Kematian Misteri Illahi Yang Wajib Diimani

Oleh: Syarif Hidayat*

Allah Swt berfirman:

alquran muasir

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” (QS. Al-Ankabut: 57)

Kematian, dengan demikian, merupakan peristiwa yang pasti menimpa setiap orang. Semua makhluk di alam semesta pasti mengalami kematian. Namun, tidak sedikit orang yang tidak siap mengalami kenyataan ini. Bukan tidak mengetahui persoalan tersebut melainkan kesiapan mental untuk berpisah dengan orang yang dicintainya belum benar-benar teruji. Persis seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari ketika Rasulullah Saw lewat kepada seorang wanita yang sedang menangisi kuburan saudaranya yang telah meninggal, kemudian beliau mengingatkannya untuk bertakwa kepada Allah dan bersabar, maka wanita itu malah mengusir beliau sembari ia tidak menyadari bahwa yang diusirnya itu orang yang patut dihormati dan ditaati. Maka setelah diberitahu, wanita tersebut menyusul Rasulullah Saw ke rumah beliau, maka beliau pun bersabda kepadanya:

“Sesungguhnya kesabaran itu pada awal kejadian” (H.R. Bukhari)

kalender

Kesabaran menghadapi kematian adalah kekuatan mental dan buah keimanan dalam diri seseorang yang ditentukan oleh kadar ilmu dan keyakinannya terhadap takdir Allah Swt. Semakin kuat keimanan seseorang kepada setiap takdir yang telah digariskan oleh Allah untuk setiap perkara sejak azali, maka semakin kuat juga mental orang tersebut untuk menghadapi kematian, baik kematian dirinya maupun orang yang disayanginya. Kematian memang sebuah misteri Ilahi yang wajib diimani, karena kenyataan ini banyak disebutkan di dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Saw. Bahkan, ayat yang menegaskan setiap jiwa akan merasakan kematian disebutkan di tiga tempat, yaitu Q.S. Ali-‘Imran : 185 dan Al-Anbiya: 35, serta Al-Ankabut : 57.

Untuk itu, kematian bukan untuk disesali melainkan untuk ditafakkuri. Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui secara pasti kapan kematian akan dialaminya. Hanya para utusan Allah yang diberi pilihan sebelum mereka menghembuskan nafasnya yang terakhir, sebagaimana hadits berikut ini:

Dari ‘Aisyah ra berkata, “Aku mendengar langsung bahwa tidak seorang Nabi pun meninggal dunia sehingga dia diberi pilihan antara dunia dan akhirat, maka akupun mendengar Nabi Saw  mengatakan dengan suara yang parau dalam sakit yang beliau wafat dengannya: “Bersama orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka….” Aku menduga bahwa beliau sedang diberi pilihan.” (Muttafaq ‘alaihi)

Peristiwa meninggal dunia disebut oleh Imam Ibn Katsir rahimahumullah sebagai Kiamat kecil (Qiyamah Shugra). Hal ini disandarkan kepada sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw pernah ditanya mengenai hakikat hari Kiamat? Beliau pun mengarahkan pandangan ke seorang pemuda seraya bersabda, “Pemuda itu tidak akan menemui masa tuanya, sampai kalian menemui Kiamat kalian.” Maksud beliau, kata Imam Ibn Katsir, berlalunya kehidupan sang pemuda masih lebih singkat daripada masuknya para shahabat tersebut ke alam akhirat. Karena setiap orang yang meninggal dunia, ia telah memasuki hukum akhirat. Sebagian orang berpendapat, barangsiapa meninggal dunia maka telah datang Kiamat baginya. Menurut Imam Ibn Katsir, perkataan ini benar jika dipandang dari segi makna penjelasan Rasulullah Saw  diatas. (Ibn Katsir, Al-Fitan, [terj. Syamsuri], Jakarta: Hanif, 2011, hlm. 30)

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah