Penderita Hipertensi Boleh Konsumsi Garam, Ini Penjelasannya

Oleh: dr. Siti Nur Fatimah, MS, SpGK*

Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang cukup besar terjadi di negara berkembang. Penyakit ini sering disebut sebagai pembunuh tersembunyi karena bila tidak terkontrol atau tidak diobati akan cepat menuju pada komplikasi serius, seperti kegagalan fungsi jantung, ginjal, dan serangan stroke. Walaupun tidak ada perawatan spesifik, pencegahan dan penanganan yang tepat akan menurunkan insiden hipertensi atau mencegah komplikasi lebih lanjut. Sebagian besar penderita hipertensi tergolong hipertensi esensial (murni) sedangkan sebagian kecilnya tergolong hipertensi sekunder, atau hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain.

Berapa tekanan darah normal kita? Tekanan darah normal adalah kurang atau sama dengan 120/80 mm Hg. Di atas nilai tersebut, yaitu tekanan darah antara 120–130/80 – 100 mm Hg, dinyatakan kelompok prehipertensi. Sedangkan di atas nilai tersebut tergolong kepada hipertensi. Batas normal tekanan darah pada penderita penyakit degeneratif tertentu seperti diabetes melitus adalah kurang dari 120/80 mm Hg.

Walaupun sebagian penderita hipertensi tidak menunjukkan gejala atau keluhan, penyakit ini bukanlah penyakit ringan. Berbagai organ tubuh seperti, otak, jantung, dan paling sering mengalami gangguan kelainan pembuluh darah akibat peningkatan tekanan darah yang kronis. Sehingga penderita hipertensi yang tidak terkontrol umumnya meninggal karena kegagalan fungsi organ di atas.

Selain penanganan hipertensi yang dilakukan oleh dokter, banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah progresivitas penyakit ini. Pencegahan terutama ditujukan pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terhadap hipertensi, antara lain: kelompok prehipertensi, riwayat keluarga hipertensi, berat badan lebih, konsumsi makanan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol.

kalender percikan iman 2018

Bila telah dinyatakan hipertensi, seterusnya kita harus mengontrol tekanan darah, baik dengan pengobatan maupun dengan faktor penunjang lainnya. Pencegahan dengan modifikasi pola hidup hanya dapat dilakukan bila pola pikir kita juga berubah sehingga motivasi kita kuat dan dapat kita lakukan secara berkesinambungan.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 35 times, 1 visits today)

REKOMENDASI