Sering Lapar di Malam Hari? Bisa Jadi Anda Kena “Night Eating Syndrome”!

lapar

Oleh : dr. Nur Fatimah, SpGK, MS.

Membaca judul artikel di atas, mungkin sebagian dari Anda ada yang mengalaminya.  Sering lapar di malam hari sehingga harus makan dalam jumlah banyak.  Namun demikian, apakah Anda tahu pasti dengan yang dimaksud Night Eating Syndrome (NES)?

NES adalah salah satu bentuk kelainan makan selain Anoreksia Nervosa atau Bulimia Nervosa yang telah kita kenal sebelumnya. NES perlu kita waspadai mengingat saat ini telah berkembang kebiasaan makan pada malam hari dalam jumlah lebih banyak sehingga memberi akibat cukup serius pada kondisi kesehatan kita pada masa yang akan datang.

NES adalah salah satu jenis kelainan pola makan yang ditemukan pertama kali oleh dr. Albert Stunkard, salah satu ahli di bidang kelainan pola makan. Penderita ini sangat tinggi asupan makanannya pada sore dan malam hari disertai kesulitan tidur. Yang harus diperhatikan pada keadaan ini adalah hampir semua mengalami obesitas dan sebagian besar relatif mengalami berbagai penyakit. Penyakit itu berhubungan dengan masa lemak yang berlebih.

Karakteristik dari sindrom ini adalah tidak merasa lapar dan rendah keinginan makan sepanjang pagi dan siang hari, tetapi asupan makan cukup tinggi pada malam sampai dini hari. Bahkan mereka sering terbangun pada saat tidur malam untuk makan. Dari hasil pengamatan memperlihatkan data bahwa mereka hanya mengkonsumsi makanan sekitar 30% dari kebutuhan seharusnya sepanjang pagi dan siang. Namun, mereka makan sangat banyak sesudah jam tersebut sampai dini hari.

Nampaknya kebiasaan makan seperti ini cukup banyak terdapat di sekitar kita. Terlebih, dengan pola hidup yang sangat padat jam kerja, rasa lelah dan lapar pada malam hari mengizinkan kita untuk memilih makan yang cukup enak dalam jumlah besar pada malam hari. Karakteristik lain pada sindrom ini antara lain disertai suasana hati yang kurang baik dan kesulitan tidur. Hal ini dapat diterangkan oleh dasar ilmiah bahwa penderita ini memiliki hormon pengatur pola tidur yaitu melatonin yang lebih rendah dibanding individu yang normal. Ini disertai dengan meningkatknya hormon O yang berhubungan dengan keadaan stres. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penderita sindrom ini mempunyai 3 ciri yaitu kelainan pola makan, perubahan pola tidur dan gangguan  mood.

Tidak seperti penderita bulimia atau anoreksia, penderita NES tidak memiliki kelainan perilaku sehingga orang sekitarnya tidak memandang ada sesuatu yang tidak normal. Makanan yang mereka konsumsi pada malam hari cenderung berupa makanan selingan/bukan makan utama dengan jumlah yang banyak sehingga kandungan kalori sangat tinggi.

Walaupun tidak ada perubahan perilaku seperti kelainan makan lain, perlu diperhatikan adalah risiko obesitas dan risiko penyakit yang berhubungan dengan obesitas seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, stroke dan masalah persendian. Obesitas juga meningkatkan risiko sleep apnea yaitu kegagalan nafas pada saat tidur, hal ini akan semakin memperparah pola tidur pasien. Walaupun sampai saat ini kelainan tersebut belum masuk dalam klasifikasi internasional. Tetapi para ahli sepakat untuk meneliti terus mengingat tren gejala ini  terus meningkat sehingga diharapkan mendapatkan penanganan yang tepat.

Penanganan kelainan ini memerlukan kerjasama team seperti Psikiatri untuk penanganan gangguan mood atau depresi pada kondisi berat. Aspek psikososial baik untuk terapi keluarga ataupun terapi kelompok. Penyakit Anak atau Penyakit dalam untuk komplikasi penyakit. Konseling Gizi untuk terapi nutrisi baik kualitas, kuantitas maupun perubahan perilaku dan berbagai terapi penunjang lain sehingga penanganan pada penderita cukup optimal.

Tujuan dari konseling gizi tidak semata-mata untuk mengubah waktu dan frekuensi makan saja, tetapi memberi pemahaman dan motivasi bahwa asupan makanan harus sesuai dengan kebutuhan dan aktivitas. Kebutuhan energi sangat penting dipenuhi pada pagi hari. Karena, setelah melewati tidur pada malam sebelumnya, kadar zat gizi pagi hari berada pada kadar minimal, sementara kita akan menghadapi aktivitas padat sampai siang/sore dengan kebutuhan energi cukup tinggi. Pemenuhan kebutuhan yang tepat akan menjaga fungsi organ tubuh tetap baik dan menjaga keseimbangan hormon termasuk mengendalikan kadar hormon stres dalam batas normal. Sehingga, pemakaian sumber energi pun tetap normal.

Semua itu akan menjaga stamina tetap baik dan kinerja optimal. Sebaliknya pada sore hari, walaupun aktivitas tetap berlangsung tetapi intensitas umumnya telah menurun sehingga kebutuhan energi juga lebih rendah. Energi dibutuhkan untuk aktivitas basal organ tubuh, pemulihan dan pertumbuhan sel baru. Bila pada kondisi tersebut asupan makanan cukup tinggi, apalagi bila kita memilih makanan enak umumnya memiliki kepadatan energi lebih tinggi karena tinggi lemak atau karbohidrat, sehingga energi yang dihasilkan akan disimpan dalam bentuk lemak.

Kondisi lain seperti perubahan mood dan insomnia juga akan meningkatkan hormon stres yang bila terpapar terus-menerus akan mengganggu kerja organ tubuh. Hal ini semua tidak kita rasakan hingga suatu saat organ tubuh kita memberi sinyal adanya kelainan fungsi seperti tekanan darah mulai meningkat, ataupun berbagai keluhan karena penurunan fungsi organ.

Cukup sulit untuk membangkitkan kesadaran pasien. Butuh waktu yang tidak sebentar, tetapi usaha tersebut harus terus dilakukan secara bertahap sehingga yang bersangkutan dapat beradaptasi dan merasa nyaman dengan perubahan tersebut sampai sepenuhnya pasien dapat mengontrol perilaku makan. Pengendalian perilaku ternyata merupakan kunci penting dalam penanganan kasus ini, selain menyangkut asupan makanan juga menyangkut pengendalian hormon dan kerja organ tubuh.

Subhanallah ternyata satu per satu kita temukan mutiara yang terkandung dalam Al-Quran bahwa yang diperintahkan Allah adalah untuk kemaslahatan kita sendiri dalam beribadah.

Editor Bahasa: Santy

(Visited 193 times, 4 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment