Kenapa “Sosok Ayah” Sangat Penting bagi Seorang Anak? Ini Alasannya

MAPIONLINE .COM- Selama ini, sebagian besar masyarakat memiliki persepsi yang keliru tentang sosok seorang ayah dalam keluarga. Persepsi yang seringkali muncul dari sosok ayah adalah kepala keluarga pencari nafkah. Namun demkian, jika tugas ayah hanya mencari uang, lalu apa bedanya dengan penyantun panti asuhan?

Lalu persepsi umum lainnya ayah adalah tokoh yang galak di rumah, sedangkan ibu adalah sosok baiknya. Akibatnya, anak merasa tidak nyaman berbicara dengan ayah, dan lebih dekat dengan ibu. Padahal, ayah adalah sosok yang akan menjadi wali pernikahan nanti.

alquran muasir

Bagaimanapun, ayah memang bertanggungjawab dan berperan dalam menafkahi keluarga. Namun, ayah juga seorang hamba Tuhan yang berkewajiban menjadi pengayom dan pendidik keluarga agar anak nantinya dapat berperan sebagaimana mestinya. Ayah tidak hanya wajib mendidik anaknya agar menjadi seorang profesional, namun juga mendidik hamba Tuhan yang taqwa, menjadi suami atau istri, ayah atau ibu yang baik, dan anggota masyarakat.

Menurut  psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Hilman Almadani, sosok ayah bagi seorang anak sangatlah penting. Jika seorang anak kehilangan peran ayah, maka anak tersebut akan kehilangan rasa aman dan kehilangan kecerdasan ketangguhan (adversity quotient).

“Akibatnya, anak lebih mudah depresi, lebih rentan jadi pembully atau korban bullying, agresif, sensitif terhadap kritikan, dan lebih aktif secara seksual,” paparnya.

kalender

Hilman menambahkan, seringkali seorang ayah mengelak atau membela diri manakala tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya mendidikan anak. “Ayah kan capek kerja di luar, dimarahin bos, ditekan klien, gimana agar tetap menjadi ayah yang baik? Itulah alasan yang sering muncul sebagai pembelaan atas peran ayah,” ungkap Hilman

Energi Positif

Namun begitu, kata Hilman, kunci dalam mengatasi masalah tersebut adalah kemauan yang keras dari seorang ayah. Ia menyarankan para ayah untuk menarik energi positif yang tersimpan dalam dirinya.

“Ingat bahwa kita kerja ini untuk siapa? Kita di atas tanah ini hanya 70 tahun, tapi ikatan dengan anak kita hingga kiamat masih berlaku. Sebelum sampai rumah, tarik kembali energi positif sama seperti kita harus menarik energi untuk begadang menyelesaikan pekerjaan,” paparnya.

Cara menarik energi positif itu, lanjut Hilman, bisa dengan mengingat masa-masa indah dalam kehidupan kita sehingga jiwa kita kembali segar sebelum sampai di rumah.

Figur otoritas

Hilman menekankan, seorang ayah adalah figur otoritas yang sangat diperlukan bahkan sebelum ibu melahirkan, karena sejak dalam kandungan anak sudah mampu mendengar. Suara ayah dibutuhkan untuk dikenali, sehingga anak merasa nyaman karena ‘tahu’ ada figur otoritas bersamanya.

Peran ayah sejak bunda hamil adalah menjadi suami yang manis dan penuh energi positif. Oleh sebab itu pula, ayah harus menghadirkan diri menjadi sosok yang menyenangkan, dan mengajak ngobrol bayi.  (asc/smartparenting)

Editor Bahasa: Desi

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah