Tiga Jaminan Pahala Bagi Orang yang Memelihara Anak Yatim

Oleh : Ayat Priyatna Mukhlis

Di pagi hari yang cerah, Rasulullah Saw. bersama istrinya (Aisyah r.a.) hendak melaksanakan shalat Idul Fitri di lapangan. Di jalan, mereka melihat seorang bocah murung di tengah kerumunan anak-anak yang ceria merayakan datangnya Idul Fitri. Bocah murung tersebut terlihat termenung dengan penampilan kucel dan pakaian lusuh. Rasulullah Saw. (yang tidak tega melihat bocah tersebut) mendekat seraya berkata (sambil mengusap kepala sang bocah),

alquran muasir

Wahai bocah, kenapa wajahmu tampak bersedih padahal di sekelilingmu banyak anak-anak yang begitu bahagia merayakan Idul Fitri?” Bocah tersebut diam sejenak dan meneteskan air matanya sebelum menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana diriku tak bersedih? Ketika teman-temanku bergembira ria merayakan Idul Fitri, aku tidak punya siapa-siapa. Wahai Rasulullah, aku hanyalah sebatangkara. Aku tak memiliki ibu yang dijadikan tempat mengadu. Ayahku pun sudah tiada. Hidupku tak menentu. Aku hanya mengharapkan belas kasihan Allah sebagai Tuhan pemberi rezeki. Terkadang aku tak mendapatkan makanan satu atau dua hari. Aku hanya mengharapkan uluran tangan para dermawan untuk mendapatkan sesuap makanan.”

Mendengar rintihan hati sang bocah, Rasulullah berkata sambil meneteskan air mata, “Wahai anak yang malang, maukah engkau tinggal bersama kami? Maukah engkau aku jadikan sebagai anakku? Dan maukah engkau menjadikan Ummul Mukminin sebagai ibumu?” Mendengar jawaban Rasulullah, spontan bocah tersebut berubah wajahnya menjadi berseri-seri. Harapan hidupnya sudah terbuka. Dirinya tidak merasa sendiri lagi. Bergantilah air mata sedih menjadi air mata kegembiraan.

Sebagai agama yang mengusung nilai-nilai keadilan, Islam tidak menghendaki penganutnya mengabaikan keberadaan anak yatim. Ia adalah aset umat yang harus diselamatkan dan dipelihara agar tidak menderita. Allah telah menyiapkan kemuliaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat bagi orang yang merawat anak-anak malang ini. Rasulullah Saw. pernah bersabda,

kalender

“Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim, berada di surga seperti ini (lalu beliau mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya memberi jarak keduanya.” (H.R. Bukhari, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Dalam Al-Quran, banyak sekali ayat-ayat yang menganjurkan untuk memperhatikan anak yatim. Dari mulai anjuran untuk memperlakukan dengan lembut, menyisihkan harta, mendidik, hingga merawat serta membesarkan mereka. Pada masa Rasulullah Saw, seperti yang diceritakan oleh Abu Daud, ada salah seorang sahabat yang memelihara anak yatim. Saking hati-hatinya, sahabat tersebut sampai-sampai memisahkan antara makanan dan minuman untuk keluarganya dengan makanan dan minuman untuk anak yatim yang diasuhnya karena khawatir kalau-kalau ada jatah (anak yatim) yang termakan oleh keluarganya. Jika makanan anak yatim asuhanya bersisa, dibiarkanya makanan tersebut sampai busuk karena ia takut akan ancaman Allah jika memakannya. Ia pun kemudian menghadap Rasulullah dan menanyakan masalah tersebut. Maka turunlah ayat ke-220 surat Al-Baqarah.

…Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: ‘Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’”

Ayat ini menjadi isyarat bahwa anak yatim harus diposisikan seperti halnya keluarga. Ketika anak-anak kita makan, maka ajaklah anak yatim (yang diasuh) untuk makan bersama. Mengenai larangan memakan harta anak yatim dalam Al-Quran, hal tersebut berlaku ketika kita mengasuh anak yatim yang diwarisi harta agar kita tidak mememanfaatkan harta tersebut untuk kepentingan pribadi. Inilah yang dimaksud memakan harta anak yatim secara zalim yang disebutkan Al-Quran surat An-Nisa ayat ke-10.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana jika orang yang memelihara anak yatim itu hidupnya serba kekurangan alias miskin? Dalam sebuah hadits, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah.

Ya Rasulullah, aku ini orang yang miskin, dan di rumahku tinggal bersama kami seorang anak yatim, bolehkah aku makan harta dari anak itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Makanlah dari harta anak yatim itu secukupnya, jangan berlebih-lebihan, jangan memubazirkan, jangan hartamu dicampurkan dengan harta anak yatim itu.” (H.R. Abu Daud, Nisa’i, Ahmad, dan Ibnu Majah)

Pemeliharaan dan pembinaan anak yatim bukan hanya sebatas pada hal-hal yang bersifat fisik semata, seperti makanan, minuman, dan pakaian. Pembinaan yang dilakukan juga harus memperhatikan masalah psikisnya, seperti memberikan perhatian, kasih sayang, perlakuan lemah lembut, bimbingan akhlak, dan lain sebagainya. Dalam Al-Quran, Allah Swt. berfirman,

Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (Q.S. Adh-Dhuha [93]: 9)

Dalam ayat lain ditegaskan,

Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim.” (Q.S. Al-Maa’uun [107]: 1-2)

Artinya, kewajiban memberikan kasih sayang, pengajaran sopan santun, dan segala perlakuan yang baik berbanding lurus dengan kewajiban pemberian materi. Demikianlah Islam mengajarkan kepada kita tentang etika berinteraksi dengan anak yatim.

Berbahagialah orang-orang yang di rumahnya terdapat anak yatim karena Rasulullah telah memberikan jaminan. Apa sajakah jaminan tersebut?

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment