Realita vs Idealita Ketakwaan

Oleh : Teteng Juna Rahmat *

Muslim yang paling ideal adalah muslim yang paling bertakwa. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat [49] : 13 :

iklan donasi pustaka2

…إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Takwa adalah tingkat tertinggi manusia di hadapan Allah swt. Balasannya pun adalah surga yang penuh dengan kenikmatan tiada tara.  Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Lail [92] : 17

وَسَيُجَنَّبُهَا الأتْقَى

dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,

Meskipun ayat ini memiliki sebab khusus yaitu mengenai Abu Bakar Ash-Shidiq R.A., namun lafalnya umum. Sehingga, berdasarkan kaidah ushul fiqih al ibratu bil umum al-lafdhu la bil khusus al-sabab, maka ayat ini difahami umum bahwa yang paling bertakwa yang akan dijauhkan dari neraka bukan hanya Abu Bakar Ash-Shidiq R.A, melainkan siapa saja yang orang memenuhi syarat-syarat takwa itu akan dijauhkan dari neraka. Secara kaidah, ushul fiqih fahum mukhalafah (pemahaman sebaliknya), makna dijauhkan dari neraka berarti orang yang paling bertakwa akan didekatkan ke surga.

Banyak pendapat dari para ulama mengenai definisi takwa. Namun yang banyak disetujui bahwa takwa adalah menjauhi seluruh larangan Allah dan menjalankan seluruh perintah-Nya. Inilah idealnya sikap seorang muslim sejati. Namun hal ini tidak mudah untuk dicapai. Ia tidak akan datang dengan sendirinya. Ia perlu didaki dengan kesungguhan. Ia meski ditempuh dengan perjuangan.

[irp posts=”7453" name=”Memaknai Setiap Bencana Agar Menjadi Takwa”]

Meskipun balasan untuk ketakwaan itu begitu menggiurkan, namun untuk menggapainya tidaklah semudah dan seindah yang dibayangkan. Jalan takwa tidaklah mulus dan lancar. Ia menanjak dan penuh alang rintang. Tidak semua manusia bersedia mendakinya. Dan tidak semua yang bersedia mendakinya sampai di puncaknya. Tidak ada ukuran yang pasti dari tingkat ketakwaan seseorang. Kita tidak bisa menilai bahwa si fulan adalah orang yang paling takwa, si fulan kurang bertakwa, sedang yang lainnya tidak bertakwa dengan melihat lahirnya saja, meskipun ketakwaan itu akan tercermin dari akhlaq seseorang namun yang mengetahui hakikat ketakwaan seseorang hanya Allah Swt.

Bisa saja orang yang nampak di hadapan manusia sebagai orang yang kurang amalnya, biasa saja ibadahnya, tidak ada yang spesial dari amalannya justru dialah yang paling takwa di hadapan Allah Swt. Pun juga sebaliknya, orang yang nampak giat beribadah, banyak amalnya namun dihadapan Allah Swt. mungkin dia bukanlah siapa-siapa. Tidak ada jaminan yang pasti.

Seringkali kita memvonis si fulan sebagai orang yang tidak bertakwa hanya dia tidak kelihatan banyak ibadahnya, sedikit amalannya. Dan menyanjung diri sendiri sebagai orang yang paling takwa karena kita lebih banyak amalannya dan ibadahnya dibanding orang lain. Yang demikian itu bukanlah hal yang benar. Giat memperbanyak amal ibadah adalah hal yang baik bahkan itu dianjurkan. Tetapi memvonis siapa yang paling bertakwa bukahlah tugas kita. Kita hanya diperintahkan untuk beribadah. Tidak pula untuk menilainya.

Tidak jarang, ketika kita melihat orang yang tidak pernah shalat sunah rawatib kemudian kita katakan, “ah dia itu kurang takwa, sering meninggalkan shalat sunnah.” Atau ketika mendengar rekan kita yang hanya membaca Al-Qur’an selembar sehari lalu kita katakan, “ah masa udah dewasa begitu tilawah Qur’annya hanya selembar sehari kaya anak kecil saja. Satu juz dong!”, atau juga ketika kita melihat orang tua kita yang pulang kerja sampai larut malam kemudian tidak pernah shalat tahajud lalu kita katakan, “aduh, bagaimana ini malah sibuk mencari dunia tapi melupakan akhirat.”

Memang benar, mengerjakan shalat sunnah setelah shalat wajib itu sangat dianjurkan oleh Rasulullah, bahkan keutamaannya pun luar biasa. Tidak salah bahwa membaca Al-Qur’an sebanyak-banyak itu adalah baik dan menentramkan jiwa. Sudah pula dimaklum bahwa shalat tahajud di sepertiga malam terakhir memiliki keutamaan sangat besar. Dan banyak ibadah lain yang juga disunnahkan dan memiliki keutamaan yang besar seperti sedekah, shaum sunnah, berdzikir, dan lain sebagainya.

Itulah idealita keshalehan dan ketakwaan yang sesungguhnya. Itulah takwaan yang ideal. Namun setiap orang punya kapasitas kemampuan masing-masing, yang berbeda antara satu sama lain. Boleh jadi ada di antara kita yang membaca Al-Qur,an sehari satu juz itu ringan, bahkan sanggup menambahnya sampai dua, tiga, atau lima juz perhari tapi dia lemah untuk shalat tahajud karena susah bangun. Adapula yang sanggup berdiri lama di malam hari untuk tahajud, namun kurang kuat menahan lapar untuk shaum sunnah. Boleh jadi ada yang giat mencari nafkah untuk keluarganya tapi dia sedikit membaca Al-Qur’annya. Dan seterusnya.

Allah tidaklah membebani seorang pun diantara hambanya melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Degitupun masalah ibadah

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ …

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. ... (Q.S. Al-Baqarah [2[2] 286)

Tidaklah adil jika Allah Swt menghukumi seorang hamba sebagai orang yang kurang bertakwa hanya karena seseorang itu jarang shalat malam dan sedikit membaca quran padahal ia adalah seorang pekerja keras yang bercucuran keringat mencari karunia-Nya sepanjang hari untuk menafkahi keluarganya. Sehingga ia kelelahan dan susah untuk bangun shalat tahajud. Mahasuci Allah dari hal yang demikian.

[i[irp posts=”8267" name=”Merasa Sulit Jadi Pribadi Takwa ? Coba Tinggalkan Hal Sepele Ini”]p>

Ketakwaan itu tidaklah sesuai dengan idealita orang lain. Namun ketakwaan itu sesuai dengan realita yang dihadapi oleh masing-masing. Seorang mahasiswa akan berbeda idealita ketakwaannya dengan seorang pekerja. Seorang bos perusahaan akan berbeda idealita ketakwaannya dengan karyawannya. Begitu pula idealita ketakwaan seorang ustadz tidak bisa di samakan dengan idealita seorang awam.

Kuncinya adalah husnudzan kepada orang lain jika dia kelihatan sedikit amalnya, dan kita tidak perlu merasa diri lebih takwa dari yang lain. Jika sebaliknya kita berada di posisi itu maka tidak perlu berputus asa, beribadahlah sesuai dengan realita untuk berproses menggapai idealita ketakwaan yang paling tinggi. Karena tidak ada yang dapat dicapai tanpa proses dan perjuangan.

Teruslah beribadah sesuai dengan kemampuan kita, sekecil apapun ibadah yang kita lakukan itu. Karena Allah menyukai amalan yang terus menerus berkesinambungan meskipun amalan itu sedikit. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim dalam kitab shahihnya

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Ar’arah telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’d bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Aisyah radliallahu ‘anha bahwa dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya; “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Dia menjawab; ‘Yang dikerjakan terus menerus walaupun sedikit, lalu beliau bersabda: ‘Beramallah sesuai dengan kemampuan kalian.’

Semoga Allah memberikan kita keistiqamahan untuk terus-menerus beramal shaleh dan beribadah sesuai dengan realita dan kemampuan kita masing-masing dan semoga Allah terus meningkatkan derajat ketakwaan kita sehingga bisa sampai pada idealita ketakwaan yang paling tinggi. Wallahu ‘alam.

* Penulis adalah Mahasiswa Tafsir Hadits UIN Bandung semester 4 dan Aktivis Percikan Iman angkatan 2015

Sobat MapiOnline juga dapat mengirimkan hasil karya tulis ke redaksi.  Untuk info lebih jelas klik tautan berikut ini

[irp[irp posts=”1775" name=”Takwa Hindarkan Diri Kita dari Perbuatan Sia-sia”]

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

REKOMENDASI