5 Hal yang Harus Dilakukan Saat Mendapati Orang Sakaratul Maut

sakit

Kematian adalah sebuah keniscayaan yang akan dialami oleh semua manusia tanpa kecuali. Bagi sebagian orang, kematian selalu saja menguras air mata yang tidak terhingga. Sedangkan bagi sebagian yang lain, kematian disikapi dengan proporsional, sesuai dengan tuntunan agama. Kematian merupakan misteri terbesar dalam hidup yang sewaktu-waktu bisa datang kapan saja dan di mana saja. Kalau sekarang Anda sedang berduka karena baru saja menguburkan sanak atau kerabat, yakinlah nanti –bisa satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau beberapa tahun mendatang– giliran sanak atau kerabat melaksanakan hal itu untuk kematian kita.

Tentu saja, menangis adalah sesuatu yang manusiawi. Menurut Dr. Ali Muhammad Lagha dalam bukunya “Tamasya Kematian” tangisan merupakan cerminan rasa kasih sayang yang Allah swt. tanamkan dalam hati hamba-hamba-Nya. Bahkan Rasulullah saw. tidak kuasa menahan air matanya ketika dia ditinggalkan oleh istrinya, Siti Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib. Mengenai hal ini, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tangis dapat menghilangkan segumpal kesedihan yang bergelora dalam jiwa orang-orang yang tertimpa musibah. Akan tetapi seseorang harus tahu batas-batas ratap dan tangis itu dibolehkan.”

alquran muasir

Batas kesedihan yang dimaksud oleh Rasulullah saw. adalah tidak sampai megekspresikan kesedihan secara berlebihan, seperti memukul-mukul atau membentuk-benturkan diri sendiri. Lebih buruk lagi apabila kesedihan itu membuatnya menggugat keadilan Yang Maha Kuasa atas takdir yang menimpanya, naudzubillah min dzalik. Ibnu Mas’ud ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul serta mencabik-cabik bajunya ketika (tertimpa musibah) serta berseru dengan seruan jahiliah.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Malik al-Asy’ari r.a. berkata, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada empat hal warisan jahiliah di tengah-tengah umatku yang belum ditinggalkan; bangga dengan harta, mencemarkan nama baik, minta hujan pada ahli nujum, serta meratapi kematian”.

Lalu bagaimana jika kita mendapati orang yang kita cintai atau siapa saja tengah menghadapi kematian atau sakaratul maut?. Berikut ini beberapa petunjuk praktis yang bisa dilakukan ketika kita berhadapan dengan orang yang sedang menghadapi kematian dan setelah kematian.

  1. Membimbing membaca kalimat tauhid

Saat berhadapan dengan orang yang sedang menghadapi kematian, kita diperintahkan untuk menuntunnya membacakan kalimat tauhid La Ilaha Illallah, tidak ada Tuhan selain Allah. Dalam salah satu hadis, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La Ilaha Illallah’ maka dia akan masuk surga.” (H.R. Abu Dawud).

kalender

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment