Merajut Syukur dalam Cerminan Kisah (Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 40-43) Bag 2

shalat

Jika dalam ayat ke-40 surat Al-Baqarah  Allah menyebut janji bani Israil secara global, maka dalam ayat berikutnya (ayat 41) Allah merinci janji tersebut dan meminta komitmen atas janji tersebut.

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah aku turunkan (Al-Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.”(Q.S. Al-Baqarah [2]: 41)

Perintah dan larangan yang disampaikan Allah kepada Bani Israil dalam ayat ini bisa dimaknai sebagai tagih janji yang telah mereka ikrarkan. Janji mereka yang pertama dan utama adalah kesediaan untuk mengimani ajaran atau wahyu yang dibawa oleh nabi terakhir, yaitu Al-Quran yang isinya memuat pembenaran terhadap wahyu-wahyu yang turun sebelumnya seperti Taurat dan Injil. Alih-alih menjadi pelopor dalam mengimani kenabian Muhammad Saw., bani israil menjadi penggiat dalam menentang ajaran yang dibawa oleh Rasul. karena itu, Allah meminta komitmen mereka untuk segera beriman dan tidak menjadi pelopor pembangkangan serta penolakan terhadap Al-Quran. Lebih dari itu, mereka pun berani menukar nilai yang terkandung adalam ayat-ayat Al-Quran dengan keuntungan semu yaitu rasa gengsi dan egoisme.

Memang, ayat ini ditujukan secara khusus kepada bani Israil. Namun demikian, secara umum ayat ini dimaksudkan untuk memberi peringatan kepada kaum muslim. Jadikanlah perilaku bani Israil sebagai cerminan agar kita senantiasa waspada dan menjaga nilai-nilai ketakwaan dalam diri kita. Takwa yang dimaksud tiada lain adalah keimanan, mengikuti Al-Haq, berpaling dari fatamorgana dunia yang menipu, dan menyeimbangkan kehidupan dunia dengan menyibukkaan diri dalam aktifitas ukharawi.

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”(Q.S. Al-Baqarah [2]: 42)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah mencampuradukkan yang hak dan yang bathil serta kebenaraan dan kedustaan. Sementara itu, Qatadah mengartikannya dengan mengatakan, “Janganlah mencapur aduk antara Islam dengan Yahudiyah dan Nasraniyyah. Islam adalah satu-satunya agama Allah yang sesungguhnya. Agama Yahudi dan Nasrani, keduanya telah banyak dihinggapi kebidahan yang menodai kemurniannya.”

Larangan yang ditujukan kepada Bani Israil untuk tidak mencampuradukkan hak dan bathil ditujukan sebagai larangan taghyir (merubah) seperti yang telah dilakukan sejumlah pendeta dan tokoh lainnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut. “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Maaidah [5]: 13)

Menurut beberapa ahli tafsir seperti Mujahid, Qatadah, dan yang lainnya, Al-Haq yang disebut kedua kalinya dalam ayat ke-42 ini diartikan sebagai Nabi Muhammad. Larangan menyembunyikan Al-Haq berarti larangan terhadap mereka untuk berpura-pura tidak tahu atau menyembunyikan pengetahuan tentang Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dari keturunan Ismail yang akan membangun umat yang besar di kemudian hari yang sebenarnya telah dicantumkan dalam kitab suci mereka.

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku.”(Q.S. Al-Baqarah [2]: 43)

Keimanan dan ketaatan tidak melulu perbuatan hati. Keimanan juga memerlukan implementasi dalam bentuk kerja fisik. Simbol-simbol gerakan dalam shalat menunjukkan kebutuhan akan kehadiran Sang Khaliq yang sekaligus menjadi pertanda lemah dan tidak berdayanya kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Perintah shalat senantiasa memakai kalimat “Aqimu…”. Al-Maraghy memberi penjelasan makna kalimat itu sebagai berikut, “Menghadap Allah dengan hati yang khusuk dan keikhlasan dalam berdoa.” Begitulah ruh shalat secara esensial. Secara kaifiyat syar’iyyah, shalat bisa saja berbeda-beda sesuai dengan perkembangan jaman kenabian.

Demikian halnya dengan perintah zakat yang dalam Al-Quran senantiasa bergandengan dengan shalat. Hal ini seolah menunjukkan bahwa keduanya bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Secara tegas, Al-Quran menyatakan, “Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.’” (Q.S. Fushshilat [41]: 6-7)

Secara bahasa, zakat artinya suci dan berkembang. Dari aspek kebahasaan tersebut, sebenarnya sudah cukup untuk memahami substansi zakat. Suci karena zakat berfungsi mensucikan harta dengan melepaskan hak-hak orang lain yang terkandung di dalamnya. Berkembang karena zakat memberi potensi menyuburkan harta dalam tinjauan nilai-nilai ruhiyyah.

Mengiringi perintah shalat dan zakat, Allah memerintahkan agar ruku bersama-sama dengan orang-orang yang ruku. Sebagian ahli tafsir mengartikannya sebagai berjamaah dan sebagian yang lain mengartikannya sebagai tunduk pada perintah-perintah Allah bersama orang-orang yang tunduk. Wallahu a’lam.  (Aam Amiruddin)

(Visited 76 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment