Ormas Gagalkan Kegiatan Lokakarya Korban 1965

Sedianya, Yayasan Peneliti Korban Pembunuhan (YPKP) 1965 akan menyelenggarakan kegiatan “Wisata Lokakarya dan Nawacita solusi penyelesaian yang berkeadilan dan bermartabat bagi korban pelanggaran HAM berat tragedi 1965-1966. Rencananya kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada hari Kami-Sabtu ( 14 – 16 April 2016)  di Villa Hosana Cooliba Kav. 215 Desa. Cimacan Kecamatan. Cipanas Kabupaten. Cianjur dengan jumlah peserta sekira 80 orang.

Dihimpun dari berbagai sumber, acara tersebut mendapat penolakan dari masyarakat yang terhimpun dalam perwakilan gabungan ormas antara lain Ormas  GEMPA ( Gerakan Muslim Penyelamat Aqidah ), GARIS ( Gerakan Regormis Islam ), FPI ( Front Pembela Islam) SEKBER (Sekertariat Bersama), FKPPI, PPM dan warga masyarakat sekitar Cianjur dan Bandung. Gabungan ormas dan masyarakat yang berjumlah sekira 50 orang yang dipimpin ustadz Ujang Madjudin dari GEMPA mendatangi lokasi acara. Mereka bermaksud agar acara tersebut dibatalkan. Alasannya kegiatan tersebut yang dinilai hanya akan melukai hati nurani bangsa Indonesia dan umat Islam pada umumnya atas penghianatan PKI pada tahun 1965.

iklan donasi pustaka2

“Tidak ada sejengkal tanah pun atau tempat untuk PKI di wilayah NKRI ini,”sebutnya.

Sementara dari aparat keamanan hadir Kapolres Cianjur dan Danramil Pacet mendatangi lokasi tersebut dengan menemui ketua penyelenggara dan pemilik villa  untuk melakkukan musyawarah dan menyampaikan bahwa pada intinya aparat keamanan siap mengamankan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh YPKP. Namun melihat situasi yang tidak kondusif, pemilik villa keberatan dan memutuskan tidak mengijinkan kegiatan YPKP 1965 karena khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sementara menanggapi penolakan masyarakat dan pembatalan dari pihak villa, ketua penyelenggara dan beberapa orang perwakilan YPKP 1965 pada intinya menyampaikan tidak akan melanjutkan kegiatan di Villa Hosana Cooliba walaupun sangat menyesalkan sikap dari pemilik villa maupun tindakan Ormas dan warga setempat yang tidak mengijinkan kegiatan tersebut. Pihak panitia penyelenggara sendiri acara akan tetap dilaksanakan di kantor YLBHI Jakarta.

Sementara itu Ketua Panitia Lokakarya Korban 1965, Bedjo Untung menuding tentara ada di balik pembubaran lokakarya korban 1965 di Cianjur tersebut. Bedjo Untung, pegiat yayasan yang menaungi komunitas korban Tragedi 1965 itu, menyebut para koleganya mengungkapkan sejumlah kecurigaan terhadap institusi militer.

“Tentara sejak awal memang tidak ingin membuka kasus 1965,” ujar Bedjo di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta,seperti dilaporkan cnnindonesia.com Jumat (15/4/2016).

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 14 times, 1 visits today)

REKOMENDASI