6 Cara Menjaga Iman Agar Tetap Kokoh

doa, iman

Ustadz yang saya hormati, mohon dijelaskan bagaimana cara kita memelihara kadar keimanan,  agar iman kita tetap kokoh?  Terima kasih sebelumnya atas perhatiannya.

 
Allah Swt. mengumpamakan iman yang kuat seperti pohon yang akarnya menghunjam ke bumi, cabangnya menjulang ke langit, berdaun lebat, dan selalu berbuah.

Tidakkah kamu perhatikan bagai mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat menghunjam ke bumi, dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu menghasilkan buah setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” ( Q.S. Ibrāhīm [14]: 24-25)

Agar pohon tetap subur dan kokoh, perlu dipelihara dengan memberinya air yang bagus dan pupuk yang berkualitas. Iman pun demikian, harus dirawat dan dipupuk. Di antara strategi agar iman tetap dalam keadaan kokoh yaitu:

Pertama, muhasabatunnafsi, melakukan introspeksi diri. Mengidentifi kasi apa saja kekurangan, kelemahan, dan kealfaan kita, lalu memperbaikinya dengan sungguh-sungguh. Apabila melakukan amal keburukan, cepatlah bertaubat dengan memperbanyak istighfar yang kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan berbagai amal kebajikan yang Allah ridoi.

Hai, orang-orang beriman! Bertak walah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Q.S. Al-Ĥasyr [59]: 18).

Kedua, riyadhah ruhiyah, yaitu dengan latihan membiasakan melakukan amalan-amalan sunah seperti shaum sunah, shalat Dhuha, shalat Tahajud, shalat Witir, dan amalan–amalan sunah lainnya yang berfungsi untuk menyuburkan ruhiyah, sehingga senantiasa merasakan kehadiran Allah dalam hidup.

Ketiga, Tadabbur Al-Qur’an, yaitu membaca, memahami, menghayati, serta mengamalkan Al-Qur’an. Syukur-syukur kita bisa mengajarkannya. Usman bin ‘Affan r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik dari kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an, kemudian mengajarkannya.” ( H.R. Bukhari).

Al-Qur’an adalah kitab Allah sebagai petunjuk bagi manusia. Apabila menemukan fenomena-fenomena yang menimbulkan keraguan, solusinya adalah dengan mentadabburi Al-Qur’an. “Inilah Al-Qur’an, tidak ada ke raguan dalam kebenarannya. Sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa.” ( Q.S. Al-Baqarah [2]: 2).

Dengan tadabbur Al-Qur’an, hati menjadi bercahaya karena Al-Qur’an berfungsi sebagai cahaya (penerang) bagi orang yang dalam kegelapan, yang diliputi oleh keragu-raguan, kebimbangan dalam menjalani kehidupan, sehingga mendapatkan kemampuan membedakan dengan jelas mana yang benar dan mana yang batil.

“Tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” ( Q.S. Muĥammad [47]: 24)

Keempat, dzikrullah (banyak mengingat Allah). Dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram. Ketenteraman itu terasa dari jiwa ihsan, yaitu merasakan Allah selalu melihatnya sehingga setiap aktivitasnya senantiasa ada dalam tataran fitrahnya (mengikuti petunjuk Allah), yaitu ada dalam situasi tenteram dan damai, penuh keimanan yang merupakan cahaya dalam menjalani kehidupannya.

“Hai, orang-orang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat nama-Nya sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Allah-lah yang emberikan rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu agar Allah mengeluarkanmu dari kegelapan pada cahaya. Allah Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” ( Q.S. Al-Aĥzāb [33]: 41-43).

Kelima, memperbanyak doa. Memohon pertolong an Allah agar hidup senantiasa ada dalam petunjuk-Nya, senantiasa berada dalam jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang telah mendapatkan anugerah nikmat-Nya seperti para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.

Siapa pun yang menaati Allah dan Rasul (Muhammad), mereka akan bersama-sama dengan orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” ( Q.S. An-Nisā’ [4]: 69).

Keenam, mencintai fakir miskin dan anak yatim. Abu Hurairah r.a. bercerita, seseorang melaporkan kepada Rasulullah Saw. tentang kegersangan qalbu yang dialaminya. Beliau menegaskan, “Bila engkau mau menghidupkan qalbumu, beri makanlah orang-orang miskin dan cintai anak yatim.” ( H.R. Ahmad).

Mencintai mereka diaplikasikan dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, dan kegiatan-kegiatan sosial yang dilandasi tujuan membahagiakan fakir, miskin, dan yatim sebagai ekspresi dari jiwa syukur atas anugerah kenikmatan Allah. Syukur adalah aktivitas yang lahir dari keyakinan bahwa harta yang dimilikinya adalah titipan Allah yang harus dipergunakan secara proporsional sesuai yang dikehendaki-Nya. Allah akan menambah nikmat bagi orang-orang yang bersyukur.

Semakin banyak membahagia kan orang lain, akan semakin banyak kenikmatan hidup yang diraih. “…Sesungguhnya, jika kamu ber syukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, pasti azab-Ku sangat berat.” ( Q.S. Ibrāhīm [14]: 7).

Itulah di antara strategi agar iman tetap kokoh. Sehingga iman yang kita miliki dapat diibaratkan seperti pohon yang kokoh; berdaun rindang, berbuah lebat, dapat dijadikan tempat berteduh, bersandar, dan berlindung orang-orang yang kepanasan dan kecapekan. Apabila ada angin atau badai datang menimpanya, pohon tersebut akan tetap kokoh berdiri tegak, elegan, gagah, indah, dan mempesona. Wallahu A’lam.  (Aam Amiruddin)

 

 

 

(Visited 3,357 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment