Merajut Syukur dalam Cerminan Kisah (Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 40-43) (Bag 1)

alquran

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).”

Al-Quran sebagai petunjuk jalan yang lurus dan penerang kegelapan mengandung kebenaran yang tidak dapat diragukan. Namun demikian, datangnya Al-Quran menimbulkan reaksi beragam. Di antara mereka ada yang beriman, ada yang kafir, dan ada pula yang munafik. Allah pun kemudian menguatkan kebenaran Al-Quran dengan menunjukkan bukti-bukti kemukjizatan yang ada di dalam kitab suci-Nya tersebut. Allah mematahkan hujah kafir atas penentangannya atas kebenaran Al-Quran dengan mempertanyakan hakekat hidup dan mati yang Allah ciptakan. Kemudian Allah menyebutkan penciptaan langit, bumi, dan manusia sebagai makhluk istimewa sebagai bukti kemahakuasaan-Nya.

Selanjutnya, Allah memberikan sebuah gambaran kisah umat terdahulu yang salah dalam menyikapi wahyu dan segala nikmat yang telah diberikan-Nya sehingga hidup mereka terkatung-katung dan terombang-ambing dalam keangkuhan dan kesombongan. Semua itu (keangkuhan dan kesombongan) tidak lebih dari tipu daya setan yang pada akhirnya berujung pada siksaan-Nya yang penuh kepedihan tiada batas. Ya, begitulah kisah Bani Israil.

Menurut ahli, kata israil adalah gelar atau sebutan bagi Nabi Yaqub a.s. Sebagian ahli mengartikannya sebagai hamba Allah yang taat atau hamba yang suci bersih. Bani Israil sendiri merupakan keturunan atau anak cucu Nabi Yaqub. Dalam sejarah tercatat bahwa Nabi Yaqub memiliki 12 orang anak dan satu di antaranya diangkat oleh Allah menjadi nabi, yaitu Nabi Yusuf a.s.  Salah satu kakak Nabi Yusuf yang bernama Yahuda yang memiliki keturunan paling banyak sehingga membuat seluruh keturunan Nabi Yakub yang lainnya melebur dan mengambil nama Yahuda sebagai sandaran bagi kelompok keturunan tersebut. Di kemudian hari, keturunan Yahuda tersebut dikenal dengan sebutan Bani Israil atau kaum Yahudi.

Atas kehendak Allah Swt., mayoritas nabi terlahir dari keturunan Bani Israil. Karena itulah Allah Swt. berfirman dengan menyebut Bani Israil agar umat Islam mengingat sederet nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka. Salah satu nikmat yang sudah seharusnya mereka syukuri tersebut adalah dijadikan-Nya banyak keturunan bani Israil sebagai nabi. Hal ini seyogianya dapat memperkuat iman dalam hati mereka. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kenikmatan teristimewa tersebut malah dijadikan hujah dalam memperkuat penolakan dan pembangkangan kepada para nabi, khususnya Nabi Muhammad Saw. Nama besar sebagai keturunan para nabi tidak menjadikan mereka semakin yakin akan ajaran yang dibawa oleh nabi berikutnya. Sungguh sebuah fanatisme buta yang berbalut kesombongan telah mampu menutupi kejernihan mata hati kebenaran.

promo oktober

Tidak hanya konsekuensi kenikmatan saja yang Allah pertanyakan kepada Bani Israil, namun juga janji-janji yang pernah mereka ungkapkan sebagai suatu komitmen atas nama kebesaran bani Israil. Ya, Bani Israil telah dengan sengaja dan angkuh melanggar janji-janji tersebut tanpa merasa salah dan takut akan siksa-Nya. Imam Al-Maraghy membagi janji-janji Bani Israil tersebut menjadi dua macam, yaitu janji nadhary dan janji diniy (agama). Janji nadhary adalah pernyataan segenap manusia semenjak mereka berada di alam ruh dalam masa penciptaannya sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya Kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).’” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 172)

Jika dalam ayat ke-40 surat Al-Baqarah tersebut di atas Allah menyebut janji bani Israil secara global, maka dalam ayat berikutnya Allah merinci janji tersebut dan meminta komitmen atas janji tersebut.

“Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah aku turunkan (Al-Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.”

Bersambung…

(Visited 78 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment