Memaknai Setiap Bencana Agar Menjadi Takwa

 

 

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

 

“Apakah mereka tidak memperhatikan betapa banyaknya umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka (padahal) telah  kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi melebihi keteguhan yang Kami berikan kepadamu, dan Kami kirimkan hujan terus-menerus atas mereka, Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, lalu Kami binasakan  mereka disebabkan dosa-dosa mereka, dan Kami adakan sesudah mereka umat yang lain.” (Q.S. Al-An’aam 6 : 6).  “Dan berapa banyak negeri yang kami telah binasakan, maka datanglah kepadanya siksaan kami pada malam hari atau waktu mereka beristirahat di tengah hari.”  (Q.S. AL-A’raaf 7: 4)

alquran muasir

 

 

Memilukan, bencana merebak dimana-mana, mulai dari kekeringan, kebakaran hutan, kabut asap, curah hujan tinggi, banjir bandang, longsor, tsunami, gelombang laut tinggi, kapal-kapal karam, gelombang hawa panas, angin puting beliung, gempa, letusan gunung berapi, luapan lumpur, luapan gas dan lainnya….Singkat kata, bumi bergejolak!

 

Apa makna dibalik bencana ini? Sebab tak mungkin, ada asap bila tak ada api!  Bukan semata-mata karena erosi hutan, ekplorasi tambang, sehingga alam rusak, tetapi sebab utama adalah tingkah oknum manusia yang hidup tanpa malu mengeksploitasi alam, mengeksploitasi diri, dan mengeksploitasi sesama manusia, bersifat serakah, sombong, materialis, kapitalis, hedonis, permisif, menghalalkan segala cara. Jauh dari nilai-nilai agama dalam kehidupan keluarga, bernegara, sosial, ekonomi, budaya, dan politik.

 

Sehingga  patutlah  bencana itu datang, dan kita semua terkena imbasnya bersama-sama. Bagi orang yang beriman, makna setiap bencana adalah teguran dari AllahYang Maha Kuasa. Sang Pemilik dan Pencipta alam semesta ini, mengajak dan memperingatkan manusia untuk membuka mata hati mengambil pelajaran dan mau bertaubat, sebelum ajal menjemput.

kalender

 

Di dalam Al-Qur’an banyak bertebaran tentang kisah umat-umat terdahulu untuk berkaca diri, misalkan kaum nabi Hud yaitu kaum Aad,  nabi shaleh dengan kaum Tsamud, berikut ini:

 

“Ada pun kaum Aad, maka mereka berlaku sombong di bumi tanpa kebenaran, dan mereka berkata,  “Siapakah yang lebih kuat dari pada kami?”  dan apakah mereka tidak melihat sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka, Dia lebih hebat kekuatanNya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari ayat-ayat Kami.  Lalu Kami kirim atas mereka angin kencang yang sangat dingin pada hari-hari nahas, supaya Kami merasakan kepada mereka azab yang hina dalam kehidupan dunia.  Dan sungguh azab akhirat lebih hina, sedang mereka tidak akan ditolong.” (Q.S. Fushshilat  41 : 15-16).

 

 

Di dalam Surat Hud ayat 52, Nabi Hud mengajak kaumnya,  “Wahai kaumku!  Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras,  Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.”

 

“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shaleh.  Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia.  Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah)  dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya.  Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Q.S. 11 Hud : 61)

 

“Dan ada pun kaum Tsamud, maka Kami beri petunjuk kepada mereka tetapi mereka lebih mencintai kesesatan daripada petunjuk, lalu mereka disambar petir (sebagai) azab yang hina desebabkan apa-apa yang telah mereka perbuat. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa”.  (Q.S. Fushilat 41: 17-18)

 

Pasca bencana,  manusia akan terbagi-bagi, ada yang masih hidup terhindar dari bencana dan ada pula yang musnah tertimpa bencana. Sejatinya wallahu’alam kondisi yang bersangkutan di kehidupan dunia dan akheratnya.

 

Apabila ia beriman dan bertaqwa, maka hidup dan matinya kelak insya Allah termasuk syahid, “Dan janganlah kamu anggap mati orang yang gugur di jalan Allah, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya di beri rizki, mereka bergembira dengan karunia Allah yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, dan mereka bergembira terhadap orang-otrang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa mereka tiada merasa takut dan tidak pula mereka berduka cita. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang mukmin.” (Q.S. Ali Imran 3 : 169-171)

 

Sedangkan bersenang-senang dengan perbuatan dosa dan maksiat konsekwensinya mendatangkan azab-Nya, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami bukakan bagi mereka pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan), sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka (terdiam) berputus asa.  Maka dimusnahkanlah kaum yang zalim itu dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”  (Q.S. Al-An’am  6:  44-45)

 

Semua musibah bencana akibat ulah manusia itu sendiri, “Dan apa-apa yang menimpa kamu dari musibah, maka disebabkan usaha tanganmu, dan Dia memaafkan banyak (kesalahan-kesalahan kamu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari musibah itu ) di bumi, dan bagi kamu tidak ada pelindung dan penolong selain dari Allah.”  Q.S. Asy-syura 42: 30-31)

 

Tentunya, Allah tidak menurunkan azab untuk membinasakan sesuatu negeri melainkan sesudah Allah memberikan peringatan, “Demikianlah bahwa Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri itu secara zalim sedang penduduknya dalam keadaan lengah.” (Q.S. Al-An’aam 6 : 131).

 

Semoga kita bisa menyikapi bencana sebagai musibah membawa taubat, kembali ke jalan yang benar. Hanya Dia tempat kembali, memohon ampunan dan pertolongan. Semoga kita termasuk yang dijauhkan dari azab dunia dan akherat, Amin. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

 

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: redaksi@mapionline.com.  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah