Kewajiban Dakwah Itu Milik Kita

dakwah

Oleh: Abdurrahim Dany Suganda *

Bagi sebagian kaum muslimin menganggap bahwa kewajiban dakwah hanyalah milik para Nabi, Rasul, ulama, kyai, ustadz atau pun para ahli agama lainnya. Seorang muslim yang tidak mempunyai gelar tersebut atau kemampuan berbicara diatas mimbar tidak ada kewajiban menyampaikan dakwah Islam. Padahal jika kita perhatikan saat ini kemunkaran dan kemaksiatan begitu massif ada di sekitar kita. Jika mengacu pada Al-Qur’an dan Hadis maka akan kita ketahui bahwa sesungguhnya kewajiban dakwah itu adalah milik semua kaum muslimin sehingga segala bentuk kemunkaran dan kemaksiatan dapat tercegah. Hal ini seperti yang  Allah Swt. firmankan :

alquran muasir

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu (Allah) dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( Q.S. An-Nahl: 125)

Ayat ini dengan jelasnya mengandung makna bahwa perintah untuk menyeru (dakwah) kepada ummat manusia menuju jalan Allah Swt. yakni dinul Islam adalah kewajiban seluruh kaum muslimin. Dengan demikian tidak ada yang saling menyerahkan dakwah ini kepada sekelompok orang saja. Selain itu, dari ayat tersebut dapat kita ambil point-point penting dalam berdakwah sehingga tidak keluar dari misi dan visi dakwah itu sendiri. Point-point itu antara lain:

1. Dakwah berorientasi menggapai ridha Allah Swt.

kalender

Dakwah itu hendaknya ditujukan untuk mendapat ridha Allah. Janganlah berdakwah karena materi atau kepentingan dunia semata. Selain itu, hendaknya jangan menjadikan dakwah sebagai sebuah pekerjaan sehingga mempertimbangkan untung rugi atau berat ringat. Jika ringan dikerjakan sementara jika berat dan beresiko lalu ditinggalkan. Akan tetapi jadikanlah dakwah sebagai kewajiban kita sebagai manusia, yang oleh Allah telah dipilih-Nya sebagai hamba yang telah diberi anugerah iman dan Islam.

2. Dakwah dilakukan dengan penuh hikmah

Maksud dari kata hikmah ini adalah dakwah berisikan ilmu pengetahuan yang mampu mengungkapkan faedahnya untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia. Misalnya, membahas hikmah di balik bencana, hikmah di balik kekayaan atau pun hikmah di balik tubuh yang sehat dan sebagainya. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa hikmah mengajak manusia menuju jalan Allah tidak terbatas pada perkataan lembut, kesabaran, ramah tamah dan lapang dada, tetapi juga tidak melakukan sesuatu melebihi ukurannya (sesuai pemahamannya). Dengan kata lain, harus menempatkan sesuatu pada tempatnya sehingga ia menjadi mengerti.

3. Dakwah hendaknya dilakukan dengan Mauidhoh Hasanah

Mauidhoh Hasanah adalah ucapan yang berisi nasihat yang baik dan bermanfaat bagi orang yang mendengarkannya, atau argumen-argumen yang memuaskan sehingga pihak audiensi dapat membenarkan apa yang disampaikan oleh subjek dakwah yang lemah lembut dan tidak menakutkan. Berikan dalam dakwah itu motivasi dalam Islam yang memberikan kebahagiaan bagi siapa saja yang akan menjadi umat Islam. Materi dakwah yang dapat menyentuh setiap hati manusia yang mengantarkan kepada kebaikan dan menginspirasi keimanan sehingga ketakwaannya akan meningkat.

4. Membantah (debat) dengan baik

Tidak selamanya sesuatu yang baik termasuk nasehat yang baik diterima dengan baik pula, maka bila dalam berdakwah ada bantahan dari kaum musyrikin, hendaknya dibantah dengan cara yang baik. Jangan menggunakan kata kata kotor, cacian, atau perkataan yang akan menyakiti mereka dan lain-lain, meski kita tahu bahwa argument mereka sesat. Ingatlah untuk senantiasa menjaga setiap perkataan yang baik dalam berdakwah sehingga kalau pun mereka belum menerima dakwah yang kita sampaikan, suatu saat bisa menerima dakwah kita.

Lalu siapa saja yang berhak mendapat dakwah dari kita? Tentu saja semua orang berhak mendapat ajakan dakwah yang kita sampaikan. Namun, jika kita bercermin atau mengacu pada pola dakwah yang dilakukan para Nabi dan Rasul maka dakwah itu hendaknya disampaikan terlebih dahulu kepada keluarga, kerabat terdekat, atau sanak saudara. Hal ini seperti yang telah Allah Swt. perintahkan dalam firman-Nya:

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (Muhammad), dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah (Muhammad): “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Asy-Syu’ara : 214-216 )

Ayat ini menunjukkan bahwa berdakwah dimulai dari keluarga. Seperti halnya yang dilakukan Rasulullah Muhammad Saw. ketika berdakwah. Beliau memulai dari keluarganya sendiri lalu kepada kerabatnya dengan sembunyi-sembunyi.  Setelah itu turunlah ayat yang memerintahkan Rasulullah Saw. untuk berdakwah secara terang terangan.Sebagaimana yang diperintahkan Allah Swt. dalam firman-Nya:

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain disamping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). “ (Q.S. Al-Hijr : 94-96)

Ayat inilah yang digunakan Rasulullah Saw. untuk berdakwah secara terang terangan kepada orang lain secara terbuka. Meski dengan cara tersebut tantangan dan rintangan dalam berdakwah juga semakin terbuka dan jelas oleh kaum kafirin bahkan taruhannya nyawa. Namun, Allah Swt. telah memberikan jaminan untuk melindungi Rasulullah Muhammad Saw. dalam setiap dakwahnya. Dengan demikian, kita menjadi paham bahwa dalam dakwah pasti ada tantangan dan rintangan yang harus dihadapi seperti yang dialami para Nabi dan Rasul terdahulu.  Namun, jika kita lakukan dengan niat ikhlas hanya mengharap ridha Allah Swt. dan dilakukan sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw., maka Allah pun akan memberikan perlindungan dan jalan kemenangan Islam.

Dalil akan kewajiban berdakwah berdasarkan Hadis Rasulullah Saw.

Selain dalil dalam Al-Qur’an seperti tersebut diatas ada beberapa hadis dari Rasulullah Saw. yang menjadi dasar kewajiban kita dalam berdakwah sehingga dapat menambah motivasi.

Dari Abdullah ibnu Amr, Bahwa Nabi SAW bersabda : “Sampaikan dariku walaupun satu ayat dan ceritakanlah tentang kaum Bani Israil karena yang demikian itu tiada dosa, Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiaplah tempatnya di Neraka”. (H.R. Bukhari)

Dalam hadis lain Rasulullah Saw. juga bersabda yang berasal dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda :

Barang siapa yang hendak mengajak kepada kebaikan maka dia akan memperoleh pahala atas perbuatan baiknya itu serta pahala orang yang mengikuti dan melaksanakan kebaikan dengan tanoa dikurangi sedikitpun. Sebaliknya bagi siapa saja yang mengajak kesesatan atau kemungkaran, maka dia mendapat dosa sebagai balasan atas perbuatannya sendiri (ditambah) dosa sebanyak dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun” (H.R. Abu Dawud, Ahmad, Nasai, Turmudzi dan Ibnu Majah)

Sementara dari Abi Sa’id Al Khudry ra. Ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Saw  bersabda : “Siapapun di antara kamu yang melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan atau kekuasaannya. Apabila tidak mampu dengan cara ini, maka hendaklah menggunakan lisannya, apabila dengan cara itu tidak mampu maka hendaklah dengan hatinya. Demikian itu (cara yang terakhir) adalah termasuk selemah-lemahnya iman” (HR Muslim)

Dari ayat dan hadis tersebut kiranya cukup untuk membuat kita menjadi siap dan kuat untuk terus dalam berdakwah. Sementara materi dakwah atau apa yang hendak kita sampaikan tentu saja apa yang sudah kita pahami, syukur sudah pula kita kerjakan sehingga ajakan (dakwah) itu bukan sekedar di lisan saja. Selain yang perlu kita pahami juga bahwa dalam berdakwah tidak boleh mengada-ada artinya dalam Islam sudah ada dan sesuai dalil yang benar (shahih). Namun, sebelum memulai berdakwah yang harus kita lakukan adalah belajar tentang Islam sehingga kelak yang kita dakwahkan itu berdasarkan ilmu bukan nafsu.

Dakwah adalah tuntunan bukan sekedar tontonan, dakwah adalah kewajiban bukan komoditas, dakwah merupakan tugas semua muslim bukanlah profesi mendatangkan materi. Selamat berdakwah dan berjuang di jalan Allah Swt . Wallahu’alam. [ ]

*Penulis adalah :

– Nara sumber Tadabbur Al-Qur’an MQTV dan tiap hari rabu jam 4 sore & (Maghrib Mengaji MQFM),

– Nara sumber Ta’lim Rutin Tadabbur Al-Qur’an di Masjid Agung Trans Studio Bandung tiap Sabtu sore jam 15.30.

 

Editor: Iman

Editor Bahasa: Desi

Ilustrasi foto: Norman

 

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: redaksi@mapionline.com.  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah