“Hibah” Asapmu Sumber Penyakit Untuk Semua

asap rokok

Oleh: Eika L*

Sering sekali, penulis mendapati banyak kepulan asap rokok “bergentayangan” di sarana -sarana umum yang memang telah dialokasikan pemerintah untuk kepentingan bersama. Di kereta ataupun bus misalnya, penulis kerap menemukan banyak pria yang dengan acuh dan santai merokok di tengah padatnya penumpang. Bahkan, para perokok aktif itu tidak segan merokok meski ada anak kecil, bayi, dan lansia.

alquran muasir

Lebih miris lagi, di area pendidikan pun sering melihat banyak para pengajar juga siswa-siswanya dengan enteng menyalakan rokok, mengepulkan asap, lalu “berbagi” penyakit kepada orang-orang di sekitarnya. Sungguh sebuah pemandangan yang mengkhawatirkan mengingat area pendidikan yang semestinya dipergunakan sebagai wahana menuntut ilmu, kini bermetamorfosis menjadi ajang penghancuran moral. Bagaimana tidak? Jika para pengajar dengan acuhnya merokok di lingkungan pendidikan, pasti para pelajarnya akan meniru dengan tidak segan merokok di sembarang tempat seperti peribahasa yang mengatakan bahwa kalau guru kencing berdiri maka muridnya kencing berlari.

Padahal, rokok adalah benda komersial berbahaya yang memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Ya, asap rokok dapat menyebabkan berbagai penyakit, dari sesak napas, batuk-batuk, hingga kanker paru-paru. Tentu, hal ini disadari (meski kemudian diabaikan) oleh para perokok aktif. Yang tidak disadari (atau paling tidak kurang disadari) oleh para perokok aktif adalah asap rokok yang dihisap bukan hanya mengganggu tapi juga membahayakan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif).

Asap rokok mengandung sekitar 4.000 bahan kimia dan 43 di antaranya merupakan bahan kimia yang bersifat karsinogen (zat kimia yang menimbulkan kanker). Dari begitu banyaknya bahan kimia yang dihirup perokok aktif, hanya 15% yang menimbulkan penyakit bagi perokok aktif. Sementara sisanya (85%), dilepaskan dan dihirup oleh para perokok pasif. Dan, itulah bahayanya!

kalender

Sebagai pembunuh yang menyebabkan kematian sebanyak 427.948 jiwa per tahun di dunia, rokok pun menjadi pembunuh nomor wahid di Indonesia. Tercatat dalam data konsumen rokok sedunia, Indonesia menduduki peringkat kelima sebagai negara berpenduduk perokok aktif. Jika satu orang perokok pasif minimal membahayakan dua orang perokok pasif, bayangkan betapa banyaknya jumlah perokok pasif yang menjadi korban. Paling tidak, jumlahnya akan lebih besar dari jumlah perokok aktif itu sendiri.

Kasihan sekali nasib para perokok pasif karena beresiko terserang berbagai penyakit seperti infeksi paru dan telinga, gangguan pertumbuhan paru, atau bahkan kanker paru. Paparan asap rokok juga memberi pengaruh buruk pada pankreas sebagai regulator insulin gula, sehingga perokok pasif terancam terserang penyakit diabetes. Selain itu, jika para perokok pasif sering menghirup asap rokok, mereka akan rawan terkena infeksi karena setiap hembusan asap rokok mengandung zat yang dapat menurunkan daya tahan tubuh.

Oleh karena itulah, untuk mengamankan kesehatan dari pengaruh asap rokok, kita harus memisahkan diri kurang lebih sekitar 180 cm dari perokok aktif. Jika kita berada pada lingkungan perokok, maka disarankan menambah asupan vitamin C. Yang paling penting, kita juga harus menghindar dari arah terpaan kepulan asap rokok.

Sayangnya, banyak pihak yang tak sadar dengan status danger bagi para perokok pasif. Para perokok pasif pun banyak yang tidak sadar dengan bahaya yang tengah mengintai. Kalau sudah begini, siapa yang patut dipersalahkan? Perokok aktifkah karena telah menjadi penebar berbagai masalah kesehatan? Perokok pasifkah karena kurang begitu menyadari bahaya berada di sekitar perokok aktif? Atau, pemerintahkah karena tidak maksimal melindungi warganya yang terkesan tidak tegas dalam membuat peraturan dan menerapkan sanksi merokok di tempat umum?

Yang jelas, yang bersalah adalah orang-orang yang tidak ikut berkontribusi dalam perubahan menuju perbaikan. Tentu kita semua tidak ingin kalau lemahnya sanksi hukum atas pelanggaran aturan merokok di tempat umum, menambah parah kondisi kesehatan di Indonesia. Karena, hal itu akan berdampak bagi dinamika sosial serta kebudayaan bangsa kita. Masyarakat Indonesia akan dikenal sebagai masyarakat perokok di tempat umum dan berbudaya tidak sehat.

Jadi, bagi para perokok pasif diharapkan berhenti dari kebiasaan buruk tersebut atau paling tidak merokoklah di tempat yang sekiranya tidak membahayakan orang lain. Bagi para perokok pasif, jangan segan untuk menegur atau mengingatkan para perokok pasif agar tidak merokok sembarangan. Toh, itu untuk kebaikan bersama, bukan? Untuk itu, matikan rokok Anda atau rokok akan mematikan Anda.  [ ]

 

Penulis adalah pemerhati sosial

Editor Bahasa: Desi

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah