Mendidik Anak Ala Rasul, Lahirkan Generasi Unggul

anak, keluarga

Rasulullah Saw. sangat penyayang terhadap anak-anak, baik terhadap keturunan beliau sendiri atau pun anak orang lain. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw. mencium Hasan bin Ali dan didekatnya ada Al-Aqra’ bin Hayis At-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata,

Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah Saw. segera memandang kepadanya dan berkata, “Man laa yarham laa yurham, barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari di Kitab Adab, hadits nomor 5538).

Imam Al Ghazali mengatakan, “Anak merupakan amanah bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan mutiara yang masih polos tanpa ukiran dan gambar. Ia siap diukir dan cenderung kepada apa saja yang mempengaruhinya. Jika ia dibiasakan dan diajarkan untuk berbuat kebaikan, ia akan tumbuh menjadi anak yang baik. Dengan begitu, kedua orangtuanya akan berbahagia di dunia dan akhirat.

Di era sekarang ini, bukan hal mudah bisa mengasuh dan mendidik anak dengan baik dan proposional. Apalagi bila Ibu dan Bapak dalam suatu keluarga, tidak memiliki bekal pengetahuan sebagai orangtua, terlebih dalam ilmu agama. Maka tidak heran, banyak anak-anak yang sulit diatur dan membuat orangtua pusing tujuh keliling dalam mencari pola asuh dan cara mendidik yang sepatutnya diterapkan di lingkungan keluarga.

Tujuan utama mendidik anak dalam rumah tangga Muslim, adalah mencetak generasi yang islami. Sehingga orangtua harus memiliki bekal pengetahuan yang luas dan mapan, serta matang dalam ilmu agama. Orangtua berkewajiban dalam memberikan pendidikan, pengarahan, perlindungan, cinta dan kasih sayang kepada anak-anakanya. Dan tanggugjawab utama orangtua dalam keluarga, adalah mengasuh dan mendidik anak sesuai dengan yang disyariatkan, berasaskan Al-Quran dan sunah Rasul Saw.

promooktober1

Pembinan Aqidah dan Ibadah

Pembinaan kepribadian anak sejak dini yang seimbang mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan individunya. Kepribadian ini tidak bisa sempurna kecuali diarahkan, dibina dan dibimbing dari segala aspeknya. Petama, pembinaan aqidah, yaitu melalui pengenalan kalimat tauhid, mengajarkan anak mencintai Allah, merasa diawasi oleh-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya serta beriman pada Qadha dan Qadar.

Anak-anak juga diajarkan mencintai Nabi dan keluarga beliau, diajarkan Al-Quran dan mendidik keteguhan aqidah anak sekaligus siap berkorban karenanya. Kedua, pembinaan ibadah, ini adalah penyempurna dari pembinaan aqidah. Dilakukan dengan mengajarkan sholat, membiasakan anak dekat dengan masjid, membiasakan puasa, diajarkan bersedah,mengenalkan ibadah haji dan berzakat dan sebagainya.

Perintah ini diberikan Allah swt. dalam bentuk umum. “Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S. At-Tahrim: 6).

Adalah sebuah bentuk kesalahan paling besar jika ayah-ibu larut dalam kesibukan masing-masing, sedangkan lupa mendidik anak, terlebih dalam mengajarkan ilmu agama. Walaupun alasan menjalani kesibukan ini semata-mata mencari rezeki untuk menafkahi anak-anaknya.

Jika ayah-ibu berlaku seperti ini, keduanya telah melanggar perintah Allah, sebagaimana dalam surat Thaha ayat 132. “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”

Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda, “Ajarilah anak-anakmu shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila tidak melaksanakan shalat) pada usia sepuluh tahun.” (H.R. Tirmidzi dalam Kitab Shalah, hadits nomor 372).

Pembinaan Pendidikan dan Keteladan

Tidak ada pemberian yang baik dari orangtua kepada anaknya, selain memberi pendidikan yang baik. Begitu hadits dari Ayyub bin Musa yang berasal dari ayahnya dan ayahnya mendapat dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Maa nahala waalidun waladan min nahlin afdhala min adabin hasanin, tak ada yang lebih utama yang diberikan orang tua kepada anaknya melebihi adab yang baik.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1875. Tirmidzi berkata, “Ini hadits mursal”).

Suri tauladan yang dicontohkan Rasul tak sebatas pada pembinaan aqidah dan ibadah, melainkan ketauladan dalam segala hal.

Usamah bin Zaid ketika masih kecil punya kenangan manis dalam pangkuan Rasulullah Saw. “Rasulullah Saw. pernah mengambil dan mendudukkanku di atas pahanya, dan meletakkan Hasan di atas pahanya yang lain, kemudian memeluk kami berdua, dan berkata, “Ya Allah, kasihanilah keduanya, karena sesungguhnya aku mengasihi keduanya.” (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5544).

Demikian Rasulullah Saw. bersikap kepada anak-anak. Secara halus Beliau mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan anak-anaknya. Beliau juga mencontohkan bagaimana seharusnya kita bersikap kepada anak dengan penuh cinta dan kasih, serta kelemahlembutan.

Maka setiap sikap yang tak sesuai dengan apa-apa yang dicontohkan Rasulullah Saw., adalah bentuk kezhaliman kepada anak-anak. Selain kelembutan, Rasul pun mencontohkan bagaimana orangtua harus bersikap adil terhadap anak-anak. Hal ini penting untuk menjaga keharmonisan keluarga, dan menjaga dari perselisihan antara anak dengan anak.

Nu’man bin Basyir bercerita, “Ayahku menginfakkan sebagian hartanya untukku. Ibuku –’Amrah binti Rawahah, kemudian berkata, “Saya tidak suka engkau melakukan hal itu sehinggi menemui Rasulullah.’ Ayahku kemudian berangkat menemui Rasulullah saw. sebagai saksi atas sedekah yang diberikan kepadaku. Rasulullah saw. berkata kepadanya, ‘Apakah engkau melakukan hal ini kepada seluruh anak-anakmu?” Ia berkata, “Tidak.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.” Ayahku kemudian kembali dan menarik lagi sedekah itu.” (HR. Muslim dalam Kitab Al-Hibaat, hadits nomor 3055).

Rasul pun sangat tidak suka kepada orangtua yang membenci anaknya terlampau berlebihan, seperti orangtua yang suka memberikan sumpah serapah kepada anaknya yang sulit diatur atau telah menyakiti dirinya. Setiap doanya yang buruk, setiap ucapannya laknat, dan setiap makian yang diucapkannya bisa terkabul lalu menjadi bentuk hukuman bagi dirinya atas semua amal lisannya yang tak terkendali.

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tsalatsatu da’awaatin mustajaabaatun: da’watu al-muzhluumi, da’watu al-musaafiri, da’watu waalidin ‘ala walidihi; Ada tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa (keburukan) orang tua atas anaknya.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1828).

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban setiap orangtua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika dalam (Q.S. Al Ankabut: 7), Allah Swt. berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” maka disamping itu dalam (Q.S. At Tahrim: 6).Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.”

Abdullah bin Umar r.a mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91).

Dari keterangan tersebut, nampak jelas orangtua, dan setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja satu sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orangtua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingan dari orangtuanya. Maka Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar menjadi anak yang shaleh, cerdas, dan bermnafaat bagi umat. [ ]

 

Red: Ahmad

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

(Visited 79 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment