Muslim Itu Harus Miliki Spirit ‘Iffah Dalam Bekerja

 

Oleh: Syarif Hidayat*

Di dalam Islam bekerja bukan sekedar tuntutan hidup duniawi semata, melainkan diperintahkan langsung oleh Allah dan Rasul-Nya. Di dalam al-Qur’an Allah mengatakan:

alquran muasir

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu!’ maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan kaum yang beriman. Dan kamu akan dikembalikan kepada Dzat yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan yang nyata, lalu Dia akan Memberitakan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. al-Taubah, ayat 105)

Ayat diatas menggambarkan bahwa bekerja dapat bernilai ibadah bila ditujukan untuk Allah Ta’âlâ. Hal inipun dinyatakan juga oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini:

kalender

عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ . – صحيح البخاري – (ج 5 / ص 320 رقم 1378)

Dari Zubair ibn Awwam – semoga Allah meridhainya – dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Sesungguhnya salah seorang diantara kamu membawa seutas tali lalu membawa dengannya setumpuk kayu bakar yang ia gendong diatas punggungnya, lalu ia menjualnya, yang Allah akan menutupi wajahnya (dicukupi kebutuhannya) karena pekerjaannya, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang-orang, baik itu diberi ataupun tidak.” (H.R. Bukhari)

131

Hadits ini mengisyaratkan kewajiban berikhtiar dan berusaha bagi setiap muslim dan tidak menjadi pemalas kemudian meminta belas kasihan orang lain. Pendek kata, hadits ini melarang berpangku tangan. Untuk itu, setiap muslim diharuskan menjaga harga diri dari perbuatan mengemis, karena hal itu dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Sikap memelihara reputasi diri dalam kebenaran ini yang kemudian dikenal dengan istilah ‘iffah. Orang yang mempunyai sifat ‘iffah dinamakan ‘afĭf.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah