Memuliakan Wanita Dalam Pernikahan

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

 Masih ada sebagian orang yang yang sinis bahkan mencemooh setiap kali mendengar kata “poligami”. Hal ini mereka hanya melihat fakta yang amat disayangkan, dimana terdapat praktik-praktik yang menodai poligami yang dilakukan ‘oknum pria dan wanita’ yang memakai kedok poligami untuk menghalalkan perselingkuhan, perzinaan, mengumbar syahwat mencari kehangatan sesaat, pelarian, dan perlindungan semu. Berdalih sunah namun dalam praktiknya masih jauh dari kalimat mulia tersebut.

Berbicara mengenai poligami, takkan lengkap bila tanpa melihat praktik langsung tauladan kita bersama,yakni Rasulullah Saw. Poligami yang dicontohkan Rasulullah Saw. sangat agung,mulia, tak tercela praktik seperti beberapa kasus di atas. Dalam diri Rasulullah Saw itu terdapat teladan,seperti yang dijelaskan Allah Swt dalam firman-Nya:

Sungguh, pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan yakin akan kedatangan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.”  (QS. Al Ahzab 33: 21)

Membahas kehidupan Rasululah Saw khususnya dalam berumah tangga kiranya penting untuk diketahui akan fase (tahapan) beliau dalam menjalani hidup bersama para istrinya. Hal ini sangat penting sehingga tidak menimbulkan fitnah bahwa seolah-olah kehidupan Rasulullah sejak dewasa hingga akhir hayatnya hanya diisi dengan romantika rumah tangga. Seperti diungkapkan Abdul Wahhab Hamudah dalam Al Rasul Fi Baitih setidaknya  ada empat fase kehidupan keluarga dan rumah tangga Nabi Muhammad Saw sebagai berikut:

donasi perpustakaan masjid
  1. Fase bujangan sampai usia 25 tahun. Sejak awal tidak pernah terlibat dalam kehidupan jahiliyah, mampu menjaga kehormatan dirinya, menjadi pemuda jujur dan dapat dipercaya semua orang.
  2. Fase dengan satu istri, Khadijah binti Khuwailid, dari usia 25 sampai 50 tahun.
  3. Fase setelah Khadijah r.a. (meninggal usia 65 tahun) berpoligami ketika usia menginjak 50 sampai 60 tahun, untuk kepentingan dakwah, sosial, politik, dan kemanusiaan, bukan atas dasar kebutuhan biologis.
  4. Fase kehidupan Rasulullah saw. yang tidak menikah lagi pada masa usia 60 tahun sampai 63 tahun (wafat).

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 50 times, 1 visits today)

REKOMENDASI