10 Wasiat Allah Sepanjang Masa (Bag 4)

hutan

7. Menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil.

Menyempurnakan takaran atau timbangan pada saat membeli atau menjual adalah suatu hal yang diwajibkan dalam agama. Abdullah bin ‘Abbas r.a. berkata, “Bila telah tampak pada suatu kaum kecurangan dalam mengambil harta rampasan perang, niscaya Allah Swt. akan mewariskan dalam hati mereka perasaan takut. Bila perzinaan telah merebak pada sebuah kaum, niscaya Allah Swt. akan mempertinggi tingkat kematian pada kaum tersebut. Bila suatu kaum mengurangi takaran atau timbangan, niscaya Allah Swt. akan memutuskan rezeki-Nya bagi kaum tersebut.”

Selain itu, Allah Swt. juga berfirman, “Sungguh celaka orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang! Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya. Tidakkah mereka itu yakin bahwa mereka pasti akan dibangkitkan? Pada suatu hari yang besar, pada hari ketika semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.” (Q.S. Al-Muthaffifiin [83]: 1-6)

8. Berkata adil kepada setiap orang (dalam menetapkan hukum di antara mereka).
Berlaku adil dalam segala keadaan kepada setiap orang merupakan perkara wajib. Berlaku adil dalam menetapkan hukum di antara manusia merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar serta tidak ada dispensasi maupun uzur. Tentunya, perlakuan adil di sini adalah secara zahir dan dalam batas-batas kemanusiaan. Allah Swt. berfirman,

Hai orang-orang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah ketika menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Maa’idah [5]: 8)

Namun, tidak berarti keadilan selalu identik dengan hukum. Sehingga, hanya mereka yang bersangkutan dengan hukum saja seolah yang wajib berkata dan berlaku adil. Perlakuan adil semestinya menjadi perhiasan dalam setiap sikap dan tindakan manusia. Suami berlaku adil kepada istri dan sebaliknya, orangtua kepada anaknya dan sebaliknya, dan seterusnya.

Hai orang-orang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu bapakmu, dan kerabatmu. Jika terdakwa itu kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. Karenanya, jangan kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika kamu memutarbalikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi, ketahuilah Allah Mengetahui segala hal yang kamu kerjakan.” (Q.S. An-Nisaa’ [4]: 135)

9. Memenuhi janji kepada Allah Swt. Memenuhi janji kepada Allah Swt. diwujudkan dengan melaksanakan segala perintah-Nya (baik yang wajib maupun yang sunah) serta meninggalkan segala larangan-Nya. Barangsiapa telah memenuhi hak Allah Swt. atasnya, niscaya Allah akan memberikan ganjaran yang setimpal akan usahanya itu. Dan, barangsiapa yang menyia-nyiakannya, niscaya Allah Swt. pun akan menyia-nyiakan dirinya.

Allah Swt. berfirman, “Sungguh, Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Allah berfirman, ‘Aku bersamamu.’ Sungguh, jika kamu melaksanakan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu, dan pasti akan Aku masukkan ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Namun, siapa pun yang kafir setelah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Q.S.Al-Maa’idah [5]: 12)

10. Mengikuti jalan Allah Swt. yang lurus. Abdullah bin Mas‘ud r.a. berkata, “Rasulullah Saw. pernah menggambar sebuah garis lurus, kemudian beliau berkata, ‘Ini adalah jalan Allah Swt.’ Setelah itu, beliau (kembali) menggambar beberapa garis melenceng di sebelah kanan dan kiri garis lurus tersebut. Beliau berkata, ‘Ini adalah jalan-jalan melenceng. Tidak satu pun dari jalan tersebut, melainkan padanya ada setan yang senantiasa memanggil.’ Selanjutnya, beliau membaca ayat Allah Swt. ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.’” Wallahu a‘lam.

(Dr. Aam Amiruddin)

(Visited 84 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment