Dalam Islam Pilih Pemimpin Itu Bukan Sekedar Adil dan Disukai Rakyatnya Tapi….

Kandidat pemimpin yang bertarung dalam memperebutkan kursi kepresidenanm dan kepala daerah di tanah air ini, sedang memainkan berbagai jurus andal yang dapat mengantarkan mereka menjadi orang nomor satu di negara mayoritas Muslim ini atau di daerah masing-masing. Semua kandidat pemimpin itu bertujuan baik, hendak melakukan perubahan, menciptakan negara dan bangsa yang besar ini menjadi bermarwah dan bermartabat. Namun, niat baik itu hanya bisa terealisasi di tangan pemimpin yang adil. Maka, rakyat pemilih juga perlu berpikir cermat, agar mereka tidak salah dalam memilih. Karena, kata Imam al-Ashbahany, negara bisa menjadi baik, bila pemimpin dan ulamanya terdiri dari orang-orang baik.

Tujuan kepemimpinan

Dalam Islam, kepemimpinan (khalifah, imam, amir al-mu’minin) adalah sarana untuk mencapai tujuan. Dan, tujuan kepemimpinan itu menegakkan agama dengan melaksanakan syariat Islam, dan mengurus kemaslahatan umat (Muhd Salim al-Awwa: 2001).

Melaksanakan syariat Islam merupakan kewajiban utama bagi seorang pemimpin (al-Haj:41). Dan, penerapan hukum Islam bertujuan untuk mencapai kemaslahatan dalam kehidupan ini. Serta, kemaslahatan utama dalam kehidupan manusia adalah menjaga agama, diri, akal, kehormatan, dan harta. Kemaslahatan yang hendak dicapai Islam dalam tujuan kepemimpinan itu merupakan kemaslahatan dunia dan akhirat. Hal ini berbeda dengan tujuan negara sekuler yang hanya mengejar kemaslahatan dunia semata (temporal).

Kriteria pemimpin

kalender percikan iman 2018

Tujuan mulia kepemimpinan itu tidak akan bisa tercapai, jika pemimpin tidak memenuhi kriteria atau syarat yang telah digariskan oleh Islam. Imam al-Mawardy dalam bukunya, al-Ahkam al-Sulthaniyyah, menjelaskan syarat seorang pemimpin negara. Di antaranya, pemimpin itu memiliki ilmu pengetahuan. Dalam Islam, pemimpin bukan saja piawai dalam mengatur negara, tapi juga berpengetahuan luas tentang agama. Sebagaimana Khulafa’ al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali), mereka pemimpin juga ulama. Pemimpin negara juga mesti sehat panca indra, anggota tubuh, punya pemikiran (visi dan misi) yang jelas, serta berani dan tegas dalam bertindak. Namun begitu, ada syarat yang sering terlupakan dalam menjaring para kandidat pemimpin sebuah negara. Yaitu, seorang pemimpin negara itu mesti seorang yang adil (al-Imam al-Adil).

Jabir Qamihah dalam bukunya, al-Mu’aradhah Fi al-Islam, menjelaskan, pemimpin adil ialah pemimpin yang adil pada dirinya (takwa), dan adil dalam menjalankan amanah kepemimpinan (al-Nisa’: 58). Adil pada dirinya (takwa) ialah pemimpin yang dekat kepada Allah, dirinya terhindar dari perbuatan dosa, memiliki sifat wara’ yang tidak terobsesi mengejar kepentingan dunia, dan dapat dipercaya dalam memegang amanah kepemimpinan. Dan, adil dalam kepemimpinan itu juga menghendaki adil dalam aspek sosial (keadilan sosial) dan adil dalam menerapkan hukum.

Keadilan sosial itu di antaranya pembebasan kekayaan negara dari eksploitasi negara asing, menerapkan sistem perekonomian Islam, dan keadilan dalam pembagian kekayaan negara kepada semua lapisan masyarakat (Muhammad Imarah: 1995).

Keadilan sosial itu juga diterapkan dalam mengangkat orang yang layak untuk memegang sebuah jabatan (tidak KKN), dan memberikan kesempatan kepada rakyat umum untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka (Abd al-Rahman al-Maidany:2001). Dan, berprilaku adil itu juga diterapkan dalam setiap perbuatan, perkataan, dan dalam penetapan keputusan hukum (Tafsir al-manar: 5/179).

Pemimpin adil itu akan mendapat perlindungan Allah SWT di akhirat kelak (HR. Imam al-Bukhari). Dan, Rasulullah SAW juga menegaskan, pemimpin yang tidak adil (khianat kepada rakyat) akan mendapat azab (siksaan) yang pedih (HR. Imam al-Thabrani). Bahkan, Allah SWT tidak mengizinkan pemimpin khianat untuk memasuki surga-Nya (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim).

Teladan kepemimpinan

Rasulullah SAW merupakan seorang pemimpin yang mesti dijadikan teladan oleh setiap pemimpin Islam (al-Ahzab: 21). Rasulullah SAW juga seorang pemimpin yang hidup sederhana, tapi memiliki sifat akhlak mulia (al-Qalam: 4). Dan istrinya, Aisyah RA, mengatakan, akhlak Rasulullah SAW itu adalah penerapan Alquran dalam segala aspek kehidupannya (Abdul Halim Mahmud: 1990).

Sayyid Husen al-’Affany menjelaskan dalam bukunya, Tarthib al-Afwah (1/81) bahwa Abu Bakar Shiddiq itu pemimpin sederhana dan adil dalam melaksanakan tugas. Beliau menerapkan persamaan pembagian kekayaan negara kepada seluruh rakyatnya. Dan, ketika sakit di akhir hidupnya, beliau berwasiat, agar hartanya yang hanya sedikit itu diberikan kepada pemimpin setelahnya. Umar bin Khattab menangis menerima wasiat Abu Bakar Shiddiq itu. Karena beliau tahu, tanggung jawabnya di masa depan jauh lebih berat.

Namun begitu, Umar tetap mencontoh pendahulunya untuk hidup sederhana dalam mengemban tugas negara. Karena, menurutnya, Allah SWT telah memuliakan umat ini dengan Islam, maka tidak perlu lagi mencari kemuliaan dengan yang lain (Atsar sahih riwayat Ibnu Abi Syaibah). Pada waktu menjadi khalifah (pemimpin), kendaraan dinas Umar bin Khattab hanya seekor unta. Pada waktu pendeta Kristen negeri Palestina, Safraneus, menyerahkan kunci negeri Palestina kepada pemimpin besar Negara Islam, Umar bin Khattab bergantian menunggang untanya dengan pembantunya menuju Palestina. Dan, beliau juga mengembalikan hadiah makanan lezat yang dikirim dari Afrika. Karena, menurutnya, makanan itu lebih baik dinikmati oleh rakyatnya.

Usman bin Affan juga berbuat adil dalam menerapkan hukum Islam. Bahkan, beliau dengan tegas melaksanakan hukuman cambuk atas adiknya, al-Walid bin Aqabah, yang telah melakukan pelanggaran syariat Islam. Ali bin Abi Thalib juga pemimpin bijaksana, sederhana, dan adil dalam bertindak. Di hari raya, makanan yang tersedia di rumahnya hanya makanan rakyat kecil, berupa hidangan daging rebus bercampur tepung (al-khazirah).

Karena, menurut beliau, menyitir sabda Rasulullah SAW, “seorang pemimpin itu hanya berhak menerima gaji untuk makannya dengan keluarganya, dan makannya dengan tamunya” (HR Imam Ahmad).

Islam telah menetapkan syarat tertentu yang mesti terpenuhi pada diri seorang pemimpin, agar amanah besar itu tidak menjadi ajang perebutan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Dan sebagai pemimpin, Rasulullah SAW dan Khulafa’ al-Rasyidin, begitu juga pemimpin adil pemerintahan Umawiyyah, Umar bin Abdul Aziz, telah memberikan teladan yang baik dengan hidup sederhana, adil, dan menjunjung tinggi supremasi hukum. Di bawah kepemimpinan mereka, Negara Islam menjadi maju, besar, dan disegani. Dan, umat Islam pada masa itu juga hidup damai, aman, dan sejahtera. Semoga demikian juga dengan masa depan bangsa dan Negara kita. Wallahu’alam. [ ]

Red: admin

Editor: Iman

Ilustrasi foto: fixabay

(Visited 124 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment