Cara Menerapkan Sistem Ekonomi Syariah untuk Gaji Pas-pasan

uang

Mengelola keuangan rumah tangga bukanlah perkara mudah. Besar pasak daripada tiang menjadi kendala tersendiri manakala kita tidak pintar menyiasati situasi yang ada. Jangankan untuk menabung, bisa tidak berhutang di akhir bulan pun sudah bersyukur. Adiwarman A. Karim mahfum betul kondisi seperti ini.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar kita menyisihkan pendapatan untuk zakat dan tabungan sedari awal. Ini demi meredam dorongan konsumtif dan menghindarkan diri dari memakan sesuatu yang bukan hak. Lebih lengkap mengenai pendapat beliau. Berikut petikan wawancara  dengan pakar ekonomi syariah Ir. H . Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A.

alquran muasir

Sejauhmana kita bisa menerapkan sistem syariah pendapatan yang pas-pasan?
Pendapatan pas-pasan adalah satu hal. Hal lainnya adalah bagaimana pendapatan yang kita terima diperoleh dengan cara yang halal. Inilah kuncinya perekonomian (rumah tangga) syariah. Ada 3 kriteria yang harus dipenuhi untuk membangun perekonomian syariah. Pertama takhalli; mengeluarkan semua yang buruk-buruk dan meninggalkan semua yang haram-haram. Kedua tahalli; mengisi dengan yang baik-baik. Ketiga tajalli; dihiasi dengan hal-hal yang indah yaitu akhlaq. Jika ketiga hal ini terpenuhi, maka kita sudah menerapkan syariah
walaupun pas-pasan pendapatannya.

Setiap penerimaan yang kita terima mestinya sudah ada daftar pengalokasiannya. Pengalokasian ini tergantung dari kemampuan masing-masing keluarga, tapi sebaiknya setiap pendapatan yang kita terima dikeluarkan zakatnya minimal 2,5 %, sementara 10-20 % disisihkan untuk tabungan dan sisanya kita alokasikan sedemikian rupa seperti untuk membeli makanan (30 %), untuk biaya rumah atau tempat tinggal (30 %), dan sisanya untuk biaya masa depan anak-anak (misal biaya pendidikan).

Untuk mereka yang baru menikah dan belum mampu melakukan alokasi pendapatan, maka bisa menggunakan alat bantu berupa amplop. Misalnya ada amplop untuk biaya makanan, transportasi, dan lain sebagainya. Ini merupakan salah satu teknik untuk mendisiplinkan diri agar satu amplop sudah hampir kosong (misal amplop biaya makan), maka kita tidak bisa lagi makan makanan mewah di luar.

kalender

Khusus mengenai kredit, apabila memang dirasa perlu, kita bisa mengambil kredit dengan cicilan yang tidak lebih dari 20%. Jika benda tersebut tidak terlalu dibutuhkan, sebaiknya kita tidak usah mengambil kredit. Kita harus menyicil sesuatu yang benar-benar dibutuhkan dan bukan untuk hal yang sifatnya tren atau hobi.

Benarkah tabungan dalam bentuk emas dapat menjadi solusi keuangan keluarga?

Emas berfungsi untuk menjaga nilai. Jadi kalau ditanya mana yang lebih baik, menabung di bank atau menyimpan uang dalam bentuk emas? Jawabannya adalah sebagian uang ditabung di bank dan sebagian lagi dibelikan emas. Menyimpan seluruh tabungan di bank akan beresiko rugi karena fluktuasi nilai rupiah. Jadi, ilmunya adalah bukan dengan menaruh seluruh uang di bank atau seluruhnya dalam bentuk emas. Kita harus memiliki simpanan uang di bank dan juga dalam bentuk emas karena fungsi kedua hal tersebut berbeda. Emas untuk nilai, sementara uang di bank untuk keperluan transaksi.

Bagaimana kalau emas dibandingkan dengan asuransi?

Kedua hal tersebut berbeda fungsinya. Asuransi berfungsi untuk mengantisipasi musibah yang mungkin menimpa diri kita, sedangkan emas hanya bisa kita jual sesuai dengan harganya. Jadi, apabila dana yang dibutuhkan untuk pembiayaan kecelakaan lebih besar dari harga emas, maka nilai emas tidak bisa mencukupi. Lain halnya dengan asuransi yang bisa memenuhi kebutuhan dana yang diperlukan apabila terjadi kecelakaan. Jadi untuk keperluan-keperluan yang tidak terduga, lebih aman menggunakan asuransi.

Bagaimana pandangan ekonomi syariah tentang ‘berkebun’ emas. Bisakah ini menjadi solusi alternatif untuk menopang ekonomi keluarga di masa depan?

Bisa saja. Yang penting adalah kita harus melakukan alokasikan sesuai dengan fungsinya. ‘Berkebun’ emas mungkinkan hanya bisa dilakukan oleh keluarga yang berpendapatan lebih. Intinya, dalam pandangan ekonomi syariah kita harus dapat mempertanggunjawabkan dari mana harta diperoleh dan bagaimana menggunakan harta tersebut. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan harta dan keuangan sesuai syariah adalah sesuatu yang dinilai sangat penting.

Dalam penggunaannya, kita harus pandai mengalokasikan keuangan sehingga jangan sampai menggunakan zakat untuk keperluan lain karena itu bukan milik kita. Setelah zakat kita tunaikan, sisihkan uang untuk tabungan. Kita juga harus membuat prioritas-prioritas dalam penggunaan pendapatan. Rumusnya adalah menabung untuk masa depan. Hanya meminjam untuk sesuatu yang spesial dengan batasan tertentu dan jangan sampai cicilannya lebih dari 20%.

Alokasi memang penting. Namun, kita jangan terpaku dengan alokasi. Pikirkan juga kemungkinan mendapatkan penghasilan tambahan. Kalau kita belum berhasil, bersabarlah. Tapi kalau kita sedang mendapatkan banyak penghasilan tambahan, jangan lupa pada hak orang lain. [Ahmad]

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment