Inilah 4 Masalah Paling Rawan Peretak Rumah Tangga

Kepada pasangan suami istri, Allah Swt. berfirman,“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (Q.S. At-Tahriim [66]: 6)

Ayat tersebut seperti mengisyaratkan agar umat Islam dapat membilah keluarga sakinah, mawadah, warahmah dan meminimalisasi konflik keluarga yang dapat menimbulkan mudarat.

alquran muasir

Menurut mubaligah Hj. Lenny Umar, konflik antara suami dan istri adalah faktor peretak rumah tangga yang dapat membuyarkan harapan menggapai rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah. Memang, konflik tidak akan pernah terhindarkan dalam kehidupan berumah tangga. Namun demikian, pasangan suami istri harus cerdas menyikapi konflik yang terjadi kalau tidak mau rumah tangganya berujung pada perpisahan.

Paling tidak, Lenny memperkirakan ada empat faktor dominan yang menjadi penyebab terjadinya konflik antara suami dan istri.

Pertama, kondisi ekonomi rumah tangga. Dalam rumah tangga Islam, baik suami maupun istri harus jauh dari sikap mengeluh dan putus asa dalam kondisi apa pun, tidak terkecuali dalam menghadapi permasalahan ekonomi yang pas-pasan. Suami sebagai penanggung jawab utama dalam memberikan nafkah keluarga harus berikhtiar secara maksimal untuk mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. Istri sebagai pengelola keuangan keluarga memang perlu mengatur pengeluaran dan pendapatan secermat mungkin. Dengan hati lapang dan sabar, istri harus senantiasa menjalani kewajibannya tanpa menyimpan rasa kesal dan benci terhadap pendapatan suami. Walaupun dirasa pas-pasan, sikap istri harus senantiasa mesra dan penuh kasih sayang dalam melayani suami dan anak-anaknya.

kalender

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tapi kekayaan adalah yang ada di hati” (H.R. Bukhari Muslim)

Salah satu hakikat sabar dalam bahtera rumah tangga adalah menghilangkan keluh kesah selain kepada Allah pada saat menghadapi kekurangan istri yang salehah seyogianya selalu mensyukuri keadaan ekonomi keluarga dalam setiap doanya sebab ia tahu bahwa Allah Swt. pernah berfirman,

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (Q.S. Ibrahim [14]: 7)

Dalam sikap maupun perilaku sabar dan bersyukur yang ditunjukkan istri, sudah semestinya suami harus semakin termotivasi untuk mencari rezeki. Dalam dirinya harus muncul semangat untuk lebih giat dan lebih memaksimalkan ikhtiar menjemput rezeki dari-Nya.

Menurut Lenny, satu hal yang kerap terlupa oleh keluarga yang tengah berada dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan, ialah bersedekah. Ya, mereka kerap melupakan ibadah sosial yang satu ini dengan alasan jangankan untuk sedekah, untuk makan sehari-hari pun masih kurang. Mereka takut jika uang pas-pasan yang ada di dompet disedekahkan, lantas akan makan apa anak-anaknya hari ini?

Padahal, Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menerangkan, “Tidak ada satu hari pun yang berlalu kecuali ada dua malaikat yang turun, satu malaikat berkata, ‘Ya Allah, berilah kepada orang yang berinfak di hari ini ganti untuknya.’ Dan malaikat yang lainnya berkata, ‘Ya Allah berikanlah kerugian kepada orang yang tidak berinfak di hari ini.’” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Selanjutnya, Abu Hurairah r.a. menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. bersabda,“Sesungguhnya sedekah itu tidak pernah mengurangi harta.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kedua, perselingkuhan dan penyelewengan. Kasus ini sering dianggap sebagai faktor penyebab terjadinya konflik berkepanjangan. Jangankan sudah terjadi perselingkuhan, baru sebatas dugaan dan indikasi yang belum jelas pun kurang-kurangnya dapat memicu terjadinya konflik yang serius. Hal ini terjadi karena perselingkuhan atau dugaan perselingkuhan menyangkut hati dan kepercayaan.

Dalam Islam, perbuatan mendekati zina saja dilarang, apalagi sampai benar-benar berzina yang notabene tidak diperbolehkan oleh Allah Swt. Dalam sebuah firman-Nya, Allah Swt. memperingatkan,

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra [17]: 32)

Dari Ibnu Mas’ud r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jamaah (kaum muslimin).’” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kedua keterangan tersebut menegaskan bahwa perbuatan selingkuh (baik selingkuh mata, selingkuh perasaan dan hati, bahkan selingkuh yang mengarah kepada perbuatan zina) merupakan perbuatan tercela. Mana mungkin sebuah rumah tangga akan berisi kasih sayang, ketenangan, dan kebahagiaan yang dirahmati Allah Swt. apabila suami atau istri atau bahkan keduanya menodainya janji pernikahan dengan perselingkuhan.

Oleh sebab itu, suami maupun istri harus bernar-benar taat kepada Allah Swt. sehingga iman dan takwanya akan menjadi benteng dari perbuatan hina tersebut. Selain itu, suami istri harus senantiasa berkomunikasi untuk menguatkan tali hati dan kedekatan agar senantiasa diliputi rasa kasih sayang. Dalam keluarga sakinah, warahmah, mawadah tidak terdapat anggota keluarga yang saling mendustai, mengaplikasikan cinta semu, serta menutup-nutupi atau merahasiakan sesuatu. Setiap anggota keluarga sakinah, mawadah, warahmah senantiasa takut kepada Allah Swt. karena Dia Maha Melihat dan Mendengar.

Ketiga, keturunan. Anak memang sering menjadi penyebab terjadinya konflik suami dan istri. Tingkah laku negatif atau kenakalan anak sering membuat suami istri terlibat percekcokan dan saling menyalahkan. Hal ini tidak seharusnya terjadi jika mereka menyadari sepenuhnya bahwa tanggung jawab pendidikan perilaku anak ada di tangan kedua orangtua, bukan hanya ayah atau ibunya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanya lah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R. Bukhari)

Hadis lain menyatakan, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah”. Maka pembentukan karakter anak bergantung sepenuhnya pada kedua orangtua. Apabila anak selalu menyusahkan, segeralah sadari bahwa ayah dan ibunya telah melalaikan pengasuhan dan pendidikan islami. Bukankah anak yang saleh lahir dari orangtua yang saleh pula?

Islam mengajarkan kepada kita bahwa sesungguhnya anak itu adalah amanah yang harus dibina, dipelihara, dan dididik secara saksama dan sempurna. Setiap orangtua tentunya ingin agar anaknya menjadi insan kamil yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara. Langkah awal untuk mewujudkan hal itu adalah orangtua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.

Keempat, campur tangan pihak (keluarga) lain. Pihak lain juga dinilai dapat menjadi pemicu terjadinya konflik antara suami dan istri. Mertua dan anggota keluarga lain sering menjadi penyebab terjadinya perselisihan antara suami dan istri, terutama bila mereka hidup dalam satu atap.

Masih menurut Lenny, untuk menyelesaikan semua masalah tersebut adalah dengan bermusyawarah untuk mencapai solusi terbaik bagi seluruh anggota keluarga. Islam mengajarkan kelembutan dan ketenangan dalam menyelesaikan masalah, bukan dengan menggunakan emosi belaka.

Suami sebagai kepala dan pemimpin keluarga harus bertanggung jawab penuh atas baik buruk keluarga yang dipimpinnya. Imam rumah tangga harus mampu bersikap bijak dan adil, tidak semena-mena dalam memberikan keputusan. Antara suami dan istri harus tafahum (saling memahami), ta’awun berarti saling menolong, dan takaful (penyeimbang) dalam segala hal menyangkut ketaatan kepada Allah Swt.

Penulis:  Ahmad

Editor Bahasa: Agung

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment