Apakah Aku Dipermainkan Ikhwan? Begini Menyikapinya

3

 

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

Teteh Sasa, sebagai seorang wanita saya merasa dipermainkan oleh calon suami. Bermula karena ada kesalahfahaman, tiba-tiba memutuskan untuk mundur. Awalnya saya menerima dia karena dia berkomitmen untuk serius  dengan saya dan saya pun demikian. Dalam perjalanan proses taaruf, ada sedikit masalah ketika kami membicarakan target menikah. Saya menargetkan enam bulan atau paling lama satu tahun setelah selesai kuliah. Dia maunya secepatnya atau enam bulan ke depan. Memang terlontar dari saya kalimat, “Kalau menunggu saya dianggap terlalu lama, maka silahkan saja dengan yang lain, dan dia pun setuju dengan itu. Eh ternyata, dia memang diam-diam menjalin hubungan dengan akhwat lain  tanpa sepengetahuan saya. Kata seorang teman, dia akan menikah bukan dengan saya. Saya merasa dipermainkan karena justru tahu kabar tersebut pertama kali dari teman. Sebagai seorang wanita, jujur saya kecewa. Baiknya, tindakan yang harus saya bagaimana, teh?  Kenapa dia begitu tega? Saya merasa dilecehkan. Terakhir kali bertemu dengan saya, dia mengiyakan akan menikah dengan yang lain. Dia taaruf dengan saya, tapi  menikah dengan wanita lain. Apakah tindakan saya (menunda menikah hingga satu tahun) itu salah? Saya butuh masukan teh. Baru-baru ini, dia kembali menelpon saya. Apakah saya harus mengangkat teleponnya? Dia juga kirim SMS. Apa harus dibalas? Sebenarnya, saya sudah nggak mau lagi dihubungi oleh dia. Mohon nasehatnya teh. Jazakallah khair.

alquran muasir

Demikian curhatan seorang ukhti yang masuk ke handphone penulis. Namun izinkan untuk penulis jawab melalui media saja dengan maksud apabila ada yang mempunyai permasalahan yang sama bisa menjadi bahan referensi.

Ukhti yang dicintai Allah Swt., tenggat waktu taaruf hingga satu tahun saya nilai terlalu panjang terlebih kalau hanya diisi oleh aktfitas berdua antara ukthi dan calon pasangan. Komitmen yang baru melibatkan kalian berdua dan belum melibatkan orangtua masing-masing memang rentan putus nyambung karena tidak ada pressure pada kedua belah pihak untuk menjaga hijab masing-masing. Pihak ikhwan tidak digiring dan menggiring dirinya untuk berkomitmen lebih lanjut seperti mengkhitbah dan menikah (terlepas  dari selesai atau tidaknya target batas waktu kuliah ukhti).

Penulis menilai bahwa hubungan yang uhkti jalin baru sebatas rencana indah sejoli untuk saling menunggu pasangannya menyelesaikan kuliah dan pasangan lainnya dibebaskan untuk menunggu atau memilih akhwat lain (jika tidak berkenan menunggu). Agak susah juga meminta komitmen lebih dari ikhwan tersebut karena dari awal telah dibebaskan memilih. Sayangnya, sang pangeran  tidak seperti harapan sang putri yang selalu setia menanti, menahan diri (dengan memperbanyak shaum misalnya), dan akhirnya bersama duduk di kursi pelaminan. Akhirnya, ukhti memang tidak bisa menuntut lebih dan hanya bisa pasrah menerima ketika ternyata sang ikhwan diam-diam merenda hati dan akan menikah dengan yang lain.

kalender

Ukhti, sejatinya bingkai taaruf harus berada dalam koridor saling menjaga hijab sejak awal dan berniat tidak membohongi  dan menyakiti calon pasangan. Taaruf harus dilandasi oleh tujuan mulia pernikahan dan saling menjaga kejujuran serta kesetiaaan dari awal. Secara etika akhlak, sebaiknya dilakukan satu per satu. Jika tidak cocok dengan seorang akhwat atau ikhwan dalam satu proses taaruf, selesaikan atau tutup proses taaruf tersebut dengan cara yang baik dan setelah itu baru bertaaruf dengan akhwat atau ikhwan yang lain. Janji adalah hutang kepada Allah Swt. sepanjang bukan janji untuk bermaksiat kepada-Nya. Bila sudah tidak cinta kepada calon pasangan, sebaiknya memang berterus terang menyudahi taaruf. Bahkan, khitbah sekalipun masih bisa putus sebelum janur kuning melengkung atau sebelum hari H akad nikah diikrarkan.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment