Esensi Kekhalifahan Manusia di Muka Bumi (Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 30) Bag.1

kubah masjid

Oleh : DR.H Aam Amiruddin

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”(Q.S Al-Baqarah [2]: 30)

Betapa ayat di atas mengandung banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik demi memotivasi diri untuk lebih banyak lagi melakukan fikir dan dzikir, menyeimbangkan rasa dan rasio, serta menyelaraskan akal dengan naql (dalil). Merupakan keniscayaan jika keduanya dilakukan secara beriringan sehingga refleksi keimanan dalam kehidupan sehari-hari tidak lagi berjalan timpang dan terjadi berbagai penyimpangan yang menyesatkan.

alquran muasir

Inti dari kandungan ayat tersebut di atas adalah kata khalifah. Secara bahasa, kata ini bermakna pengganti atau keturunan, sebagaimana terkandung dalam ayat Al-Quran berikut ini. “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Q.S. Shad [38]: 26).

Dalam ayat lain, Allah berfirman, “kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.” (Q.S. Yunus [10]: 14)

[irp posts=”5873" name=”Dari 12 Orang Ini, Apakah Kita Termasuk yang Dido’akan Malaikat?”]

kalender

Bila kita amati, ayat ke-30 surat Al Baqarah di atas menyimpan beberapa persoalan penting yang mesti kita pahami.

1. Seolah-olah ada ”bocoran” yang Allah sampaikan kepada malaikat tentang akan diciptakan-Nya khalifah di muka bumi sampai akhirnya terjadi ”percakapan” di antara keduanya.

Untuk memahami lebih jauh persoalan ini, terlebih dahulu hendaknya kita siapkan jiwa dengan segala iman dan kerendahan hati untuk menerima dan mempercayai adanya yang ghaib yang niscaya tidak akan semuanya dapat dijangkau oleh akal dan indra manusia. Di tengah-tengah berkembangnya filsafat modern saat ini, hendaknya batasan-batasan yang telah digariskan tidak lantas dilanggar begitu saja demi mendewakan filsafat dan akal fikiran. Sebaiknya, kita harus mencontoh filosof-filosof mukmin seperti Ibnu Rusyd dan Imam Ghazali. Meski sedemikian majunya kedua tokoh besar tersebut dalam berfilsafat, namun bila berkenaan dengan soal-soal ghaib, mereka menjadi orang yang tetap teguh dengan iman dan pendiriannya.

Imam Ghazali yakin sekali bahwa api wajib menghangusi dan air membasahi. Sudah seharusnyalah memang demikian. Namun, ketika ditanyakan tentang Nabi Ibrahim As. yang tidak hangus dibakar api, dia menjawab bahwa hal itu bukanlah domain filsafat. Itu adalah domain iman. “Sebagai muslim saya percaya,” begitulah yang dikatakannya. Seorang pelopor filsafat modern, Emmanuel Kant, pernah berkata, “Betapapun kemajuan saya dalam berpikir, namun saya mengosongkan sesudut dari jiwa saya buat percaya.”

Kenyataan yang disebutkan dalam ayat di atas (Allah seolah-seolah melakukan ”percakapan” dengan malaikat), tidaklah patut untuk kemudian dipertanyakan kapan dan dimana semua itu terjadi. Apa keperluan Allah dengan memberitahukan kehendaknya untuk menciptakan manusia yang akan diserahi tugas menjadi khalifah di muka bumi ini? Itu semua sama sekali tidak menjadi urgensi ayat ini.

Dia-lah dengan dzat-Nya yang Maha Kuasa yang berkenan menceritakan itu semua melalui wahyu tentang suatu kejadian di alam ghaib dengan kata-kata yang dapat kita pahami meski pada akhirnya akal kita tidak mempunyai daya jangkau untuk masuk lebih jauh ke dalam arena ghaib tersebut. Sebab itu, kita terima semua itu dengan sepenuh iman.

Meski demikian, beberapa ulama Mazhab Shalaf mencoba mempersiapkan segala tanya yang muncul dari mereka yang penasaran dengan tetap memperhatikan rambu-rambu penafsiran. Menurut mereka, pertemuan Allah dengan malaikat-Nya tidak digambarkan sebagaimana layaknya manusia yang sudah pasti bertempat dan terikat waktu. Jika seperti itu, tentunya bertempatlah Allah Swt. dan terikatlah Dia oleh ruang hukum alam yang dibuat-Nya sendiri. Demikian pula halnya dengan malaikat yang tidak boleh kita anggap duduk berhadapan dan bertatap muka dengan Allah. Karena kalau demikian, tentulah Allah memiliki kedudukan yang sama dengan makhluk-Nya. Allah berfirman, “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Asy-Syuraa [4[42]11)

bersambung…..

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment