Menilai Makna Kemanusiaan Antara Fiqih dan Akhlak

Oleh: Yadi Saeful Hidayat*

Dalam bahasa kita, akhlak seringkali diterjemahkan sebagai bentuk sikap, moral, atau tingkah laku. Ungkapan ini digunakan, karena biasanya akhlak sering dinilai sebagai ukuran seseorang dalam bersikap dan bertingkah laku. Karena itu, dalam pembahasan kitab-kitab klasik, khususnya yang menyangkut adab, kita sering menemukan istilah akhlâq mahmûdah yang menggambarkan sikap dan tingkah laku positif seseorang dan akhlâq sayyiah yang menunjukkan sisi negatif dari perilaku seseorang. Penilaian ini memang sedikit terkesan multi-generalisasi. Artinya, ada karakteristik tertentu dan sifat-sifat khusus yang menjadi tolok ukur baik atau jeleknya akhlak seseorang. Oleh karenanya, jika ada seseorang yang tidak memiliki ciri-ciri khusus dari kedua macam akhlak tersebut, sering diasumsikan dengan kategori ketiga, yaitu hipokrit (munâfiq).

Islam melalui pengantar risalahnya, Muhammad Saw., datang mengemban sebuah misi yang hampir sama dengan misi yang dibawa oleh agama lain.  Kurang lebih 20 abad yang lalu, Islam turun dengan segala perantaranya di wilayah yang sedang mengalami disintegrasi moral (masyarakat Jahiliyah). Karena itu, hal yang wajar jika Rasulullah saw. menyatakan dalam sabda sucinya bahwa beliau diutus oleh Sang Pencipta, Allah Swt., untuk membereskan tatanan sosial masyarakat menuju moralitas yang tinggi. Inilah yang menjadi tugas utama Muhammad saw., karena etika dan moral merupakan aspek terpenting dalam sejarah perjalanan Islam.

Islam adalah agama yang membawa pembebasan dan keselamatan.” (H.R. Bukhari). Secara generik, ia merupakan agama pembawa misi kemanusiaan (rahmatan lil al ‘âlamîn). Islam hadir di muka bumi dalam rangka memberikan moralitas baru bagi transformasi sosial. Islam dikatakan sebagai sumber moral, karena karakter (khashâish) Islam yang metafisik dan humanis. Islam tidak hanya membawa ajaran yang bercorak ilâhiyyah (ketuhanan/teosentris) dalam dimensi vertikal, tetapi juga membawa ajaran yang menekankan aspek insâniyyah (kemanusiaan/antroposentris) dalam dimensi horizontal. Dalam bukunya, Al Islam Huwa al Hall, Dr. Muhammad ‘Imarah menyebut Islam sebagai ajaran yang berasal dari Tuhan dan berdimensi kemanusiaan. Atas dasar ini, Islam tak hanya membawa wahyu ketuhanan, melainkan juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 32 times, 1 visits today)

REKOMENDASI