Mari Mengambil Hikmah Dari Sejarah Untuk Masa Depan

Oleh : Teddy Efendy*

Sejarah adalah cerita (story) masa lalu, baik kejadian maupun tokoh pelaku di dalamnya, yang dibahasakan baik lisan maupun tulisan, yang bertujuan untuk memberikan gambaran peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Sejarah memang tak akan pernah terulang karena memang waktu tak akan pernah kembali. Namun, kita jangan melupakan salah satu fungsi sejarah, yaitu untuk dipelajari sehingga memberikan manfaat pada masa yang akan datang. Mengapa? Karena peristiwa-peristiwa baru tersebut terkadang memiliki pola kejadian yang identik dengan peristiwa-peristiwa yang telah berlalu. Bahkan, seorang Soekarno memberikan akronim sebagai pengingat bagi kita, “Jas-Merah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

alquran muasir

Salah satu sejarah yang paling menarik adalah kisah kehidupan Nabi Muhammad Saw. Seorang tokoh yang dianggap paling berpengaruh di dunia versi Michael H. Hart. Muhammad dianggap satu-satunya manusia yang berhasil meraih kesuksesan luar bisa, baik dilihat dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Dari sekian banyak kisah penuh hikmah yang dilalui Rasulullah, ada sebuah kisah yang ingin penulis angkat. Dalam Sirah Nabawiyyah diceritakan bahwa Muhammad saw. memiliki pengaruh besar dalam menyelesaikan kemelut yang timbul akibat perselisihan antarkabilah ketika hendak meletakkan hajar aswad.

Di literatur lain, diceritakan bahwa Muhammad saw. bertambah populer di kalangan penduduk Mekah setelah beliau mendamaikan pemuka-pemuka Quraisy dalam sengketa mereka memperbaharui bentuk Ka’bah. Pada permulaannya, mereka tampak bersatu dan bergotong-royong mengerjakan pembaharuan Ka’bah, tetapi ketika sampai pada peletakan batu hitam (hajar aswad) ke tempat asalnya, terjadilah perselisihan sengit antara pemuka-pemuka Quraisy. Mereka masing-masing merasa berhak untuk mengembalikan batu suci itu ke tampat asalnya.

Akhirnya, disepakatilah yang akan menjadi hakim adalah orang yang pertama melewati gerbang tempat mereka berkumpul. Pada saat kritis itulah Muhammad saw. datang. Setelah memahami betul hal yang diperselisihkan, Muhammad mengambil sehelai kain dan ia menghamparkannya. Hajar aswad diletakkan di tengah kain itu. Kemudian, disuruhnya tiap-tiap pemuka golongan Quraisy bersama-sama mengangkat tepi kain ke tempat asal hajar aswad. Ketika sampai di tempatnya, Muhammad meletakkan batu hitam itu di tempatnya. Dengan demikian, selesailah persengketaan itu.  Ketika peristiwa pemindahan hajar aswad ini, diceritakan adanya pertentangan antar-kabilah, adanya persepakatan La’aqat’d-Dam (‘Jilatan Darah’), dan menyerahkan putusan kepada barangsiapa mula-mula memasuki pintu Shafa, menunjukkan bahwa kekuasaan di Mekah sebenarnya sudah jatuh.

kalender

Jika dilihat dari kesepakatan kabilah yang berseteru dalam hal siapa yang paling berhak memindahkan hajar aswad, sebenarnya Muhammad bisa saja menggunakan kesempatan ini (aji mumpung) untuk melibatkan kelompoknya dalam pemindahan tersebut. Namun yang menarik, menurut Kurniawan Saefullah, adalah bagaimana seorang Muhammad Saw. bisa keluar dari kebanggan kelompoknya. Tak satu pun kerabatnya ia libatkan, bahkan semua kelompok yang berselisih ia satukan, sehingga setiap kelompok merasa terlibat (dan dilibatkan) dalam pemindahan batu suci tersebut. Hasilnya, setiap kelompok merasa puas dengan solusi Muhammad Saw ini.

Empat belas abad berlalu, semangat kesatuan yang dibawa dan diajarkan Nabi Muhammad Saw seolah telah luntur (jika tidak mau dikatakan hilang), khususnya sebagian besar pemimpin negeri ini. Mulai dari ketua senat mahasiswa, walikota, gubernur, hingga ke pemimpin republik ini. Kini, justru semangat kelompoklah yang semakin didengungkan dengan alasan demi tegaknya ideologi.

Di tingkat kampus, siapa pun ketua senat mahasiswa yang berkuasa, hampir bisa dipastikan kepala departemen atau bahkan anggota-anggota bidangnya didominasi oleh mahasiswa-mahasiswa yang se-“paham” dengan kelompok sang ketua. Kondisi lebih ekstrem ditunjukkan ketika hanya mahasiswa-mahasiswa yang se-“paham” dengan sang ketualah yang dapat eksis dalam pergerakan kemahasiswaan di kampus tersebut.

Dalam ruang lingkup yang lebih luas, yaitu kota, provinsi, hingga negara, intrik-intrik “kesepahaman ideologi” yang diwujudkan dalam anggota partai yang sama, semakin kentara. Siapa pun yang berkuasa, hampir bisa dipastikan kepala departemen atau menteri yang menjabat adalah dari partai yang sama dengan sang pemimpin. Bahkan, hampir setiap projek diserahkan pada keluarga atau klan atau juga rekan/teman yang berada dalam kelompoknya, meskipun ia tak berada dalam struktur pemerintahan tanpa memerhatikan profesionalisme dan kualitas pekerjaan.

Di sisi yang lain, keluarga/klan atau kelompok tempat anggota keluarga atau kelompoknya menjadi pemangku jabatan, merasa berhak dan layak untuk ikut serta dalam jalannya kepemimpinan tersebut, atau juga menggunakan aji mumpung, untuk mendapakan kenaikan pangkat dan jabatan, tender projek pembangungan ataupun sekadar melakukan ekspansi usaha.

Dalam hadis Tarbawi (Drs. H. Abubakar Muhammad), Bab X, tentang Pemimpin dan Jabatan, terdapat satu hadis yang memaparkan larangan meminta jabatan bagi yang tidak mampu demi keselamatannya di dunia dan akhirat kelak. Terjemahan hadis tersebut adalah sebagai berikut.

Dari Abdur Rahman bin Samurah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Ya Abdur Rahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan itu karena permintaanmu, maka kamu dibebani sepenuhnya. Dan jika kamu diberi jabatan itu tanpa permintaanmu, maka kamu dibantu mengatasinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Bahkan, demi eksistensi kelompok (dalam hal ini partai) terjadi kemajuan (jika tidak mau dikatakan kemunduran). Jika sebelumnya terdapat kompetisi antarpartai, kini menjadi koalisi antarpartai. Setiap pemimpin yang berkuasa berusaha menyusun “armada”-nya dengan komposisi yang disesuaikan dengan kekuatan partai yang ada. Semakin besar suara partai, semakin banyak kadernya yang akan “diperbantukan” sang pemimpin, begitu pula sebaliknya. Akhirnya, terbentuklah kepemimpinan yang “langgeng” karena disokong oleh “bemper politik” yang tebal dan kuat.

Jika telah terbentuk keadaan seperti ini, kewajiban kita untuk saling megingatkan dalam kebaikan menjadi bias, tercampur dengan kepentingan (kehormatan) kelompok. Lebih jauh lagi, acuan benar dan tidak bukan pada apa yang diperbuat melainkan siapa yang berbuat. Semua didasarkan pada suka dan benci terhadap kelompok, yang pada umumnya menyukai kelompok sendiri dan membenci kelompok lainnya. Padalah, Allah telah menyuruh kita untuk berbuat adil, sebagaimana firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakuadillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah : 8). Wallahu’alam [ ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan pemerhati sosial.

Editor: Iman

 

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah