Feng Shui Islam, Adakah ?

rumah

Oleh: Ir.H.Bambang Pranggono, MBA, IAI*

Dan bukanlah suatu kebaikan bila kamu memasuki rumah dari belakang, dan sebenarnya  kebaikan itu ialah orang yang bertakwa. Dan masukilah rumah dari pintu-pintunya. Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu menang. (Q.S. Al Baqarah 2: 189)

Faktor-faktor yang diperhitungkan dalam mendesain sebuah rumah adalah kebutuhan dan keinginan penghuni, kondisi lapangan, struktur, dan peraturan setempat. Dalam budaya Cina ada faktor lain yang harus diperhatikan, yaitu feng-shui. Feng-shui adalah serangkaian pedoman supranatural dalam perencanaan bangunan. Anehnya, pedoman ini juga dipercaya oleh banyak orang Islam.

alquran muasir

Dalam feng-shui, misalnya, lokasi kapling yang tusuk-sate –mentok di ujung jalan— adalah buruk bagi penghuninya. Bentuk kapling yang ngantong –membesar ke belakang— akan mendatangkan rezeki. Letak pintu masuk yang lurus segaris pintu belakang rumah membuat rezeki hanya lewat saja. Rumah yang menghadap arah tertentu atau dekat kuburan adalah kartu mati.

Memang sebagian dari feng-shui itu bisa ditelusuri argumentasi rasionalnya, misalnya lokasi tusuk sate berbahaya ketika ada kendaraan lepas kendali akan langsung menubruk rumah. Juga angin keras akan bertiup langsung dan bisa menyebabkan penghuni rumah sakit-sakitan. Tetapi, sebagian lagi berbau musyrik ketika dikaitkan dengan nasib untung dan sial akibat desain rumah dan shio tahun Cina.

Mengapa tidak mencari pedoman dari Al Quran dan sunah saja? Seperti dalam Surat Al Baqarah (2) ayat 189 di atas. Larangan masuk dari pintu belakang bisa diterjemahkan ke dalam perencanaan site-plan kompleks pemukiman, yakni jangan ada pintu belakang, tetapi buatlah pintu depan dan samping. Dua baris kapling yang saling bertolak punggung akan menghemat sarana jalan dan selokan.

kalender

Atau surat tadi mengisyaratkan bangunan apartemen bertingkat, di mana pintu masuk masing-masing hanya dari arah lift saja, tanpa pintu belakang. Tentang arah rumah, jelas Islam menyuruh berorientasi ke kiblat.

Dari arah mana saja kamu keluar, hadapkan wajahmu ke arah Masjidil Haram.” (Q.S. Al Baqarah 2: 149)

Arah rumah dan kapling dipengaruhi oleh kemiringan permukaan tanah, lintasan matahari, arah angin, dan luas lahan yang tersedia. Namun, seharusnya perencana juga mengutamakan orientasi ke kiblat sehingga penghuninya bisa melaksanakan pesan Rasulullah saw. bahwa shalat terbaik di luar shalat lima waktu ialah yang dilaksanakan di rumah masing-masing. Artinya, setiap rumah sebaiknya punya mushala, minimal sebuah sudut yang digunakan untuk shalat sunat.

Dengan orientasi ke kiblat, posisi kamar tidur memungkinkan penghuninya mengikuti cara tidur Rasulullah saw., yakni miring ke kanan menghadap kiblat. Bila arah rumah tidak peduli kiblat, tidur penghuninya tidak bisa sesuai sunah Nabi. Bila tidak memungkinkan, orientasi kiblat harus ada, misalnya arah pemasangan keramik lantai atau jalur plafon. Begitu juga arah kloset di kakus diusahakan tidak menghadap atau membelakangi kiblat.

Doa masuk kakus adalah, Allahumma inni a’uudzubika minal khubutsi wal khobaitsi “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan jantan dan betina.”

Doai ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya kakus adalah sarang setan, jadi jangan diletakkan menempel ke kamar tidur, sebagaimana desain rumah modern. Kamar mandi dan wc di rumah kolonial malahan lebih Islami, yakni terpisah di halaman belakang dihubungkan dengan lorong. Bila bangun untuk tahajud di malam hari, penghuni terpaksa melewati udara bersih dengan embun segar yang menyehatkan dan memanjangkan usia. Rasulullah Saw. juga menyuruh memisahkan kamar anak laki-laki dari anak perempuan.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah