Sikap Muslimah Saat Harus Berhadapan dan Bersentuhan dengan Pria Non Muhrim

jilbab, hijab
FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerSilakan Share

Ustadz, saya ingin bertanya, ada sebuah hadis mengatakan, “Seorang muslimah itu, lebih baik ditusuk dengan jarum yang panas daripada dia harus bersentuhan dengan lelaki yang bukan muhrimnya.” Nah, yang ingin saya tanyakan, bagaimana seharusnya sikap saya, seorang muslimah, terhadap ikhwan yang tidak mengetahui hal itu? Ketika dia menyodorkan tangannya untuk bersalaman, jika saya mengatupkan kedua tangan saya dan menundukkan pandangan saya karena takut akan Allah, dia merasa sakit hati. Manakah yang harus saya lakukan, tetap memegang syariat bahwa haram bersentuhan dan memandang ikhwan yang bukan muhrimnya ketika berbicara, meskipun itu hanya sekadar bersalaman, atau saya harus menjaga perasaannya meski itu artinya saya melanggar syariat? Mohon penjelasannya. Jazakumullah.

 

Sebenarnya, Islam itu mengajarkan kepada kita untuk melakukan hal-hal yang bersifat preventif. Itu sebabnya laki-laki dan perempuan tidak dibenarkan untuk bersentuhan langsung, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan (misal, zina).

“Katakan kepada laki-laki beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Hal itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S. An-Nūr [24]: 30)

Ayat tersebut memang mengatakan bahwa kita harus menundukkan pandangan, namun bukan berarti Anda harus terus menunduk ketika, misalnya, mengobrol dengan lawan jenis. Karena, pandangan itu ada dua jenis, yaitu pandangan yang bermuatan dan pandangan yang tidak bermuatan. Nah, yang dimaksud menundukkan pandangan dalam Al-Qur’an surat An-Nūr ayat ke-30 tersebut adalah apabila pandangan tersebut bermuatan, tatapannya itu full syahwat. Itu jelas harus dihindari.

Sedangkan, pandangan yang tidak bermuatan, tidak menjadi masalah. Misalnya,

[AdSense-A]

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

program marbot

Leave a Comment