Mitos-Mitos Seputar Gerhana Matahari dan Sikap Seorang Muslim

 

Bagi sebagian masyarakat setiap fenomena alam seperti petir, angin besar, gempa,banjir, gunung meletus hingga gerhana matahari atau bulan selalu dikaitkan dengan mitos atau kepercayaan tertentu. Bagi masyarakat Arab jahiliyah (sebelum kedatangan Rasulullah Saw.) fenomena gerhana diyakini sebagai pertanda buruk yakni akan adanya kematian atau kelahiran anak yang tak diinginkan. Sementara bagi sebagian masyarakat Jawa zaman dulu misalnya, ada kepercayaan saat terjadi gerhana matahari, raksasa Batara Kala menelan matahari karena dendam kepada Sang Surya atau Dewa Matahari.

Namun, bukan hanya masyarakat Arab dan Jawa saja yang menganggap adanya mitos tersebut, masyarakat kerap menganggap gerhana matahari merupakan hal luar biasa yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Berbagai mitos pun menyeruak terkait seputar gerhana matahari ini. Lalu, bagaimana mitos gerhana matahari bagi penduduk bumi di belahan dunia lain? Seperti berikut rangkumannya:

alquran muasir

1. Makanan akan terkena racun

Di beberapa daerah khususnya di India sempat meyakini bahwa tidak boleh makan saat terjadi gerhana matahari. Mereka pun menghindari aktivitas memasak, menurut mereka makanan akan menjadi beracun saat gerhana matahari.

2. Ada raksasa memakan matahari

kalender

Bagi sebagian masyarakat Jawa zaman dulu misalnya, ada kepercayaan saat terjadi gerhana matahari, raksasa Batara Kala menelan matahari karena dendam kepada Sang Surya atau Dewa Matahari. Untuk itu, saat terjadi gerhana mereka suka memukul benda yang menimbulkan bunyi sehingga sang raksasa segera memuntahkan matahari.

3. Ibu hamil dilarang keluar rumah

Beberapa suku di Afrika meyakini saat terjadi gerhana matahari sang pemilik alam sedang marah, untuk itulah tandanya alam menjadi gelap. Oleh karena itu, bagi wanita yang sedang hamil dilarang keluar rumah karena nanti bayinya akan menjadi hitam atau gelap kulitnya.

4. Kemarahan dewa

Pada masyarakat Yunani Kuno, gerhana matahari dianggap sebagai tanda kemarahan dewa, serta jadi pertanda akan datang hal-hal buruk.

5. Ditelan makhluk lain

Beberapa kebudayaan di dunia mempercayai gerhana matahari terjadi ketika setan atau hewan mengonsumsi matahari. Seperti anggapan orang-orang bangsa Viking bahwa sepasang serigala langit sedang melahap matahari. Sementara itu di Vietnam, pada masa lalu orang-orang menganggap kodok memakan matahari pada saat gerhana matahari terjadi.

6. Naga sedang murka

Masyarakat China dahulu mempercayai bahwa gerhana terjadi disebabkan kemarahan seekor naga yang berukuran besar sedang murka hingga mampu melahap matahari mentah-mentah. Untuk menyelamatkannya, maka manusia di bumi kemudian membuat semacam keributan di bumi. Tujuannya adalah agar sang naga kembali memuntahkan matahari.

7. Para dewa sedang menebar racun

Bagi orang Jepang, gerhana terjadi ketika para dewa mulai menebarkan racun hitam pekat ke seluruh penjuru dunia. Saking pekatnya racun tersebut hingga langit malam pun menjadi gelap total. Masyarakat Jepang dahulu biasanya langsung mengambil tindakan serentak dengan melindungi sumur-sumur mereka. Menutupi sumber air minum tersebut dengan benda apa saja.  Sejumlah laki-laki yang memiliki nyali kemudian berjaga ditepian sumur lengkap dengan samurai hingga gerhana selesai.

8. Setan turun ke dunia

Dahulu masyarakat Prancis mempercayai bahwa saat gerhana maka setan turun ke bumi.  Dikisahkan suatu hari di Prancis salah satu rajanya yang bernama Louis (tidak dijelaskan Louis ke berapa) tewas dalam histeria dan ketakutan menyayat. Hal ini karena pada saat dia sedang tidur mendadak terbangun dalam gelap gulita, terlebih ketika melongok keluar jendela tak dijumpainya keadaan yang terang, yang ada hanya gelap. Louis lalu tewas setelah sebelumnya berteriak-teriak keras bahwa setan sebentar lagi akan turun ke dunia. Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah di balik gerhana matahari berdasarkan cerita-cerita lokal di berbagai daerah baik yang telah punah maupun masih ada hingga sekarang. Namun, seiring dengan perkembangan intelektual dan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, memunculkan sikap dan persepsi berbeda dengan orang zaman dahulu. Kita tahu teknologi yang semakin maju membuat kisah-kisah tersebut saat ini menjadi tidak masuk akal. Bagi masyarakat modern  zaman sekarang, fenomena alam gerhana matahari sudah tidak lagi dikaitkan dengan hal-hal mistik. Ilmu pengetahuan dan teknologi maju mampu menjelaskan penyebab terjadinya gerhana matahari tersebut.

Sikap seorang muslim

Sebagai orang yang beriman tentu kita meyakini bahwa fenomena terjadinya gerhana baik matahari maupun bulan adalah salah satu bentuk dan kekuasaan Allah Swt. Bagi kaum muslimin juga peristiwa terjadinya gerhana bulan total ini merupakan momen untuk semakin menyadari tentang kebesaran Allah Swt. dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagaiman hadits di atas, ketika terjadinya gerhana, Nabi menganjurkan untuk bertakbir, melaksanakan shalat sunat gerhana dan memperbanyak sedekah.

Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda:

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (H.R. Bukhari)

Dalam riwayat yang lain, bahkan kaum wanita pun dianjurkan oleh Nabi Saw. untuk melaksanakan shalat gerhana, seperti keterangan dari Asma` binti Abi Bakr berikut ini :

Saya mendatangi ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: ‘Kenapa orang-orang ini?’ Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, ‘Subhanallah (Maha Suci Allah).’ Saya bertanya: ‘Tanda (gerhana)?’ Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan ‘iya’.” (H.R. Bukhari )

(Baca juga: http://mapionline.com/utama/yuk-laksanakan-shalat-gerhana-begini-tata-caranya.html)

Sebagai salah satu bukti kebesaran Allah Swt., terjadinya gerhana sejatinya harus memunculkan sikap yang tepat sesuai dengan tuntunan Rasulullah, yaitu memperbanyak tafakkur dan dzikir seraya mengagungkan-Nya (bertakbir), melaksanakan shalat sunnat gerhana dan memperbanyak shadaqah. Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, apabila kita menyikapi gerhana sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. tersebut, maka kita akan terhindar dari bencana yang besar yakni syirik dan tahayul. [ Berbagai sumber]

 

Red: Iman

Editor: Candra

Editor Bahasa: Desi

Ilustrasi foto: Wikimedia common

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah