapnya. Dalam penggolongan gelombang otak posisi gelombang Delta adalah gelombang yang paling rendah pada otak kita. Perlu kita ketahui bahwa otak manusia tidak akan pernah mencapai frekwensi hingga 0 hz. Apa sebabnya?. Sebab jika otak manusia dalam posisi ni (0 hz) maka sesungguhnya ia telah meninggalkan dunia yang fana ini alias meninggal.

Sebanarnya jika kita mengetahui,memahami lalu mengolahnya secara tepat, maka gelombang otak yang ada pada diri kita akan menjadi terapi bagi diri sendiri. Berdasarkan kajian psikologis (para ahli psikolog) sebagian besar penyakit besar yang bersarang dalam tubuh kita berawal dari kondisi mental (psikis) yang tidak sehat. Sangat berasalan jika sedang stress maka akan berpengaruh terhadap kesehatan tubuh ,karena akan membuat susah tidur,istirahat yang tidak teratur,makan minum yang tidak berselera dan sebagainya.

Sobat Mapi,untuk tulisan berikutnya kita akan belajar mengolah energi gelombang otak tersebut sebagai energi penyembuh atau yang menyehatkan sehingga STRESS ITU MEMBUAT BAHAGIA. Bagaimana caranya? Ikuti ulasan selanjutnya. []

*Penulis adalah psikolog dan praktisi terapi gelombang Theta

Editor: Iman

 

 

(Visited 136 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment